WHITE

WHITE
Vero dan Rottey.



...Sebelum mulai baca, yuk luangkan waktu untuk memberikan apresiasi kepada penulis dengan cara like, komentar, hadiah, dan juga Vote. Serta jangan lupa untuk menambahkan WHITE kedalam list favorit agar tidak ketinggalan jika cerita ini update chapter baru....


...Terima kasih....


...Happy Reading......


...•...



WHITE by: VizcaVida


Diam-diam, dia menginjakkan kaki disini, di depan sebuah rumah besar berpagar besi tinggi berwarna gelap seperti gelapnya malam yang sudah mengurung bumi, hari ini.


Dia menatap lekat, bagaimana pintu itu tertutup rapat, tidak ada seorangpun yang mungkin bisa melewati itu tanpa persetujuan dari si pemilik. Dan satu pemikiran gila tiba-tiba muncul di dalam kepalanya. Ia ingin membuat keributan didepan sana, berbuat gila yang bisa menarik perhatian si pemilik rumah untuk keluar dari sarangnya dan menegur sapa dia. Ya, cukup gila, tapi dia tidak mungkin melakukannya. Penjagaan disana cukup ketat, dan Eaden tidak bodoh dengan menyerahkan nyawa begitu saja tanpa hasil. Dia akan mati konyol di tangan para algojo yang dibayar untuk tunduk pada Rottey, jika menggores permukaan kulit laki-laki itu di rumahnya sendiri, Eaden yakin dia akan tinggal nama.


Sampai di mana, otak kanannya memerintahkan untuk mengambil ponsel, lantas memeriksa sesuatu disana. Ada nomor asing yang sebenarnya sama sekali tidak ingin ia simpan. Nomor tersebut ia dapatkan dari mengambil diam-diam pada ponsel White setelah gadis itu bercerita jika dia sedang diganggu oleh nomor tidak dikenal, saat itu.


Dia menyorot lurus nomor tersebut, lantas tanpa ragu menekan gambar telepon berwarna hijau untuk menyambungkan panggilan.


Terhubung, nomor tersebut masih aktif. Dan pada detik ke lima belas yang terpampang dilayar ponsel, seseorang bersuara di seberang.


“Halo.”


Dia hanya diam. Mencoba mengingat semirip apa suara tersebut dengan aslinya. Namun yang membuatnya cukup terkejut, yang bicara disana, bukan seorang laki-laki, melainkan seorang wanita.


Lantas Eaden mengakhiri panggilan, ia pikir salah sambung, kemudian mencari nomor lain dan berharap kalian ini dia tidak salah duga lagi. Laki-laki diseberang telepon menyebut namanya meskipun dia tidak pernah memberi tahu jika nomor ini adalah miliknya. Tidak salah lagi, tebakannya benar kali ini.


“Eaden. Kamu Eaden 'kan?”


Mengerikan. Mungkin White jauh lebih takut dari perkiraannya ketika mengetahui seperti apa kuasa Rottey.


“Ya. Ini saya.”


“Ah, ada apa menghubungiku malam-malam begini?”


Eaden mengerutkan kening. Bukankah ini sebuah kesempatan? Rottey memberi umpan, dan dia harus menangkapnya.


“Anda ada waktu? Saya ingin bertemu dan membicarakan sesuatu dengan anda.”


Eaden bukan mangsa, dia adalah sang predator. Dia akan memakan umpan, membiarkan si pemilik kail terlena, lalu menariknya ke permukaan untuk mendekat. Hingga di saat yang sudah tepat, dia akan memutar balik keadaan, dia akan memangsa orang yang telah mengusik ketenangannya.


“Tentu saja. Sudah berapa lama kita tidak bertemu, ya? Wah, ternyata selama ini Vero salah menilai keburukanmu.” ucap Rottey dengan sedikit bumbu kelakar yang sama sekali tidak diminati oleh Eaden.


Ada nada mencibir disana, tapi Eaden tidak peduli, dia hanya menyeringai tajam meskipun Rottey tidak dapat melihatnya.


“Besok sore, saya menunggu anda di taman Horizon.”


“Baiklah.”


Rottey mengakhiri panggilan. Dia kembali menyorot putranya yang kini menatapnya geram.


“Kalian ini kenapa sih? Wanita seperti itu saja di bela mati-matian, seakan-akan tidak ada wanita lain yang lebih baik saja?!” cebik Rottey pada Vero, namun tujuan ucapannya merujuk pada dua orang berbeda, yakni Vero dan Eaden. Tentu Rottey tau tujuan Eaden mengajaknya bertemu. White pasti sudah bercerita tentang apa yang dia lakukan kepada laki-laki yang menjadi musuh putranya itu.


“Papa yang membuat aku membelanya. Kenapa papa melakukan itu pada—”


“Dia menerima bayaran untuk itu. Jadi jangan hanya menyalahkan papa. Dia juga mau uang papa.”


Vero kehabisan kata-kata. Sejak kapan ayahnya itu berubah menjadi mengerikan seperti ini?


Lalu sekarang, Vero harus bagaimana? Dia masih menghargai Rottey sebagai ayahnya. Bahkan, dia masih menjunjung tinggi martabat laki-laki itu meskipun sikapnya sama sekali tidak mencerminkan sebuah kewibawaan seperti yang Vero lihat selama ini. Mengapa ayahnya berubah seperti ini? Apa yang membuatnya berbeda?


Vero mengembuskan nafas ditengah rasa jengah dan benci yang membaur. Ia menutup rapat agar emosinya tidak meledak saat ini. Dia menyayangi sang ayah.


“Pa, mengapa papa melakukan itu?”


“Sudah papa bilang, White itu tidak pantas untukmu. Dia tidak boleh berada di sisimu, hanya Kelly yang papa inginkan menjadi bagian dari keluarga Bruddy,”


“Tapi aku tidak!” sahut Vero. Sekarang. Sekarang adalah puncak emosinya menggelegak. Ayahnya menyebut nama Kelly dan semua ketenangan yang ada dalam diri Vero berubah kelam. Kenangan lama dan kebencian atas perbuatan Kelly menjadi semakin nyata didalam ingatannya.


“Papa yang ingin. Dan kamu harus mewujudkan keinginan papa. Papa tidak akan tinggal diam jika wanita murahan itu terus menerus menempel padamu!” Teriak Rottey kepada Vero. Jika semuanya menyangkut tentang White, Rottey tidak akan tinggal diam. Dia tidak peduli asalkan White tidak menjadi milik siapa pun selain dirinya. Bahkan Vero sekalipun.


“Cukup, jangan pernah menyebut White dengan sebutan itu. Papa yang membuatnya hancur, dan sekarang dengan keji papa menyebut gadis malang itu dengan sebutan wanita murahan? Papa tidak berperasaan!” bentak Vero. Ia sudah kehabisan kata dan juga kesabaran atas sikap ayahnya sendiri.


Vero, dia hanya ingin sebuah keadilan untuk White, namun dia tidak bisa menyakiti papanya sendiri.


“Kamu pikir, papa akan membiarkan White hidup tenang setelah dia mengancam akan menghancurkan hidup papa?”


Seperti dipukul keras dengan sebuah balok dan mengenai tepat di kepala, Vero menatap nanar ayahnya. Mungkin benar jika White mengancam, karena dia merasa tidak aman. Namun semua tidak akan mungkin wanita itu lakukan, White terlalu ringkih dan lemah hanya untuk menyentuh sedikit permukaan kulit Rottey.


“Mengapa papa menganggap White seperti sebuah kesalahan? Dia wanita baik, dan aku yakin dia tidak akan pernah melakukan itu kepada papa.”


Rottey tertawa, dia tidak menduga jika Vero masih dan terus membela White. “Karena dia bukan wanita baik dan pantas dibela. Papa juga muak melihat dirimu terus bersamanya. Tinggalkan dia.”


“Meskipun aku meninggalkannya, tidak akan mengembalikan kehidupan White yang sudah papa renggut tanpa perasaan.” Vero menajamkan kalimat. Dia jengah setengah mati. “Untuk itu, sampai kapanpun, White akan terus bersamaku. Jika perlu, aku yang akan mempertanggung jawabkan perbuatan papa.”


Rottey mengepalkan tangan, matanya membelalak lebar ke arah Vero. Bukan ini yang dia inginkan. Vero menjadi penghalang keinginannya untuk memiliki White seorang diri. Rottey tidak ingin siapapun menghalang-halangi keinginannya untuk menjadikan White miliknya, seutuhnya.


“Papa sendiri yang akan bertanggung jawab atas apa yang papa perbuat. Jadi kamu tidak perlu ikut campur dengan masalah ini. Papa akan menikahi White jika perlu.”


Kenapa semakin jauh? Vero tidak bermaksud mendesak papanya untuk bertanggung jawab. Dia hanya merelakan dirinya yang menanggung perbuatan ayahnya sendiri. Vero hanya ingin menutup semua keburukan ayahnya itu, tapi mengapa ayahnya terlihat ingin memiliki White?


Tolong katakan, apa yang difikirkan Vero salah?


Tidak, tidak. Tidak boleh terjadi.


Vero berdiri, sarat tidak setuju atas ucapan Rottey tergambar jelas di wajahnya yang berubah datar. Dia tidak akan membiarkan White menikah dengan ayahnya, atau dirinya sendiri yang akan menjadi mimpi buruk bagi sang ayah.


Vero memutuskan pergi tanpa pamit pada ayahnya, hal yang tidak pernah ia lakukan selama hidupnya, dan ruangan keluarga ini menjadi saksi bagaimana Vero mengabaikan ayahnya untuk pertama kali.


Dia tidak rela, jika wanita yang ia cintai tanpa syarat itu harus menjadi milik orang lain, apalagi ayahnya.


Tidak. Vero tidak akan membiarkan semua itu terwujud, setelah tau bagaimana beratnya hidup seorang White Abbey. Vero ingin menemani gadis itu sampai akhir, sampai akhir hidupnya.[]



...Hayo, pilih yang mana nih? Vero yang bisa berkata lembut dan bisa mengendalikan diri? Atau Eaden yang lebih suka bertindak?...


...🌼🌼🌼...


Mampir juga ke cerita Vi's yang lain ya...


—Vienna (Fiksi Modern)


—Another Winter (Fiksi Modern)


—Adagio (Fiksi Modern)


—Dark Autumn (Romansa Fantasi)


—Ivory (Romansa Istana)


—Green (Romansa Istana)


—Wedding Maze (Fiksi modern)


Atas perhatian dan dukungannya, Vi's ucapkan banyak terima kasih.


...See You 💕...