WHITE

WHITE
Kenyataan pahit.



...Sebelum mulai baca, yuk luangkan waktu untuk memberikan apresiasi kepada penulis dengan cara like, komentar, hadiah, dan juga Vote. Serta jangan lupa untuk menambahkan WHITE kedalam list favorit agar tidak ketinggalan jika cerita ini update chapter baru....


...Terima kasih....


...Happy Reading......


...•...



WHITE by: VizcaVida


Apa White bisa di kategorikan sebagai salah satu penyintas kekerasan seksual dan berhak menerima pembelaan dari badan kesejahteraan wanita dan anak-anak?


White sendiri ragu bisa mendapatkan keadilan jika membawa kasus ini ke rana hukum. Wanita dengan strata tak terlihat seperti dirinya, bisakah mendapatkan sebuah pembelaan atas nama hukum? Yang ada, dia hanya akan menambah malu dirinya sendiri karena membuka aib dan membiarkan orang lain tau hal buruk yang menimpa dirinya. Sedangkan Rottey, dia akan mendapat pembelaan super apik karena kebaikannya yang tak pernah luput dari sorotan media selama ini.


White sering mendengar istilah 'hukum meruncing kebawah dan tumpul keatas'. Dia takut jika harus berurusan dengan hukum setelah melihat sendiri kenyataan yang terjadi di siklus kehidupan manusia akhir-akhir ini. Harapannya pupus.


Orang-orang mungkin tidak akan mendengarkan mulut White yang berkoar meminta keadilan sebab Rottey berhasil membungkam mereka dengan uang yang dimiliki, dia hanya partikel kecil yang tak terlihat, dan tidak akan didengar.


Eaden bersedia membantunya menuntut keadilan. Jelas bisa, karena Eaden memiliki circle yang tidak main-main dengan hukum. Tapi White enggan membuat laki-laki baik itu terlibat lebih jauh karena White sudah terlalu merepotkannya. Jadi, White memilih diam dan bergerak dengan caranya sendiri untuk membalas semua ketidakadilan yang tidak pernah ia tuntut didepan umum.


Selama duduk di tepian laut berteman desir angin dan debur ombak laut tadi, Vero sudah menghubunginya beberapa kali, mengirim pesan untuk menanyakan keberadaan nya karena jam sudah menunjuk angka 12 malam dan dia tidak berada dirumah.


White sudah berjanji tidak akan pergi ke Kasino tanpa izin dari Vero, untuk itu ia memutuskan kembali kerumah yang akan membuat dirinya kembali tenggelam dalam kesakitan, lalu beristirahat dengan tenang seolah tidak terjadi apapun.


Diam, bukan berarti White tidak akan mengatakan ini kepada Vero. Dia hanya menunggu waktu yang tepat. Lalu, boom! Bom waktu akan meledak dan menghancurkan seseorang yang luar biasa ia benci.


Sesampainya di rumah, Vero menyambutnya, mencercanya dengan berbagai pertanyaan yang menambah pusing kepala White hingga rasanya ingin meledak.


“Berhenti bertanya, aku ingin istirahat.” sahut White cepat dengan nada sumbang dan ekspresi kaku serta dingin sambil menenteng sepatu flat yang ia pakai tadi untuk ia bawa masuk ke dalam kamar.


“Kamu bertemu Eaden?”


White menghentikan langkah yang hampir mencapai ruangan yang kini terasa menjijikkan. “Bukan urusanmu,”


Lalu bagaimana? Vero pusing sendiri sampai mengacak rambutnya hingga terlihat kacau.


“Jangan bertingkah seperti ini, E. Aku sudah melarangmu bertemu dengannya, tapi kamu tidak pernah mau mendengarkan aku!” kesal Vero mulai menaikkan nada bicaranya, sebab White tidak pernah mau menuruti keinginannya untuk menjauh dari Eaden.


“Vero,”


Vero cukup terkejut saat mendengar White menyebut namanya. Pasalnya, selama ini dia tidak pernah mendengar White menyebut namanya tanpa embel-embel apapun. “—aku lelah. Aku hanya ingin beristirahat dan melupakan semua yang terjadi hari ini.”


Vero terpatik. Ia berjalan cepat lalu menangkap satu lengan kurus White dalam rengkuhan jemari tangannya. “Memangnya, apa yang terjadi hari ini?!” tanya Vero tak kalah dingin. Wajahnya sudah berubah ekspresi, intonasi bicaranya pun berubah turun beberapa oktaf.


“Kamu tidak perlu tau, karena tidak patut untuk kamu dengarkan.”


Sumpah demi apapun, Vero benci White yang seperti ini. Gadis itu biasanya bersikap tenang dan wajar, bahkan terkadang berubah berisik itu, mendadak pasif dan dingin bak bongkahan es di kutub utara. Vero sangat membenci White yang dingin seperti saat ini.


“Jadi tolong, lepaskan tanganku dan biarkan aku beristirahat.”


Lalu, perdebatan itu terhenti sejenak saat denting pada ponsel White memberi tanda bahwa sebuah notifikasi masuk kedalam ponselnya. Kemudian berdenting lagi untuk kedua kali, dan berdenting lagi untuk ketiga kali.


White merasa terpanggil dan merogoh saku jaket jeans yang ia kenakan. Mengetuk layar ponselnya, kemudian menekan balon pemberitahuan untuk E-banking dan juga pesan.


E-banking memberitahukan jika ada penambahan saldo pada rekening White. Lantas senyuman miris terbit di bibir wanita itu begitu saja. “Biadab!” gumamnya tanpa ampun mengumpati seseorang yang telah mentransfer uang dengan jumlah yang cukup besar untuk menebus kehormatannya yang telah hilang.


Lalu beralih pada balon pesan, dimana ada dua pesan masuk disana. Pesan dari nomor yang selama ini tidak pernah ia beri nama, dan tentu saja menerornya.


Aku sudah mentransfer banyak uang seperti yang kamu inginkan. Jadi, kamu merasa lega sekarang?


“SHI***!!” umpat White sangat keras didepan Vero.


Temani aku jika aku membutuhkanmu. Aku akan membayar mahal untuk pelayananmu.


Hati White mencelos. Dia ingin sekali mengumpat lebih kasar dari kata yang paling kasar. Namun White menahan mati-matian karena Vero sudah menyorot dengan manik penuh telisik. Rottey benar-benar menganggapnya seperti wanita murahan yang bisa ia beli dengan uangnya.


*Seperti yang kamu inginkan, Bajinga*n*!!


Benar seperti ini 'kan? Dirinya sudah tidak ada lagi harganya, hanya uang yang berharga.


Setelah itu, White menghapus isi pesan tersebut sebelum Vero merebut paksa dan melihat isi pesan itu. Tumitnya berputar, ia tidak ingin melupakan tujuannya untuk menjauh dari Vero, agar dia tidak mengatakan hari buruknya yang terjadi karena ayah laki-laki itu. Ya, White belum mau kehilangan kepercayaan Vero, dan menganggap White membual omongan kosong karena menuduh Rottey menidurinya. Vero tidak akan percaya hal itu, dan yang bisa ia andalkan hanya Eaden. Laki-laki selalu mendengar apa yang dia katakan.


Seperti dugaannya, Vero meraih paksa ponsel White, menggeser dengan gerakan jari yang sangat kasar dan wajah berkerut berkelebat emosi. Lalu mendecak sebal karena tidak menemukan apapun.


“Kau mulai berani menyembunyikan sesuatu dari ku?”


Sejujurnya tidak ingin. Tapi White harus melakukannya, sampai pada batas waktu yang tepat.


“Ya.” jawab White singkat. Ia tidak peduli jika Vero akan mengusirnya malam ini. Dia bisa membeli apartemen baru dengan sejumlah uang yang baru saja ia terima dari Rottey.


“WHITE!!!” teriak Vero, menggelegar frustasi.


Namun tak mengindahkan laki-laki itu, White kembali memutar tumit dengan wajahnya yang sama sekali belum berubah ekspresi. Datar dan dingin.


“Berhenti atau aku yang akan memaksamu berhenti!!”


Apa yang harus White lakukan sekarang? Dia bahkan tidak bisa berbuat lebih dari pada diam. Namun semua kecamuk dalam benaknya semakin hancur kala Vero memutar paksa tubuhnya dan mempertemukan bibir mereka.


White membelalak, sebuah perasaan takut kembali menggeluti batinnya. Ia meronta, memaksa Vero melepas ciumannya karena dia merasa jijik. Bukan kepada Vero, tapi kepada dirinya sendiri yang sudah tidak lagi memiliki kehormatan. Dia bahkan merasa sentuhan bibir Vero adalah bibir Rottey yang memuakkan. Kejadian itu berubah menjadi traumah untuk White.


Lalu, ketika Vero ingin memperdalam ciuman mereka, White berhasil mendorong dada laki-laki itu. Menarik dirinya menjauh, dan mundur dengan mata bergetar takut. Tentu, White ketakutan. Ia takut kejadian yang baru tadi sore menimpanya, harus terulang kembali oleh orang yang berbeda, namun memiliki ikatan darah. Tidak, itu sama sekali tidak boleh terjadi.


Vero yang lepas dari perasaan tertegun, mencoba mengambil langkah mendekat. Namun berbeda dengan darinya, White melangkah mundur menjauh. Dia tidak ingin disentuh, dan mengambil langkah cepat setengah berlari untuk masuk kedalam kamar tamu yang sudah tidak lagi berantakan.


White terkejut bukan main. Ini salahnya, mengapa tidak membereskan semuanya sebelum ia memutuskan pergi tadi? Dia hanya ingin menghindari Vero, tapi justru semuanya menjadi berantakan.


“SIAL!!” umpatnya keras ketika menyadari seseorang telah mengetahui hal yang berusaha ia sembunyikan. Sebuah kenyataan pahit yang ingin ia kubur jauh di dalam lubuk hatinya yang kelam, lalu ia lupakan, kini sudah mencuat ke permukaan ketika dia sadar Vero sudah melihat semuanya.


White luruh dan jatuh ke lantai. Dia menangis saat ini. Tidak lagi bisa membendung rasa sakitnya yang teramat sangat.


Pintu kamar diketuk, suara lembut Vero menyapa dari balik pintu yang terkunci rapat itu.


“E, buka pintunya. Kita harus bicara.”


Suara itu terdengar sayup-sayup, yang semakin menyayat hati White.


“Aku...aku tau semuanya tidak mungkin bisa aku bayar dengan nyawaku. Tapi aku mohon, biarkan aku hidup bersamamu. I want to life with you, forever, no matter what you look like, E. I'll try my best to make you stay by my side. I love you, more than I loved my self. I want to stay with you, as your named, White, With E.” []



...🌼🌼🌼...


Mampir juga ke cerita Vi's yang lain ya...


—Vienna (Fiksi Modern)


—Another Winter (Fiksi Modern)


—Adagio (Fiksi Modern)


—Dark Autumn (Romansa Fantasi)


—Ivory (Romansa Istana)


—Green (Romansa Istana)


—Wedding Maze (Fiksi modern)


Atas perhatian dan dukungannya, Vi's ucapkan banyak terima kasih.


...See You 💕...