
...Happy Reading......
...Beri dukungan untuk White ya,...
...Terima kasih....
...•...
WHITE by: VizcaVida
Tidak. White tidak boleh sampai terus berhubungan dengan Eaden.
Sifat posesif seorang ibu mendadak kembali muncul dalam diri Jessy. Setelah bertahun-tahun tidak peduli dengan kehidupan putrinya, setelah pertemuan private nya dengan sang putri kemarin, dia mendadak menjadi orang yang harus paling memperhatikan kehidupan anak gadis satu-satunya yang ia miliki itu.
Jessy bangkit dari tidurnya yang tidak nyaman. Dengan gerakan asal dia meraih ponsel yang sebelumnya ia simpan didalam laci nakas. Mencari-cari nomor ponsel White dengan telapak tangan bergetar dan basah. Ia harus bergegas sebelum Josh kembali dari kamar mandi.
Jessy tidak bisa berbicara langsung dengan White karena Josh bisa saja mendengarnya setiap saat, atau tiba-tiba keluar dari dalam kamar mandi yang letaknya juga ada didalam ruangan tidur. Lantas Jessy menekan balon pesan, mengetik dengan sungguh-sungguh, dan mengirim satu informasi kepada White agar anak semata wayangnya itu bersedia menyudahi hubungan pertemanannya dengan Eaden. Sungguh, Jessy ingin White mengerti tujuannya untuk meminta dia berpisah dari sirkel Eaden.
Sedangkan di sisi lain, ketika White masih menikmati makan malam buatan Vero, ponselnya tiba-tiba bergetar dan menarik perhatiannya karena berasal dari sang ibu. White tersenyum manis hanya dengan mendapati ibunya yang mengirim pesan.
“Dari siapa? Mamamu?” tanya Vero pelan, ia mengiris daging panggang dengan tingkat kematangan medium nya, lalu memasukkan kedalam mulut, mengunyah perlahan sembari menautkan maniknya dengan milik White.
“Eumm.” jawab White singkat disertai sebuah anggukan mantap.
Dengan penuh semangat White menekan balon pesan. Tidak sabar ingin melihat isi teks yang dikirim sang mama untuknya. Namun sedetik kemudian semua senyuman itu sirna dari bibir White, berganti raut datar bercampur sebuah ekspresi yang tidak terbaca oleh Vero.
“Ada apa?” tanya Vero khawatir. Tidak menutup kemungkinan jika pesan lain juga masuk kedalam ponsel White, terlebih sang ayah, Rottey.
White bergeming. Dia masih menatap lekat pada layar persegi pipih di genggaman dan membiarkan udara sekitar berubah sedikit mencekam untuk dirinya seorang.
“Ada apa?” tanya Vero sekali lagi dengan nada suara lebih tinggi, memastikan jika tidak ada sesuatu yang sedang membuat White terpuruk dalam ketakutan.
Eaden juga salah satu dari komunitas jual beli manusia dan juga wanita di negara kita. Ia juga menjadi salah satu orang yang memegang poros prostitusi terselubung.
White, mama mohon, akhiri hubungan pertemanan kalian.
White yang tidak ingin percaya, menggeleng satu kali dengan tatapan nanar, namun detik selanjutnya harus dikejutkan oleh gerakan Vero yang merampas ponselnya tiba-tiba dan terkesan memaksa.
Tidak terkejut, karena Vero memang tau berita itu sejak dulu. Mantan sahabatnya itu memang memiliki hubungan erat dengan manusia-manusia tidak beradab lainnya yang tega membuat harga diri seorang wanita di perjual belikan, lalu di pandang rendah.
“Jadi, mama mu tau tentang Eaden?”
“Aku tidak sengaja cerita kepadanya. Suami baru mama bekerja untuk Eaden.”
Untuk satu informasi tentang suami Jessy, Vero cukup terkejut, tapi ia berusaha menutupi rasa keterkejutan itu dengan ekspresi yang tidak akan ia tunjukkan kepada White. Vero memilih mendengus kasar, lantas meletakkan ponsel dan mendorongnya kembali kepada si pemilik. “Maaf merebutnya paksa. Tapi, seperti mama mu, aku juga berharap kamu mau menjauhi Eaden sebelum semuanya terlambat.”
White menoleh kasar, menatap tajam pada mata Vero tanpa ampun. “Dia jauh lebih baik daripada keluargamu, Ve.”
“Ya, I Know. But reality is more than real, E. Kamu harus sadar akan hal itu.”
White memicing. Orang-orang sepertinya? Apa maksud Vero? Apa dia sedang merendahkan derajat nya sekarang?
“Jangan salah paham dengan perkataanku, karena memang begitu kenyataannya. Orang seperti dirimu tidak akan tau sirkel Eaden jika yang bersangkutan tidak memberitahu padamu karena semuanya harus rahasia.
“Eaden bukanlah orang yang bisa kamu jadikan teman bermain begitu saja. Dia memiliki lingkaran kehidupan yang tidak banyak orang ketahui. Lingkaran yang pekat, dan gelap yang tidak seharusnya kamu sentuh. Sekarang coba pikirkan lagi, apa pernah Eaden memberitahu dirimu tentang pekerjaannya?”
White menggeleng lemah. Dia sedikit kecewa dengan kenyataan yang menamparnya keras. Membawanya kembali pada sebuah kenyataan jika Eaden memanglah bukan orang yang seharusnya patut untuk ia jadikan sebagai seorang teman.
“Mungkin Eaden punya tujuan tertentu. Itulah alasanku melarangmu dekat dengannya dan memaksamu tinggal disini, yang tentu saja alasan ini juga berlaku agar papa tidak menyentuhmu lagi. Bukan karena aku tidak ingin melihatmu dekat dengan orang lain, tidak. Aku melarangmu hanya karena dia seorang Eaden.”
“Sekarang, biarkan aku berbicara dari sudut pandang ku.”
Vero diam. Meletakkan garpu dan pisau potong diatas piring, pantas menatap lurus ke arah White. “Katakan.”
“Bagiku, Eaden tidak pantas untuk dibenci atau dimusuhi. Dia orang baik dan aku merasakan itu. Merasakan ketulusannya ketika ia membantu atau memberi sesuatu kepadaku.”
Vero masih diam memperhatikan. Ia tidak ingin menyinggung White dengan cara memotong kalimat yang ia sebut pendapat itu.
“Dia memang tidak pernah memberitahuku tentang pekerjaannya, mungkin dia memiliki alasan yang tidak bisa ia sebutkan—”
“Disitulah letak ketakutan ku, E.” tukas Vero tak mau lagi menunggu. White terpaku karena Vero tiba-tiba menyela. “Aku takut dia melakukan sesuatu yang sudah pasti tidak akan kamu duga. Coba kamu lihat dari sudut pandang orang lain, kami mengkhawatirkan dirimu, E. Jangan naif melakukan pembelaan dan mengatakan Eaden laki-laki baik, hanya karena dia pernah berbuat baik kepadamu.”
White tersenyum disudut bibir, yang lebih bisa dianggap sebuah seringai. “Sebenci itukah kalian kepada Eaden?”
“Ya.” putus Vero tegas. Dia hanya ingin semuanya clear. ”Dia mungkin menganggap ku musuh, demikian juga aku, kami saling menganggap diri kita adalah seorang musuh satu sama lain yang harus bisa mendapatkan sebuah kemenangan. Terlepas dari semua kebaikan yang ia lakukan kepadamu, aku tau siapa Eaden. Dia adalah seseorang yang akan menggunakan segala trik agar orang lain bisa memberikan simpati kepadanya.”
Oh God. Kepala White tiba-tiba pusing. Mualnya juga mulai terasa mendominasi, udara seakan naik dari asam lambung. Buru-buru dia berlari ke kamar mandi, memuntahkan semua makanan yang baru saja ia masukkan kedalam mulut. Jadi, dia harus bagaimana? Percaya kepada orang-orang disekitarnya, atau Eaden yang sangat baik kepadanya selama ini?
White jatuh terduduk dibawah westafel dengan air yang masih menyala. Dia mengusap perutnya perlahan, dan seketika pening itu datang kembali. Ia meringkuk dan menyembunyikan wajahnya disana, tidak ingin menggubris ketukan lembut yang berubah menguat pada daun pintu.
Ya, diluar sana Vero sedang memintanya untuk membuka pintu. Tapi White memilih diam dan tidak ingin berbicara. Kalut kembali memenuhi setiap inci otaknya yang beberapa kali terbebas dari semua rasa cemas yang merong-rong batin. White ingin sendiri saat ini.
“E, please buka pintunya.”
Suara itu terdengar samar memohon, tapi White masih tidak ingin peduli. White ingin menjadi naif untuk kesekian kali. White ingin menjadi bodoh untuk yang entah keberapa kali, dia tidak mau mengingatnya.
“E, kamu tidak apa-apa, kan?”
White mengangkat wajahnya sedikit agar bisa menatap bilah pintu yang masih di ketuk. Seseorang berdiri diluar sana, memintanya untuk berfikir tentang pertemanan yang seharusnya segera di akhiri. Akan tetapi White ingin menolaknya. Eaden bukan sosok jahat seperti yang mereka lihat. Laki-laki itu baik, dan White dapat merasakan ketulusan dalam setiap kebaikan yang ia terima.
Oh, ayolah White. Jangan naif. Terima kenyataan, jika Eaden memang seperti itu.
Kamu harus mencaritahu dan memastikan semuanya sebelum mengambil keputusan, White.
Dua sisi dalam dirinya sedang berperang unjuk kekuatan demi memenangkan otak White. Namun, seperti yang sudah-sudah, dia harus menemukan sesuatu yang perlu ia cari. White ingin sebuah bukti nyata. Dan dia harus menemukannya melalui Eaden.
“Aku harus memastikannya sendiri padamu, Ed. Apa benar yang mereka katakan tentang dirimu karena yang selama ini aku lihat adalah ketulusan pada setiap pertolongan yang kamu berikan kepadaku.” []