
...Adegan kekerasan....
...20+...
...Diharap bijak....
...•...
WHITE by: VizcaVida
*O**key*, realistis saja. Siapa yang tidak suka melihat tubuh seksi seorang pria. Lengan berotot, dada bidang, perut memiliki lekuk persegi dengan jumlah lebih dari satu, lalu V-line yang menjurus kearah sana, terlihat begitu menantang. Katakan, siapa yang tidak terpesona.
White sendiri terkejut ketika mendapati tubuh Vero tanpa busana untuk pertama kalinya. Semua yang terjabar didalam otaknya, nyata didepan matanya beberapa menit yang lalu. Dan saat ini, Vero berada didalam kamarnya, dengan pakaian yang sudah kembali membungkus seluruh permukaan kulitnya yang putih bersih, namun pikiran White masih saja rancu dengan apa yang ia saksikan tanpa diduga, tadi.
“Aku ingin istirahat. Silahkan keluar dari sini.”
Bukannya pergi, Vero malah berkacak pinggang dan memasang wajah penuh telisik. “Dari mana? Dengan siapa? Kenapa baru pulang?”
White tidak ingin menanggapi. Dia hanya ingin tidur sebentar sebelum jam kerjanya yang tidak lama lagi akan tiba.
“E. Jawab pertanyaan ku!”
White membuang nafas kasar. Ia juga sempat meniup poninya yang jatuh didepan wajah, sangking kesalnya karena Vero mulai menginterogasi dengan sikap over protektif. Ia merasa seperti sedang di kekang dan mulai dibatasi. Padahal, selama ini, White selalu hidup bebas tanpa tuntutan apapun. Dia hidup seorang diri dan tentu saja bahagia.
“Teman. Aku hanya pergi bersama teman karena terlanjur membuat janji, yang tentu saja tidak akan aku ingkari. Aku bukan seorang pembohong.”
Vero menoleh ke kanan, ia tertawa sinis mendengar jawaban White. Lantas ia kembali mencerca White dengan pertanyaan-pertanyaan lain. “Siapa namanya, dimana tempat tinggalnya?”
“Oh astaga...” des*ah White frustasi. Dia bahkan menyugar Surai, lantas merematnya dengan bibir mengatup karena tidak menyukai perlakuan Vero yang sangat berlebihan. “Sebenarnya apa yang sedang kamu lakukan sekarang, tuan Bruddy junior. Kita tidak memiliki hubungan terikat apapun selain untuk menjamin keselamatan ku seperti yang kamu katakan.
“Tapi, mengapa sekarang kamu bertingkah, seolah aku adalah wanita yang mengkhianati kekasihnya? Kenapa kamu menggiringku untuk berfikir seperti itu?”
Vero terdiam. Apa yang dikatakan White tidak salah. Mengapa dia melakukan hal itu padahal dia ingin membuat White menyesal karena sudah membocorkan informasi miliknya, meskipun yang meminta informasi tersebut hanya ayahnya sendiri.
“Dengarkan aku, tuan Vero. Jika anda ingin mengekang hidup ku dengan dalih sebuah kesalahan, aku harap anda bisa memupuskan dendam itu dari ku. Bukan membalas dengan mengikat leherku dengan tali tidak kasat mata yang mencekik kehidupanku seperti ini.”
Vero masih saja bergeming. Dia memperhatikan lekat White yang sedang menumpahkan semua isi hatinya.
“Kita bukan siapa-siapa sebelum ini. Dan hubungan kita hanya sebatas klien di Kasino itu. Tapi mengapa anda mempersulit semua dan mencampuri kehidupanku?”
Ah, menyebalkan.
Vero mengikis jarak, berdiri tegap dengan tatapan tegas didepan White. “Lalu, kamu menginginkan sebuah hubungan?” tanyanya, tanpa mengurangi intimidasi dalam setiap kata yang diucapkan.
“Tidak.” sahut White tanpa berfikir, sebab dia memang tidak menginginkan hubungan apapun dengan sesosok pria mengerikan didepannya saat ini.
“Lalu, apa yang kamu harapkan dariku? Mengeruk uangku, lantas meninggalkan aku agar aku mengemis padamu?”
Dan pada kenyataannya memang seperti itu. Vero terjebak dengan permainannya sendiri. Kelinci yang ia anggap lemah itu telah berhasil membuat serigala seperti dirinya lengah, dan jatuh terjerembab dalam perangkapnya sendiri.
“Ya. Kamu tau dengan jelas tujuanku. Jadi, tolong lepaskan aku jika kamu tidak menyukai kenyataan itu.”
Bukannya menjauh, Vero malah meraih pinggang ramping White. Membawanya untuk menyatu dengan tubuh bagian depannya. “Bagaimana jika aku tidak mau melakukan itu?”
White diam. Dia menelisik setiap ekspresi wajah Vero yang kini hanya berjarak beberapa sentimeter dengan wajahnya.
“Biarkan aku pergi sebelum kamu menyesal, tuan muda.”
Vero melepas tubuh White dengan sedikit dorongan, lalu ia mengambil langkah mundur sambil melihat White dari ujung kaki hingga kepala. “Memang itu yang menjadi tujuanku. Tapi kamu salah, E. Aku sama sekali tidak akan menyesal. Dan perlu kamu tau, kamu tidak akan bisa menyentuhku meski dengan bantuan temanmu itu?”
White mengerutkan kening. Apa hubungannya dengan Eaden?
White yang tidak tau apapun hanya bisa berkata. “Tidak. Dia yang akan membuatmu menyesal karena sudah menahanku seperti ini.”
***
Setelah beradu argumen dan tidak menemukan titik terang, White memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah mewah Vero di jam sebelas malam. Dia tetap datang ke Kasino meskipun tidak melakukan apapun. Ia menolak semua klien yang ditawarkan madam Jo, dan memilih menghabiskan waktu menyendiri di ruang bebas bangunan bagian belakang sambil menikmati nikotin yang terasa candu di mulutnya.
White mendesa*h, mendongak menatap bentangan langit luas yang terlihat sangat tenang. Asap mengepul dari hidung dan mulutnya ketika otaknya tetap tidak mau berkompromi. “Arghhh...” geramnya tenang dengan intonasi paling rendah sembari mengetuk batang rokok di jarinya agar sisa tembakau yang terbakar itu jatuh terlepas. “Kenapa semuanya semakin memuakkan begini?” rutuknya pada diri sendiri, yang kini sibuk menatap ujung sepatu boots hitam yang membalut kakinya.
White berniat menyudahi, ia ingin kembali masuk dan tidur di ruang istirahat. Ia tidak punya tempat tinggal karena Vero sudah menyuap dan meminta pemilik kost yang ia tempati itu mengusir dan tidak lagi memperbolehkan White tinggal disana. Sial sekali bukan?
White berjalan, gontai, karena efek Wine yang sempat ia konsumsi beberapa menit yang lalu. Semua terlihat normal dan baik-baik saja sampai satu presensi mengejutkan White, membuat sepuluh jarinya mengepal kuat, ekspresinya berubah kelam, dan kedua maniknya itu terbelalak tidak percaya.
Bagaimana orang ini bisa menemukannya disini?
Dan mengapa orang ini tiba-tiba datang kemari?
Pertanyaan itu sibuk memenuhi isi kepala White hingga tanpa sadar sosok itu telah berdiri dihadapannya.
“Kamu hidup dengan baik, pakaian mahal, dan juga makan enak. Tapi lihat ayahmu, kamu menelantarkannya.”
Sial. Mengapa sekarang dunia menambah beban yang sudah tidak sanggup aku tanggung? Laki-laki ini lebih pantas hidup di neraka!
White mengucapkan sumpah serapah didalam hati ketika mendapati Frederick tiba-tiba saja ada di kasino dan dengan mudah mendapatkan akses masuk, padahal di Kasino ini begitu ketat ketika menyeleksi pengunjung. White juga sempat mengisi daftar nama yang tidak ia harapkan bisa mengunjunginya, dengan kata lain nama tersebut masuk kedalam daftar black list dan tidak akan pernah bisa memasuki kasino tanpa izin dari White pribadi. Lalu, mengapa Frederick bisa masuk leluasa begini?
White tidak mengindahkan. Cukup baginya ketika sang ayah membuat dia hidup terlunta dan memeras uang miliknya dengan dalih balas budi. Tungkai White memutar arah, memutuskan untuk pergi dalam diam agar tidak ada seorangpun yang tau jika keduanya memiliki ikatan darah. Namun semua itu urung terjadi lantaran lengan White ditarik dan disentak kuat hingga limbung dan hampir jatuh kebelakang.
Dengan manik yang berkilat emosi, White mematik pandangan pada sosok yang sangat ia benci itu. Mata laki-laki tua ini masih sama angkuhnya seperti dulu, tubuhnya yang kini mengurus tak lantas mengurangi sikap arogan pada pribadi yang dulu begitu di kagumi oleh White, bahkan menganggap laki-laki ini sebagai perisai hidup, meskipun semua angan yang ia ciptakan dengan indah itu harus berakhir menyakitkan. White menyesal.
“Dengarkan jika papamu sedang bicara!!” teriak Frederick memekakkan telinga White.
Tanpa rasa hormat sedikitpun, White menarik kasar pergelangan tangannya. Mengusap telinga dengan gelagat kesakitan, lalu tersenyum sinis kearah Frederick. “Papa? Masih bisa anda menyebut diri anda dengan nama itu didepan gadis yang sudah anda buang selama ini, tuan Frederick Abbey?”
“Anak tidak tau diri!”
Satu pukulan keras mendarat di pipi White hingga tubuhnya terdorong ke samping kanan. White tertawa miris. See, bahkan sekarang, laki-laki itu berani menyakitinya.
“Papa? Masih pantas anda disebut begitu?”
Kata-kata White mematik amarah Frederick hingga laki-laki itu gelap mata dan kembali menghujani darah dagingnya sendiri dengan pukulan keras yang seharusnya tidak pernah dilakukan oleh seorang ayah kepada anaknya.
Menyadari White yang sudah jatuh tersungkur dengan lebam dan darah di wajahnya, Frederick mengoyak tas yang sedang tergeletak di sisi White. Ia mengambil uang dan juga kartu debit yang selama ini menjadi sumber kehidupan putri semata wayangnya itu.
“Sebagai bayaran atas sikap rendahanmu pada papamu sendiri!” ucap Frederick sambil menunjukkan kartu debit dan uang didepan wajah White.
Frederick pergi setelah mengucapkan itu. Membiarkan White tergeletak menyedihkan seperti sampah di atas lantai dingin kasino.
Tidak ada lagi air mata yang ingin gadis cantik itu teteskan hanya untuk meratapi nasib buruk yang mengerikan ciptaan laki-laki jahat yang menghadirkannya kedunia. White bersumpah, meski hanya satu butir, dia tidak akan rela menangis untuk laki-laki itu. Ia terlalu sakit.
Pada sisa tenaga dan kesadaran yang ia miliki, terbesit satu nama yang ingin ia hubungi. Lantas ia merangkak untuk menggapai tas miliknya, duduk bersandar di tembok dengan nyeri disekujur tubuh, lalu mencari nama pemilik kontak yang sejak tadi muncul dalam ingatannya.
Tidak sampai nada hubung ketiga berbunyi, panggilan itu sudah di respon. Seseorang menyapa di seberang.
“Ada apa, E?”
“Ed, tolong blokir kartu ATM milikku. Aku kehilangan dan tidak tau menjatuhkannya dimana. Nomor rekeningnya, aku kirim setelah ini.”
“Okey.”
White berusaha membuka matanya yang mulai tertutup lebam, nyeri di wajahnya juga begitu menyiksa. Kemudian ia mengirim nomor rekening kepada Eaden.
Lengannya terkulai lemas. Ia lelah, lelah sekali dari kehidupan yang menderanya. White ingin menyerah, tapi terlalu takut mati. Hingga semua itu bertumpuk dan menjelma menjadi sebuah dendam. Ibunya pernah mengatakan jika dendam itu bukan perbuatan dan hal yang patut di pupuk dalam hati, tapi semua kenyataan sedang mempermainkannya. White lelah, dan memilih menjadi orang jahat dengan menyimpan sebuah dendam.
“Maafkan White, Mom.” lirihnya, lalu meringkuk karena perutnya terasa ngilu karena mendapat tendangan yang cukup kuat dari Frederick. “Dia bukan sesosok malaikat bernama ayah. Dia adalah iblis, dia adalah neraka.”[]
...🌼🌼🌼...
Jangan lupa mampir juga ke cerita Vi's yang lainnya. Antara lain:
—Vienna (Fiksi Modern)
—Another Winter (Fiksi Modern)
—Adagio (Fiksi Modern)
—Dark Autumn (Romansa Fantasi)
—Ivory (Romansa Istana)
—Green (Romansa Istana)
—Wedding Maze (Fiksi modern)
Atas perhatian dan dukungannya, Vi's ucapkan banyak terima kasih.
...See You 💕...