
"Sepertinya liftnya macet"
"Apa? Kau tidak bercanda kan?" Entah kenapa aku melihat wajah manisnya tiba-tiba saja memucat serta tercetak jelas raut khawatir yang amat kentara disana.
"Untuk apa aku berbogong?"
"Hiks"
Aku tidak salah lihat kan? Noona manis tapi galak ini mengeluarkan air mata? Ia memeluk toples chocolate cookiesnya sambil menangis.
"Hiks hiks" Ia semakin manangis kencang, aku jadi tidak tega melihatnya.
Akhirnya kuberanikan mendekat ke arahnya. "Kenapa menangis?"
"Hiks Wannie takut hiks takut ruangan sempit" oh aku tahu, jadi makhluk manis ini phobia dengan rungan sempit.
"Jangan takut ada aku disini" entah ada dorongan dari mana, aku reflek saja langsung merengkuh gadis manis yang tengah menangis ini ke dalam pelukanku. Ia sedikit terpernjat namun akhirnya membalas pelukanku dengan erat. Ia lalu kembali menangis di dadaku sekarang lebih tepatnya.
"Hay berhentilah menangis, nanti manisnya hilang loh"
"Hiks bisa-bisanya kau masih menggombal hiks"
"Aku berkata apa adanya, sudah jangan menangis" kuelus punggungnya dengan lembut berharap memberikannya ketenangan.
"Hiks tidak bisa hiks Wannie takut" Ia malah semakin mengeratkan pelukannya.
"Jadi namamu Wannie?"
Ia mengangguk pelan, "Wannie, Son Seungwannie"
"Hm nama yang bagus. Kau tidak mengenalku kan? Kalau begitu kenalkan aku Jungkook, lebih lengkapnya Jeon Jungkook tampan"
Gadis manis itu tiba-tiba saja mendongakkan kepalanya dan menatapku dengan netra berairnya.
"Jungkookie"
Deg~
Ada apa dengan jantung ini?
Panggilan itu, terasa begitu manis di telinga. Ia memanggilku dengan wajah polosnya. Kenapa sangat imuuut asdgjkhdsgjjhv.
"Ya"
"Wannie takut hiks" Ia kembali memeteskan air mata. Ku ulurkan tanganku hingga menyentuh pipi chubbynya lalu kuusap lembut buliran bening yang singgah disana.
"Sudah jangan menangis pasti ada yang akan menolong kita noona" Ia hanya diam atas perlakuanku. Entah kenapa jantungku berdetak semakin kencang apalagi pandangan kami masih saling bertemu. Kelereng indahnya seperti menghipnotisku hingga untuk berkedip saja rasanya susah.
Sungguh aneh tidak bisanya aku seperti ini dengan seorang yang baru kutemui. Tapi kali ini perasaanku berkata lain. Sepertinya detik ini juga aku sudah tidak lurus lagi karana ulah gadis manis penyuka chocolate cookies yang tengah memelukku erat.
Kusapukan telapak tanganku ke permukaan wajahnya dengan lembut. Ia kembali tidak menolak atas perlakuanku ini. Wajahku juga perlahan mendekat ke arahnya, Ia hanya diam dan kuanggap sebagai persetujuan darinya hingga jarak diantara kita sudah semakin menipis.
Chupph ( ͡°з ͡°)
Sesuai apa yang aku pikirkan sejak awal, bibirnya ternyata memang benar-benar terasa manis, membuatku ingin menikmati lebih bibir madu ini.
Kusesap rasa manis ini perlahan serta kulumat dengan hati-hati. Dan yang membuat hatiku semakin berdebar, Wannie noona membalas ciumanku. Sudah tidak terdengar isakan dari bibir yang tengah kunikmati.
Lama kita saling hanyut dalam tautan manis ini hingga tepukan di dadaku menyadarkanku jika kita telah mencapai batas dan membutuhkan yang namanya oksigen.
Kulihat wajah gadis yang telah kupeluk ini memerah hingga ke telinga, sungguh imut. Seperti buah semangka masak.
"Jungkookie kenapa menciumku?" Tanyanya dengan malu-malu.
"Entahlah noona, ada yang aneh dengan jantungku"
"Kenapa jawabannya tidak nyambung"
"Noona bibirmu rasanya seperti chocolate cookies"
"Ish aku kan tadi habis makan chocolate cookies"
"Apa noona sangat menyukainya?"
"Ya aku sangat menyukai chocolate cookies"
"Noona bolehkan aku memanggilmu noona?"
"Eum"
"Gomawo, sepertinya noona sudah tidak takut lagi?"
"Hm sebebarnya masih tapi rasa takutku akan berkurang jika ada seseorang yang memelukku seperti sekarang" benar, aku memang masih memeluk Wannie noona dan Ia pun masih memelukku erat.
"Sama-sama noona, maaf aku sudah tidak sopan tadi, maaf juga sudah menciummu"
"Tak apa, lagi pula aku juga menikmatinya" apa aku tidak salah degar? Tapi sepertinya memang benar pantas saja Wannie noona membalas ciumanku tadi.
"Tapi Kookie-" Ia malah menggantungkan kata-katanya membuatku penasaran saja.
"Iya noona"
"Kookie belum menjawab pertanyaan noona, kenapa Kookie mencium noona?"
"Haruskah kujawab?"
"Harus supaya tidak pernasaran" serunya sambil berkedip-kedip imut. Arggghh kenapa makhluk gula ini jadi semakin manis saja.
"Baiklah akan kujawab" aku mengambil nafas sejenak sebelum melanjutkan kata-kataku.
"Aku sendiri tidak tahu noona, tapi kurasa aku menyukaimu ah ani kurasa lebih dari itu. Ini aneh noona, selama ini aku selalu dekat dengan yeoja tak pernah sedikitpun terlintas di benakku jika aku akan jatuh cinta kepada yeoja yang baru kukenal, apalagi dengan waktu secepat ini. Memang dulu aku tidak percaya adanya cinta pada pandangan pertama, tapi sekarang aku percaya setelah merasakannya sendiri. Awalnya aku menganggap rasa ini bukanlah cinta. Tapi setelah kupikir memang cinta. Pas pertama kau masuk ke dalam lift ini kucoba tuk tak peduli namun tiba-tiba saja aku penasaran dengamu noona, aku bahkan memandangmu dan terus mengajakmu bicara padahal biasanya aku tidak peduli sekitar. Lalu saat aku melihatmu menangis rasanya aku tidak tega, kemudian saat aku memelukmu rasanya ingin sekali aku melindungimu dan terakhir saat kita berpandangan, jantungku hampir meledak hingga aku simpulakan jika memang benar aku telah jatuh padamu dan berakhir aku menciummu yang membuatku semakin yakin jika ini memang cinta"
Yang kuajak bicara hanya diam, dan kembali mengeratkan pelukannya. Mungkin Ia syok mendengar pernyataanku itu yang memang jujur adanya.
"Jungkookie"
"Tak usah dijawab tak apa noona aku kan tadi hanya menjawab pertanyaanmu"
"Maaf telah berbohong"
"Hah?" Berbohong apa maksudnya?
"Sebenarnya aku telah mengenal Jungkooie, aku juga telah memperhatikan Jungkookie sejak dulu. Sejak Jungkookie masih jadi trainee di agensi ayahku ini"
Jangan tanya seperti apa reaksiku mendengar ucapannya. Aku benar-benar syok. Jadi selama ini Wannie noona sudah mengenalku. Dan CEO-nim yang selama ini kupanggil tua bangka adalah ayahnya? Okke setelah ini aku akan bersimpuh dihadapannya meminta maaf.
"Aku.. aku sudah menyukai Jungkookie dari dulu tapi aku takut untuk mendekatimu, aku takut kau menolakku karena aku tahu kau menyukai yeoja cantik bukan yeoja jelek pendek sepertiku"
"Itu memang benar noona, tapi sekarang kurasa aku lebih menyukai yeoja biasa sepertimu tapi menurutku kau spesial noona, eum lebih dari cantik. Saat bersama pacar artisku, aku tak pernah merasakan perasaan yang bercampur aduk seperti saat aku bersama denganmu, rasanya aku hanya ingin main-main"
"Benarkah?"
"Yah dan aku telah jatuh pada gadis penyuka chocolate cookies yang kini tengah kupeluk"
Kurenggangkan pelukanku lalu perlahan kuangkat dagu gadis imut yang telah membuatku jatuh padanya.
Kutatap tetap di kelereng indahnya lalu kucium semua bagian wajah manisnya ini.
"Saranghae my chocolate cookies"
Chuph~
Chuph~
Chuph~
Aku terus menciumi wajahnya tanpa henti. Gemas benar-benar gemasss!!
"Ish Jungkooie hentikan geli tahu"
"Balas dulu pernyataanku baru Jungkookie akan berhenti"
"Nado Saranghae hehe"
Hatiku menghangat mendengar ucapan manis itu.
"Saranghae Wannienya Jungkook"
Chuph~
Kali ini aku kembali menciumnya tapi di bibir. ********** dengan lembut hingga tiba-tiba saja pintu lift terbuka membuat pemilik hatiku ini melepaskan tautan manis diantara kita.
"Jungkookie pintunya sudah terbuka"
"Biarlah" aku tak peduli dan kembali mencium bibir manisnya hingga membuatnya terperanjat namun tak lama kemuduan membalas juga.
*
*
*
END~