
"Oppa! Kyungsoo oppa! Jika kau tidak cepat keluar maka aku tinggal."
Keluar dari rumah mendapati sosok menyebalkan tengah menyengir seperti kuda di depan gerbang rumah merupakan pandangan biasa bagi seorang namja tampan bernama Do Kyungsoo, laki-laki yang tengah menempuh pendidikan di tahun ke tiga masa SMA. Jangan lupakan pula suara berisik milik Seungwan, teman Kyungsoo sejak masih berkulit merah hingga sekarang pun mereka tetap bersama. Dan si tampan menjadikan itu sebagai radio kekurangan sinyal, tak enak di dengar.
"Auw, Kyungie oppa! Kau semakin hari semakin ganteng saja." Tangan nakal Seungwan menyolek pipi Kyungsoo. Masih pagi sepertinya dia meminta kita kan rupanya. Kyungsoo pun tidak akan senggan memberikan jitakan itu untuknya. Sesuatu yang diberi atas dasar emosi, Kyungsoo selalu memberikan pukulan cinta.
"Berisik kau Olaf!!" Dan jitakan sayang menempel indah di jidat Seungwan "Rasain!!" serunya tersenyum puas melihat sang target mengusap jidat yang sudah ternistakan.
"Kejam!" bisik Seungwan memajukan bibirnya. Kebisaan anak itu jika kesal pasti akan cemberut. Dan itu mengundang nafsu untuk lebih menistakannya. "Auw.. Auw! Oppa sakit.." jeritnya ketika bibirnya harus dijempit diantara jari telunjuk dan jari tengah Kyungsoo.
"Jangan pasang wajah itu jika tidak ingin aku beri lebih. Kau terlihat menjijikan," ucap Kyungsoo melepaskan tarikan di bibir Seungwan. Hasilnya sang bibir itu memerah, terlihat lebih menggoda dari sebelumnya.
"Kau kenapa oppa?" tanya Seungwan ketika mendapati Kyungsoo menggeleng, ia berusaha mengenyangkan bayangan bibir memerah milik Seungwan yang terkadang membuat Kyungsoo ingin mencicipi.
Keburukan ini tentu saja tidak ada yang tahu, baik perasaan sesungguhnya terhadap sang sahabat cantik tetap menjadi rahasia.
Kyungsoo tidaklah seperti Seungwan yang secara blak-blakan menyatakan cinta terhadapnya, Ia hanya butuh proses (dan waktu).
"Aku hanya berpikir untuk memberikan mu rasa sakit yang lain." Tidak mungkin kan Kyungsoo mengungkapkan langsung, yang ada si si Olaf jelek itu menggodanya selama 24 jam full. Hih, ini masih pagi untuk menghadapi godaan dan Kyungsoo mendapati dirinya bergidik ngeri.
Rupanya si yeoja manis tidak ambil pusing dengan ucapan barusan. "Oppa, aku kira kau tak mau aku ajak melihat sakura yang sedang mekar sempurna," ucapnya melepas tautan tangan mereka. "Ayo cepat pergi, kesana!" Seungwan yang hobi membuat Kyungsoo kesal melangkah dengan cerianya. Dan Kyungsoo hanya bisa mengejar sahabat manisnya itu tanpa menyadari sang sahabat dari kecilnya itu tengah menyembunyikan air mata.
"Aku kira inilah yang terakhir jika saja Tuhan memang pelit memberi kesempatan," guman sang makhluk manis dalam hati. Disela lari kecilnya, bibir itu mengulum kepedihan, berusaha tidak membuat desahan lelah. Lantas pada akhirnya cengiran bodoh yang tercipta(sebagai kepalsuan ekspresi), Seungwan menunjukannya kepada Yoongi yang mengikuti disamping kanannya.
Sungguh yang Seungwan menjadi orang yang sangat munafik, tapi itu lebih baik daripada membuat orang lain mengkhawatirkannya.
***
Seungwan punya rencana, dia jauh-jauh hari telah menyiapkan rencananya dan setelah jam pulang sekolah ia dan Kyungsoo akan pergi ketaman dengan pohon sakura. Awalnya yang diajak menolak atas dasar hal yang sia-sia karena apabila ingin melihat sakura bermekaran maka Seungwan bisa melihatnya disepanjang jalan pulang bahkan waktu berangkat saja, mereka sudah melihatnya dan bukankah itu cukup? Seharusnya Seungwan tidak perlu meminta mendatangi taman sakura. Namun si manis tetaplah kekeuh, Ia memang pemaksa akut yang tidak mengenal kata menyerah
Seungwan merengek meminta. Lalu akhirnya Kyungsoo tidak tahan akan rengekan menjijikan yang dapat membuat telinganya tuli dalam sehari, akhirnya menyetujui ajakan tersebut. Kyungsoo menyetujui sebagai buahnya Seungwan menyengir gila sepanjang jam pelajaran (Sampai teman-temannya curiga, berpikir Seungwan sudah benar-benar gila).
"Oppa.. Kyungie oppa! Menurutmu kapan jam pelajaran selesai? Kenapa waktu sangat lambat? Oppa, aku tidak sabaran melihat bunga sakura. Ahh.. Bahkan aku berencana akan menyiummu tepat dibawah pohon sakura," oceh Seungwan membuat perempatan siku-siku semakin menyebul keluar dari pelipis Kyungsoo yang kebetulan duduk dihadapan Seungwan. Kenapa mereka berdua bisa ssekelas padahal Kyungsoo satu tahun lebih tua dari Seungwan? Hm.. Jawabannya karena dulu Seungwan merengek minta sekolah sebelum waktunya agar bisa seangkatan dengan Kyungsoo di sekolah, Ia tidak ingin jadi adik kelas.
"Berisik kau Olaf jelek!! Jika kau berniat melakukannya maka tak ada hari esok untuk mu."
"Kau kejam! Akui saja kau juga ingin itu, oppa!"
"BRISIK...!!"
Dan berakhirlah Seungwan dengan benjelon di kepala.
"Kalian akan ke taman sakura?" tanya Chen, ia duduk disamping Seungwan yang sekarang tengah tepar akibat ulahnya atau bisa juga karena pukulan telak Kyungsoo.
Kyungsoo membalikan badannya, ia menatap Chen "Si Olaf ini sungguh menyebalkan," ujarnya nampak geram.
"Jangan seperti itu , oh ya Chen oppa apa kau akan ikut? Aku harap tidak, sebab kehadiranmu pasti mengganggu kencan kami," ucap Seungwan kembali duduk di bangkunya.
Chen sendiri hanya mengernyit, memandang Seungwan jijik. "Dasar masokis"
Seungwan semakin memajukan bibirnya mendengar ejekan itu.
_____
Seungwan terdiam, raut wajahnya menunjukan kesedihan. Walau Ia telah mengambulkan permintaannya, tak ada raut bahagia terpatri dalam dirinya.
Ia tentu senang, tetapi rasa sedihnya lebih mendominasi. Dan di sisinya Seungwan ikut terdiam, pemuda itu menatap bingung temannya yang tiba-tiba terdiam. Kyungsoo sebenarnya berpikir jika sang sahabat telah dirasuki setan. Kediaman Seungwan merupakan bagian dari keajaiban dunia (yang terlupakan) memang semestinya dimasukan ke dalamnya.
Seungwan sendiri tetap diam, dia merunduk melihat kelopak sakura yang berguguran di tanah. Ia tidak memperdulikan pertanyaan Kyungsoo, ia sibuk tenggelam dalam pikirannya. Dan Seungwan saat ini tengah berpikir mengenai bagaimana ia harus memberitahu Kyungsoo tentang perobatannya di Australia.
Tidak mungkin Ia pergi begitu sajakan? Tentu ia harus memberitahukan kepada semua temannya. Tapi disini Ia tidak ingin mengatakan masalah penyakitnya, ia ingin hal lain sebagai alasan. Dan sepertinya Seungwan kebingungan soal ini.
"Oppa. Aku ingin menyampaikan sesuatu," ucap sang makhluk imut setelah lama terdiam.
"Jadi kau terdiam seperti orang gila karena ingin menyampaikan sesuatu?"
Seungwan memajukan bibirnya, membuat kerucutan disana. " Oppa kau ini bagaimana sih! Aku cerewet kau bilang gila, aku diam kau juga bilang gila."
"Kau memang gila"
"Kau menyebalkan ish!" gerutu Seungwan melipat kedua tangannya didepan dada.
"Jadi..?
"Apa..?"
"Bukannya kau ingin menyampaikan sesuatu?" tanya Kyungsoo menghela nafas, Seungwan ini bodoh atau bagaimana sih? Sabar!
"Ahh ya aku hampir lupa," seru Seungwan menggaruk kepala belakanngnya. "Aku akan pergi ke Australia," ucapnya.
Kyungsoo langsung menoleh menatap Seungwan , "Mau apa kau ke Australia?" tanyanya menatap heran.
Seungwan menyengir ria, senyum lima jari yang telihat canggung. "Sebenarnya aku tidak ingin pergi, tapi eomma meminta untuk ikut." Mulai dari sini perkataan yang terucap dari bibir Seungwan merupakan kebohongan, ia akan membual soal alasannya. "Anak dari adik ipar bibiku meninggal karena itulah kami harus kesana." Nah, Wan-ah, kau punya alasan yang bagus. Akankah Kyungsoo percaya? Dia cukup lama bersamamu, dia tahu semua tentangmu kawan.
"Kau punya kerabat disana?" Kyungsoo bertanya, ia menatap sang sahabat mencari kebohongan yang terpantul dari raut wajah Seungwan dan yang dia dapati hanya cengiran bodoh.
"Aku punya kerabat internasional." Dan cengirannya semakin berkembang.
Kyungsoo memutar bola matanya, "Aku senang mendengar kau akan pergi, aku akan merasa lebih baik." Jawaban itu telah menusuk ulu hati seorang Son Seungwan.
Rasanya perih. Apa benar jika ia pergi, Kyungsoo-nya akan merasa senang? Tentu saja bukan? Selama ini hadirnya hanya mengganggu namja tampan itu, membuat sang pemuda marah-marah.
"Kyungie oppa ada yang ingin aku tanyakan..." ucap Seungwan merunduk, menatap tanah di bawahnya.
Kyungsoo yang melihat perubahan Seungwan hanya bisa membisu, dia telah melukainya, Kyungsoo tahu itu. Dan haruskah dia meminta maaf atas ucapannya? Dia tak pernah serius, Ia hanya sedikit tsundare.
"Apa kamu mencintai ku?" tanya Seungwan mengangkat wajahnya, menatap Kyungsoo dengan raut muka sulit di jelaskan, disana terlalu banyak emosi.
Yang tetap terdiam, tidak mampu menjawab pertanyaan Seungwan. Ia belum yakin pasti apa itu cinta, tapi yang pasti Ia tidak pernah mengelak jika Ia memiliki nafsu terhadap Seungwan. Perasaanya terhadap sang sahabat manisnya ini masih lah abu-abu, dia belum sepenuhnya mengakui menyukai Seungwan, Ia belum siap menghadapi lebih lanjut rasa sukanya.
Mendapat kediaman atas pertanyaannya, Seungwan hanya mengulas senyum. "Sudahlah, jangan dipikirkan" ucapnya lembut seraya melangkah mengampiri pohon sakura, ia mengengadah, melihat bunga-bunga di atasnya. "Lebih baik menikmati bunga ini, yakan?" tanyanya.
"Ya, kau benar. Lebih baik menikmati musim semi ini" jawab Kyungsoo membuang muka, ia menatap sekitarnya, tidak pada sosok manis Seungwan.
Bersambung...
Sebagian diambil dari lirik lagu 'Last Scene-Ikimono Gakari'
Remake @Gulasagu @Bananaa97__ 🤗
#wesoo