Wendy And Boys

Wendy And Boys
After the End



________


Dua orang tengah berada di taman rumah sakit ternama yang ada di Korea. Salah satunya berdiri tegap di balik kursi roda. Pakaian putih khas seorang dokter berkibar kala angin meniupnya dengan kencang.


Kalau dipikir ini sudah memasuki musim gugur wajar saja angin tak akan senggan menaparnya dengan begitu keras dan seorang lagi duduk di kursi roda. wajahnya yang damai menatap lurus ke depan. Sorot yang penuh dengan cahaya harapan serta impian berbinar dengan sendu.


Di lain sisi taman rumah sakit ini tidak begitu memiliki pemandangan yang bagus, sejauh mata memandang hanya ada taman biasa seperti pada umumnya. Hanya saja sebagai pembeda, taman ini kebanyakan pengunjungnya pasien yang sama, suasana lelah dan penat pun cukup kental di sini.


Kedua orang itu memilih area di bawah pohon rindang, dan dari sana mereka dapat melihat seisi taman. Itu merupakan tempat yang strategis, dari sana banyak hal yang dapat mereka tangkap.


Pandangan pria yang berada dikursi roda, semakin menerawang jauh entah sampai kemana. Hari ini sama seperti sebelumnya, ia tengah mengingat hal apa yang telah ia lalui dan akan seperti apa akhir darinya.


Oh itu sesuatu yang sulit dimengerti, bagaimana ia yang tabah dan bagaimana kehidupannya yang kian terkisis masih ia pertahankan.


Tanpa sadar tangannnya bergerak ke atas, mengusap kepala yang tak memiliki mahkota lagi. Mengetahui hal itu sudut bibirnya terangkat ke atas, senyum kecil nan pilu terpampar dengan bebas.


Dulu masih ingat benar kala rambutnya yang hitam nan lebat menghias kepala, rambutnya yang orang bilang sehitam langit malam selalu ia banggakan. Sekarang semua tidak ada yang tersisa hanya ada kepala dengan kulitnya yang halus.


"Dokter, jika Tuhan memberikan sebuah permohonan apa yang akan dokter pinta?" Pemuda itu berbicara dengan orang yang berada di belakangnya.


Mereka berdua adalah pasien dengan dokternya dan sang pasien yang berucap barusan bernama Oh Sehun, ia merupakan pasien penderita kanker, dimana si pemuda telah melakukan kemoterapi yang menyebabkan ia harus kehilangan surainya dan dokter yang mengurusnya, dia bernama Son Seungwan, seorang dokter muda dengan pengalaman yang tak perlu diragukan lagi.


"Kalau aku, aku ingin memiliki kesempatan kedua. Jika aku meninggal dan jika aku dilahirkan kembali, aku ingin lebih cepat bertemu denganmu tentunya dengan kondisi yang sehat tidak seperti ini. Lemah dan buruk." Sehun tersenyum parau, pandangnnya menerawang penuh pengandaian selayaknya seorang anak perempuan yang menghayal negeri dongeng berserta pangeran tampan.


Mendengar apa yang diucapkan pasiennya, Dokter Seungwan menaikkan salah satu alisnya. Raut dokter itu terlihat bingung. Mengapa permintaan Sehun ini begitu muluk-muluk? bukankah seharusnya ia hanya perlu memohon untuk diberikan kesembuhan? Itu lebih mudah dan biasanya orang yang sakit akan berharap demikian.


"Mungkin dokter akan berpikir, mengapa saya tidak mengharapkan kesembuhan.."


"Seberapapun menyiksanya itu, sebenarnya aku menikmati apa yang tengah terjadi padaku. Tuhan sedang memberikan cobaan, dan aku pikir jika aku kuat akan cobaan ini, Tuhan pasti akan memberikan aku hadiah, akan memberikan kehidupan yang layak di kehidupan selanjutnya." Sehun berucap seraya tersenyum, matanya yang indah menyimpit membentuk bulan sabit. Benar-benar kesabaran dan keikhlasan yang tulus.


"Apa kau percaya dengan apa yang namanya kehidupan kedua? Aku percaya itu dok, dan harapku penuh dengan kebahagiaan."


Seungwan tahu jika ia tak pandai mengotrol diri, mungkin titik air akan mulai meluncur tanpa izin darinya. Selama dirinya menjadi seorang dokter, ia telah banyak menemui berbagai penderitaan dan kematian. Lantas yang ia lihat sekarang tak berbeda jauh dengan apa yang ia alami sebelumnya.


Seseorang terlahir untuk mati namun perpisahan itu, Seungwan sendiri belum terbiasa dan lagi kali ini ada yang sedikit berbeda. Orang yang duduk di kursi roda bukan sekedar pasien biasa, ah dia itu orang yang dia cinta.


Kalau diingat bagaimana yah ia bisa jatuh cinta pada pria itu. Seungwan tidak ingat dengan pasti tetapi sedut memorinya mengenang dengan tajam setiap hal yang berhubungan dengan Sehun, itu termasuk raut kesakitan dan penderitaan yang pria itu tunjukan kala ia melakukan pengobatan dan ketika itu rasanya Seungwan ingin lari meninggalkan Sehun, meminta orang lain untuk menggantikan posisinya. Dia tak tega betul dengan apa yang diderita lelaki itu.


Aah.. Benar karena itu. Seungwan mengetahui alasannya mencintai Sehun. Pria itu sangat mempesona dalam ketabahan dan wajahnya tak bisa dipungkiri jika ia tampan serta kebersamaan diantara keduanya membuat benih cinta itu tumbuh lebih tinggi dan membesar.


Seungwan mengasiani Sehun tetapi lelaki itu terlihat kuat hanya untuk sekedar dikasihani karena itu sang dokter cantik menjadi kagum karena kekutan dan ketabahan pemuda yang pada akhirnya mendatangkan rasa cinta.


Rasa cintanya itu diketahui oleh Sehun karena Seungwan tak pernah sekalipun berusaha menutupinya. Untuk Sehun sendiri ia juga suka akan Seungwan tetapi rasa itu tak bisa ia kembangkan. Perasaan itu akan berakhir sia-sia, sungguh kisah cinta yang singkat dan pilu.


Itu kenangan yang masih teringat dengan jelas bagaimana obrolan singkat mereka di sebuah taman belakang rumah sakit. Ingatan yang begitu segar seakan baru kemarin tetapi siapa yang menyangka jika setahun telah berlalu dan selama itu Sehun sudah meninggalkan rumah sakit. Pria itu sudah pergi, dia pulang kembali ke Tuhannya.


Sudahlah, tentang pria itu dan tentang cintanya, semua hanya tinggal kenangan. Seungwan membalikan badan, meninggalkan taman belakang rumah sakit itu. Cinta mudah datang dan pergi selayaknya angin dikala musim gugur.


End~


Remake @Gulasagu @Bananaa97__ 🤗


#wenhun