Wendy And Boys

Wendy And Boys
True Love (4)



Berapa ukuran bulan kemarin? Mengejapkan mata pelahan, aku kembali dari lamunanku. Mengarahkan tanganku ke atas, berusaha menggapai cayaha terang itu. Aku kira dapat membawanya dalam telapak tanganku.


Sulit sangat sulit untuk menggenggamnya, entah itu bulan atau cinta yang tengah aku pejuangkan. Semua tak semudah kisah dalam novel maupun film.


Meneteskan darah dari mulut, aku mendapati luka yang aku alami cukup parah. Orang itu tak senggan memberikan semua kekuatan dalam pukulannya.


Mengingat akan nyawaku, aku putuskan untuk kembali melangkah. Aku harus segera mengobati diriku.


Meski disini tidak ada sahabat, meski selalu saja mendapat penolakan dan olokan, aku akan tetap tinggal di suatu tempat bahkan jika mereka melempar hinaan yang begitu kejam sekalipun.


Beberapa ikatan yang terjalin dengan mereka pun banyak yang terputus, disituasi begini aku tidak bisa berbuat apapun. Aku tidak berhak atas mereka dan begitupun mereka yang memilih untuk menjauh.


Mengingat semua tentang mereka yang menghinaku. Tanpa sadar air mataku mulai mengalir. Kesedihan ini harusnya membuatku melangkah lebih maju, namun berapa kali aku harus terluka sebelum bisa melupakan rasa sakit?


Aku harus menjadi lebih kuat lagi karena aku tahu seseorang itu tengah menungguku, meminta pelindungaku, dan aku berjanji akan selalu ada untuknya.


...


"Aku pulang~" seru ku saat memasuki apartemen tempat sekarang aku tinggal.


"Selamat datang~" saut seseorang yang tinggal bersamaku.


Memang benar aku tinggal bersama kekasihku, sudah empat tahun lamanya.


Kekasihku, Son Seungwan dengan langkah yang terburu menghampiriku. Matanya mendelik, ia menatapku dengan raut aneh yang tidak bisa aku ungkapkan lebih jelas, yang pasti dia terlihat khawatir.


"Ada apa dengan mu? Apa-apaan semua luka itu? Kau berkelahi?" tanyanya memegang daguku.


"Lihat bibirmu terkoyak sangat parah."


Ahh, ternyata bibirku juga terluka toh, tapi itu tak seberapa dibandingkan nyeri di perutku.


"Bukan sesuatu yang penting sayang," ucapku menyingkirkan tangannya dari daguku.


Seungwan, kekasihku menatap nyalak diriku. Air mukanya terlihat marah. Apa aku salah mengucapkan kata? Aku menyulut subu apinya.


"Bagaimana kau berkata bukan hal yang penting ketika luka memenuhi dirimu? Apa kau *****? atau kau mulai tak waras?"


Aku memutar bola mataku, aku tak ingin ribut dengan dia. Aku putuskan melangkah melewati dia dan ia mengikuti ku sembari melemparkan beberapa kata kasar lainnya.


Pada akhirnya kau yang mengajak ribut, masih peduli akan diriku. Dengan telaten kau obati luka yang aku dapatkan.


Sekarang aku dan Seungwan ku tengah berada diruang santai. Kami disana untuk memberikan beberapa antiseptik pada luka ku.


"Aish.. bisa kau pelankan tidak? Ini perih tau!" ucapku mengeluh saat Kei menekan kapas terlalu keras diatas luka.


Bukannya lebih hati-hati, Seungwan malah semakin menekannya. Dia sebenarnya ingin mengobati atau membuat parah lukanya? Dasar makhluk kasar.


"Kau berniat mencuri apa hingga berakhir begini?"


Mendengar apa yang dia ucapkan, sudut siku-siku di dahiku menyembul keluar. Ugh.. beraninya dia mengatakan aku pencuri.


"Sayang!"


Dan sebagai balasan dari ucapan mulutnya yang pedas, aku mencubit pelan pahanya.


"Kalau bukan mencuri, lalu apa yang kau lakukan?"


"Aku dipukuli ayahku saat bilang akan menikahimu, beliau marah besar karena mengetahui kami tengah hamil. " ujarku apa adanya. "Sayang apa kau tak apa?" tanyaku ketika mendapati kediaman dari kekasihku.


"Uh maaf, Tae, Kau tadi bilang apa?" tanyanya memastikan kembali apa yang aku ucapkan.


"Aku bilang, aku pulang ke rumah untuk memberikan info aku yang akan menikahimu." seruku menekan setiap kalimat yang aku lontarkan.


"Kau gila Kim Taehyung!" Seungwan menatapku tidak percaya.


"Kau mau kenapa sayang?" tanyaku ketika melihat ia bangkit dari duduknya.


"Aku tidak mau berbicara dengan orang gila seperti mu."


"Hei siapa yang gila?"


Dengan cepat aku meraih tangannya, menarik kembali dia agar duduk dan usaha ku berhasil, Seungwan duduk kembali ke posisi awal.


"Aku akan menikahimu, aku akan mengikatmu untuk menjadi milik ku selamanya." seruku membawanya dalam pelukanku.


"Aku sangat mencintai mu, sayang" bisikku dekat telinganya. Aku rasakan Seungwan bergidik tan nyaman akibat bisikan ku.


"Terima kasih, Tae" gumannya mulai melingkarkan tangannya di pinggangku, memeluk kembali diriku. "Aku juga mencintaimu" ucapnya kemudian.


"Sayang. Aku punya sesuatu untuk mu."


Aku hampir lupa benda penting yang sendari tadi aku bawa disaku celana ku.


"Uhm apa itu?"


Seungwan melepaskan pelukan kami, dia menatapku penasaran.


Aku merogoh saku celana, mengeluarkan benda kotak berudu dari saku celana. Aku membukanya lalu memberikannya pada Seungwan.


"Bagus bukan?" tanyaku memastikan benda yang aku berikan akan Seungwan sukai.


Seungwan mengernyitkan dahinya, "Kau melamarku untuk kedua kalinya?" tanyanya menatap bingung.


"Anggap saja begitu," seruku memamerkan sederet gigi putih rapi kepunyaanku.


"Dasar gila, " ujarnya kembali memelukku. "Tapi terima kasih atas cincinya, Kim Taehyung."


"Sama-sama sayang"


Aku mencium pucak kepalanya. Rasanya sangat bahagia ketika mendapati orang yang dicinta berada didekapan kita.


Aku berjanji tidak akan pernah mengecewakan kamu. Tidak akan pernah selama aku hidup.


Biarpun dunia menentang kita, mari jalani dengan senyuman. Aku yang akan selalu membagi cintaku hanya untuk mu seorang.


Untuk Son Seungwan, kekasihku tersayang. Ah tidak, bukankah sekarang menjadi Kim Seungwan.


_END_


Remake @Gulasagu @Bananaa97__ 🤗


#wenv