Wendy And Boys

Wendy And Boys
Mimpi (2)



"Ada apa noona? Mengapa kau menatapku begitu? Apa kau mau pelukan hangat dari ku?"


Sosok itu merentangkan kedua tangannya, berharap Seungwan akan menghambur dalam pelukannya.


"Dulu kau sangat suka pulakan ku. Kau bahkan berkata merasa damai setiap kali aku memeluk mu." ucapnya lagi seraya tersenyuman konyol.


Seungwan kembali melangkah memasuki taman disertai senyum miring yang terpatri di wajahnya. Tujuannya hanya satu, berjalan ke bangku taman yang tak jauh dari tempatnya berada. Ia ingin duduk sejenak disana.


Sambil melangkah pikirannya kembali mengulas tentang kenangan masa lalu. Ucapan sosok itu telah mempengaruhinya, dan untuk sekali lagi Seungwan ingin mengenang.


Tentang dulu...


Sosok itu mengatakan pelukan darinya membuat ia merasa damai, lalu apa benar begitu?


Entahlah kalau soal mengenang, Ia hanya mengingat pemberontakan yang selalu saja ia lakukan kala sosok itu memeluknya. Ia tidak pernah menyukai ketika seseorang memeluknya. Walaupun demikian, ia tidak akan membatah jika sosok itu berkata bahwa pelukannya terasa nyaman.


Yah, Seungwan ingat.


Dulu dirinya akan terlelap dalam pelukan sosok itu. Akan selalu terlelap menikmati belaian dan pelukan hangat yang menenangkan.


Seungwan duduk di kursi taman, sedangkan sosok yang mengikuti berdiri di depannya.


Keheningan menyelimuti keduanya dan berlangsung lama.


Si manis yang memilih menunduk, sosok itu yang menatap dengan sorot mata yang sulit diartikan.


Menyerah akan keheningan, sosok itu melangkah lebih dekat, bahkan dia berjongkok di depan.


"Kau boleh saja menganggap ku ilusi atau apapun tapi, tidak kah kau mau menikmati kehadiran ku?" Sosok itu mengambil kedua tangan Seungwan kemudian membelainya selembut mungkin.


"Noona kita saling merindukan. Aku mohon di waktu yang tipis ini, luapkan semua rasa yang membebani mu!"


Kecupan singat, ia berikan pada tangan mungil. Menciumnya penuh rasa hormat.


Seungwan tidak tahu harus berbuat apa. Ini tidak masuk akal sama sekali jika dikatakan bahwa ini nyata. Ia hanya mampu menatap sosok yang bertekuk lutut di depannya dengan pancaran haru sirat kerinduan.


"Untuk sekali lagi aku ingin menghabiskan waktu bersama mu"


Sosok itu mendongak, menatap ke dalam manim karamel kepunyaan Seungwan.


"Aku datang untuk menghibur mu, aku tidak menginginkan akhir yang sia-sia."


Melihat wajah, mata dan sosoknya serta suara rendah, pelesetan dengan pemikiran rasional. Pria itu datang untuknya, Tuhan memberikan obat penyembuh rindu yang membuatnya resah hingga menyebabkan ia harus bergadang.


"Aku merindukan mu," seru Seungwan menghambur dalam pelukan sosok itu.


***


Secangkir coklat panas mengepul, memberikan rasa hangat di kedua telapak tangan Seungwan. Kini keduanya tengah berada di dapur tempat kediaman Ia yang telah di tepati selama 10 tahun lamanya bersama sosok yang tengah duduk di depan dengan secangkir coklat panas persis seperti miliknya.


"Kau seharusnya tidak begadang noona! Itu tidak baik untuk kesehatan mu."


Sudah hampir satu jam keduanya menghabiskan waktu bersama di dapur. Coklat panas di gelas masing-masing pun tersisa beberapa tegukan lagi.


Tidak banyak hal yang mereka lakukan. Hanya berbagi obrolan dimana sosok itu kebanyakan mengomel mengomentari betapa buruknya kebiasaan Seungwan yang menurutnya tak baik bagi kesehatan dan Ia hanya terdiam, menikmati omelan serta ceramah yang terlontar dari mulut sosok itu. Semua darinya, gerak tubuhnya, tak luput dari pengelihatan Seungwan dan itu akan menjadi sesuatu yang berharga.


Tanpa sadar pun rasa kantuk mulai meyerang. Di saat seperti ini mengapa kantuk itu datang? Sungguh Ia ingin mengumpat. Seungwan tidak ingin tidur, tidak ingin memejamkan mata tapi rasa itu semakin menguat dan dirinya pun kalah atas rasa kantuk yang menyerangnya, ia akhirnya jatuh terlelap dengan wajah yang tersenderkan di atas tangan yang dia lipat di atas meja.


Melihat Seungwan-nya tertidur, sosok itu mendekat menghampiri, lalu membawanya ala seorang putri menuju kamar dimana ia dapat membaringkan di atas ranjang empuk kepunyaan mereka.


Setelah berhasil memindahkan Seungwan ke tempat tidur, sosok itu ikut menaiki ranjang, berbaring di sebelahnya. Sang sosok memandang pemilik hatinya yang tengah terlelap, tak lupa pula belaian lembut ia berikan di kepala.


Sosok itu memeluk Seungwan dengan erat, membawanya dalam pelukan nyaman yang selalu Ia sukai.


Sosok itu tanpa di duga mulai mengalirkan air mata, ia menangis tatkala mengetahui tubuhnya yang kian menjadi pudar, bias dan tembus pandang.


"Selalu mencintai mu~" serunya mendekatkan wajahnya ke wajah Seungwan.


Dalam waktu yang singkat itu, sosok yang mulai pudar berhasil mengambil ciuman di bibir Seungwan yang masih tertidur.


"Berbahagialah dan maafkan aku yang meninggalkan mu." Sosok itu berbicara dalam ciuman sepihak yang dilakukan tanpa izin.


Dan ketika tautan bibir itu terlepas, sosoknya pun mulai menhilang. Terpecah menjadi cahaya kecil kemudian lenyap entah kemana.


***


Dret...


Drettt...


Drreeeettt....


Bunyi alarm dari ponsel yang tergeletak di atas meja membuat tidur seseorang terganggu. Mau tak mau Seungwan membuka kelopak matanya dan lekas mematikan alarm.


Padahal semalam ia tidak bisa tidur dan baru tidur saat jam menunjukan pukul 03.59 AM. Seungwan hanya tidur tiga jam saja. Sial benar alarm yang membuatnya bangun.


Mengingat apa yang terjadi semalam, Ia terbelalak, dengan langkah terburu Seungwan turun dari ranjang tak peduli walau dirinya baru bangun tidur sekali pun.


"Jungkook-ah.. Jeon Jungkook"


Diselimuti panik, Seungwan memangil nama seseorang sembari mencari sosok yang ia cari. Namun tepat saat melewati sebuah ruangan, langkah kakinyaterhenti.


"Ahh~ Benar-benar bodoh. Tentu saja Ia sudah meninggal."


Ruangan itu, saat Ia menangkap sebuah figura yang menyimpan secarik foto seorang pria tampan, ketika itu pula Seungwan tersadar bahwa kejadian semalam hanya mimpi.


Bodohnya~


Seungwan berhenti mencari, kini ia berjalan menuju dapur hendak mengambil segelas air karena sungguh meneriaki nama seseorang setelah bangun tidur membuat tenggorokannya terasa kering.


Memasuki dapur, kedua matanya tak sengaja mendapati dua cangkir di atas meja. Dengan ragu Ia mendekatinya dan mengambil salah satu cangkir itu.


"Coklat.." gumannya saat melihat isi dari gelas itu.


Semalam Ia ingat bahwa dirinya menghabiskan waktu bersama Jungkook di temani secangkir coklat. Saling duduk berhadapan dan mengombrol tentang banyak hal lebih tepatnya Jungkook yang mengomelinya.


Jadi semua kejadian itu nyata? Jungkook yang dia lihat, pelukan hangat yang dia dapat, omelan memuakkan yang terima dan bisikan cinta yang samar ia dengar...


Semua nyata? Ia kembali walau hanya sesat? Tanpa bisa di cegah, bulir bening menelusuri pipi gembilnya.


"Jungkook-ah mengapa tidak tinggal sedikit lebih lama lagi?" serunya di sela isak tangis sambil memeluk cangkir yang ia yakini bekas dari sosok itu semalam.


***


Buket bunga krisan, Seungwan taruh di atas gundukan tanah di depan sebuah batu nisan yang terukir nama Jeon Jungkook.


Setelah kejadian itu, Ia memutuskan untuk mengunjungi makam sang suami yang telah meninggal empat tahun lamanya.


Dan disini lah Seungwan berada, berdiri di hadapan makan yang tercinta sereya berdoa.


"Terima kasih kau yang telah menyempatkan diri untuk mengunjungi ku dan Jungkook-ah, aku selalu mencintai mu" ucapnya tersenyum damai.


END__


Remake Gulasagu 🤗