Wendy And Boys

Wendy And Boys
Putri dan Pengawal



..._______...


...Putri dan Pengawal...


...______...


Pada zaman dahulu hiduplah seorang putri dari sebuah kerajaan yang terkenal seantero plenet Bumi dan planet lainnya, kerajaan itu bernama kerajaan Happiness.


Jikalau biasanya putri itu cantik dan anggun kali ini berbeda, sang putri terkenal dengan kenakalan dan keabsurdannya tapi sang putri juga terkena dengan hatinya yang sangat baik.


Putri nakal itu bernama Son Seungwan. Parasnya yang ayu dan hatinyanya yang baik membuat nama sang putri semakin harum namanya di mata rakyat negeri ini.


Suatu hari sang putri diperintahkan oleh ayahanda tercinta untuk menjalankan tugas ke suatu pulau terpencil bernama Jeju. Itu sebagai hukuman karena beberapa hari yang lalu Seungwan sempat kabur dari istana tanpa izin.


Awalnya Seungwan ingin menolak karena Ia sedikit mempunyai penyakit mabok laut. Tapi demi sang paduka raja akhirnya Ia pun menerima perintah tersebut.


"Sendiko dawuh paduka prabu Wannie siap melaksanakan tugas" Putri Seungwan bersimpuh sopan di depan raja negeri ini yang tak lain adalah ayahandanya.


Raja Son Jumyeom tersenyum hangat melihat anaknya yang sudah dewasa sekarang.


"Bangunlah anakku sayang ayahanda mengirimmu ke sana untuk melihat langsung bagaimana keadaan rakyat terpencil disana, kau sebagai calon ratu selanjutnya haruslah tahu bagaimana kondisi rakyatmu sendiri nak"


"Iya ayah putri siap menerima tugas mulia ini"


"Terimakasih nak kau sudah besar sekarang oh ya akan ku kirim pengawal Oh bersamamu"


"Tidak perlu ayah pengawal Oh kan petigas elit kerajaan"


"Petugas elit apanya orang diakan pemgawalmu toh nduk" kali ini sang ibunda ratu Son Irene yang berbicara.


"Tapi bu, Wannie kan sudah besar tidak perlu ada pengawal-pengawalan"


"Sudah besar tapi kelakuan masih seperti anak TK, sudah turuti saja perintah ayahmu sayang itu semua demi kebaikanmu juga kan"


"Baiklah Wannie menurut saja"


"Nah gitu dong baru anak bunda"


"Anak ayah juga kali bun"


"Enak saja ayah ih ngaku-ngaku siapa yang hamil selama sembilan bulan?"


"Bunda"


"Siapa yang melahirkan dengan mempertaruhkan nyawa?"


"Bunda"


"Ya sudah donk Seungwan itu anak bunda titik ayah jangan ngaku-ngaku"


Raja Jumyeom kicep, Ia tak berani melawan sang ratu yang sedang mode marah karena keputusannya mengirim sang putri semata wayang jauh ke pulau terpencil.


Putri Seungwan sendiri sedang bersiap-siap di kamar Ia pergi dari aula utama kerajaan meninggalkan ayah dan ibunya yang sedang berdebat itu. Ia akan membawa semua keperluan yang mungkin sangat dibutuhkan terutama obat anti mabok.


*


*


*


Deburan gelombang ombak laut serasa membunuh Seungwan secara perlahan. Tubuhnya serasa berputar-putar ditempat dan perutnya seperti dikocok-kocok. Walaupun Ia terkenal nakal tapi kalau sudah dihadapkan dengan laut, Seungwan menyerah.


"Yang mulia, apa anda baik-baik saja?"


"Pengawal Oh apakah anda tidak melihat aku sedang tidak baik-baik saja hiks"


Sang pengawal yang bernama lengkap Oh Sehun itu merasa tidak tega melihat kondisi tuannya itu. Ia menepuk-nepuk serta memijat leher tuannya itu dengan sayang berharap bisa mengurangi rasa mual yang tengah di derita oleh sang putri.


"Terimakasih"


"Sama-sama yang mulia, tolong bertahanlah sebentar lagi kita sampai"


"Berapa lama lagi aku harus tersiksa?"


"Sekitar 30 menit lagi yang mulia"


"Jinjjayo itu masih lama aish" Seungwan mengelap benda kristal bening yang entah kenapa sedari tadi terus keluar, jujur Ia paling benci dengan penyakit mabok lautnya ini.


Sekitar 30 menit kemudian kapal kecil yang berisikan sang pangeran dan para pengawalnya pun sampai di pulau terpencil yang meraka tuju.


"Akhirnya sampai juga"Seungwan menuruni kapal dan langsung tidur terlentang di atas pasir laut diikuti oleh pengawal Oh yang ikut berbaring di sampingnya. Karena lengah menikmati suasa pantai mereka berdua sampai tidak sadar jika kapal kecil yang mereka naiki tadi sekarang sudah menjauh.


"Maafkan kami yang mulia tapi ini semua perintah menteri Jang" sayup terdengar salah satu pengawal yang berada di atas kapal.


"Hay kalian berhenti disitu" bentak pengwal Oh sambil mengejar kapal itu namun sia-sia saja karena kapal itu semakin menjauh ke tengah laut.


Putri Seungwan dan Pengawal Oh memandang kepergian kapal itu dengan pandangan kosong tanpa harapan.


"Pengawal Oh sepertinya ini akhir dari hidupku"


"Jangan berkata seperti itu yang kita masih bisa bertahan hidup disini"


"Hiks aku hiks huaa semua ini salahku maaf hiks kau juga jadi ikut denganku disini harusnya aku tahu jika mereka jahat kenapa aku bodoh seperti ini hiks" Seungwan menangis histeris dan akhirnya dipeluk oleh sang pengawal setianya yang sebenarnya sudah menjadi sahabatnya dari kecil.


"Yang mulia tenanglah ini semua bukan salahmu tapi salahku" Seungwan menduselkan wajah manisnya di dada bidang sang pengawal dan semakin terisak disana.


"Tenanglah yang mulia kita bisa mencari jalan keluar"


Sang putri manis itu mendongakkan wajahnya menatap tepat di netra namja tampan yang kini tengah mendekapnya ini.


Mata coklat sedikit berair, wajah cantik yang memerah karena menangis, bibir tipis senada dengan buah cherry kini menjadi pandangan yang terlihat begitu indah di mata Oh Sehun.


Glup~


Bibir itu, kenapa Ia ingin merasakan seperti apa rasanya bibir cherry yang terlihat sangat manis itu.


Akhirnya Ia dengan segala keberanian yang Ia kumpulakan semakin mendekatkan wajah tampannya ke wajah manis yang terlihat diam saja malah justru kini sudah menutup kelopak indahnya.


Chupph~


Dua benda kenyal nan manis itu saling bersatu, menempel satu sama lain.


"Euhm" lenguh sang putri di sela-sela ciuman panas keduanya.


"Ekhem"


Tautan manis itu langsung terputus mendengar deheman seseorang. Dua insan itu pun langsung menengok ke arah suara itu.


"Maaf kalian siapa ya"


"Saya putri dari negeri ini, Son Seungwan"


"Oh putri yang katanya mau berkunjung kesini kalau begitu ayo ikut kami ini sudah sore"


"Ne terimakasih"


"Desa kami masaih jauh ke dalam hutan kurasa yang mulia bisa beristirahat di gubuk dekat pantai dulu baru besok pagi melanjutkan perjalanan"


Seungwan dan Sehun hanya terdiam saja mendengarkan penjelasan penduduk tersebut. Mereka bedua masih canggung akan kejadian tadi.


"Oh ya siapa nama anda tuan?"


"Nama saya Baekhyun yang mulia"


"Ngomong-ngomong kenapa yang mulia hanya berdua saja?"


"Kami dikhianati, sisanya pergi meninggalkan kami disini"


"Oh jadi seperti itu ceritanya pantas saja, awalnya kukira kalian orang jahat tapi setelah melihat wajah manis yang mulia saya jadi percaya jika itu anda" entah kenapa pipi Seungwan terasa memenas mendengar perkataan itu.


"Kenapa bisa seperti itu?"


"Karena putri negeri ini sudah terkenal dengan wajahnya yang cantik dan manis dan yah kurasa memanga benar tapi-? Baekhyun menjeda kata-katanya membuat Seungwan maupun Sehun penasaran.


"Aku tak menyangka jika kekasih pangeran justru pengawal anda seniri"


"Anni itu ya itu anda salah paham"


"Tidak aku bisa melihat pancaran cinta di mata kalian"


Kini keduanya semakin terlihat canggung. Kalau boleh jujur Sehun memang menyukai Seungwan sejak dulu, sejak mereka masih kecil. Tapi Ia masih sadar diri, Ia hanya pengawal rendahan yang tidak boleh mengharapkan balasan cinta dari seorang putri negeri ini.


Bagaimana dengan sang putri sendiri?


Yaps, benar apa kata Baekhyun barusan.


Seungwan juga sebenarnya menyukai pengawal tampannya itu tapi Ia masih terlalu malu untuk mengakui itu.


"Chaa kita sampai, maaf ini hanya gubuk sempit milik kita para nelayan"


"Tak apa Baekhyun-si terimakasih"


"Aku akan tidur di gubuk sebelah karena gubuk ini terlalu sempit jika untuk kita bertiga"


"Apa aku akan bersama pengawal Oh saja?"


"Jika yang mulia ingin sendiri saya bisa pergi dengan Baekhyun-si"


"Andwae aku takut sendirian"


Akhirnya Baekhyun pun pergi meningglakan dua insan itu yang masih dalam suasana canggung.


"Maaf"


"Kenapa minta maaf?"


"Maaf karena tadi saya telah lancang mencium anda"


"Tak perlu seformal itu kita kan sudah berjanji jika sedang berdua memanggil dengan nama saja"


"Iya Wan maafkan aku sekali lagi"


"Hay kita kan sudah sering berciuman seperti itu kenapa kau jadi kaku begini sih"


"Itu kan dulu pas kita kecil, sekarang kita sudah dewasa"


"Memangnya kenapa kalau sudah dewasa"


"Rasanya akan berbeda"


"Apa omongan Baekhyun-si tadi benar?"


"Yah memang benar adanya sudah lama aku mencintaimu" aku Sehun dengan mengusap lembut wajah Seungwan.


"Kenapa baru mengatakannya aku sudah menunggu lama"


"Maaf membuatmu menunggu putri" Sehun lalu membawa sang putri ke dalam dekapannya.


"Sudah kubilang panggilan macam apa itu"


"Saranghae putri manisku"


"Nado sarangahe pengawal tampanku"


End~


Omake


Patri Son Seungwan menikah dengan pangawal Oh Sehun dan mereka hidup bahagia bersama selamanya di pulau terpencil itu dengan anak-anak mereka.


Sedangkan di kerajaan sendiri juga sudah tahu jika putri mereka masih hidup dan sudah bahagia di pulau kecil itu. Sesekali raja dan ratu juga mengunjungi anaknya itu berusaha membujuk untuk kembali ke tanah kelahiran namun ajakan itu masih mendapat jawaban yang sama. Seungwan dan Sehun hanya ingin hidup sederhana sebagai rakyat biasa.


*


*


*


END