
7 tahun kemudian~
☔☔☔
Tetesan air mata langit itu terasa kian menusuk seperti jarum yang mengincar kain. Begitulah yang sekarang Seungwan rasakan. Tubuhnya sudah benar-benar basah kuyup sampai ke dalam. Bahkan seragam SMP yang Ia kenakan jadi tersa tiga kali lipat lebih berat karena terlalu banyak menyerap benda cair itu.
Kaki mungilnya terus berjalan perlahan menyusuri trotoar yang kini seperti kuburan sepi sunyi tanpa orang berlalu lalang, mungkin karena langit sedang mengeluarkan air dingin jadi membuat semua orang enggan untuk keluar rumah. Salahkan saja dirinya yang telat bangun pagi tadi sehingga terlalu terburu-buru dan lupa untuk membawa benda yang bernama payung padahal ini sedang musim hujan.
"Apakah ini akhir dari hidupku? Kenapa sedari tadi tidak ada tempat untuk berteduh?"
"Tahu begini mending tadi aku menginap saja di sekolah bersama ibu Iyem di kantin"
Seungwan sudah pasrah saja karena tubuhnya menggigil kedinginan sedari dari. Bibirnya sangat pucat, matanya sudah setengah tertutup dan giginya saling bergeletuk menahan dingin. Bahkan langkahnya juga sudah kian melemah.
Namun tiba-tiba Ia tidak merasakan air hujan menegenai permukaan kulitnya lagi dan betapa terkejutnya Ia setelah mengetahui penyebab benca cair itu tidak mengenai wajahnya. Ada seorang namja tampan yang tengah menaunginya dengan payung dan tersenyum hangat ke arahnya.
"Apa kau malaikat pencabut nyawa? apa ini sudah wakutunya?" ucap Seungwan refleks.
Sosok yang disebut malaikat itu malah tertawa yang terlihat begitu menawan.
Deg!
"Apa malaikat selalu setampan ini? Apa kau benar-benar malaikat?" Sosok yang disebut malaikat itu kembali tertawa, sungguh sosok di depannya ini sangatlah imut dan manis.
Karung mana karung__
"Iya aku malaikat"
"Tapi kalau di drama Goblin malaikat kan memakai baju hitam-hitam bukan seragam SMP seperti yang kau pakai"
"Hhaha aku malaikat penolongmu sekarang anak manis. Aku sering melihatmu, kau anak SMP sebelah kan?"
"Ini pakailah"
Sang bocah tampan melepas jas SMP yang Ia pakai lalu memakaikannya ke tubuh mungil di depannya itu. Seungwan yang mendapat perlakuan seperti itu seketika langsung kaget.
"Kau menggigil kan, jadi jangan protes"
Seungwan hanya mengagguk dan tersenyum semanis mungkin.
"Terimakasih, kau sangat baik"
"Sama-sama manis, ayo naiklah ke punggungku"
Tentu Seungwan tersipu malu mendengar ajakan namja tampan di depannya. Jantungnya mulai berdetak tidak karuan. Hay apa ini yang namanya jatuh cinta? Tapi Ia kan baru kelas tiga SMP. Itulah sekarang yang sedang berputar dalam pikiran Seungwan hingga Ia tak sadar telah mengabaikan ajakan namja tampan ini.
Sosok itu segera berjongkok di depannya dan merentangkan kedua tangannya ke belakang menunggu Seungwan naik di atasnya.
"Ayolah sampai kapan kau akan diam, aku sudah pegal nih berjongkok terus"
"Tapi-"
Belum selesai Seungwan berucap tapi sudah di potong saja.
"Aku takkan menculikmu, percayalah aku kan hanya ingin menolongmu. Lagi pula aku sama sepertimu masih SMP mana berani menculik anak orang, yang ada akulah yang menjadi incaran para penculik di luar sana"
Mendengar ucapan panjang lebar namja di depannya, Seungwan jadi tidak ragu lagi dan perlahan naik ke atas punggung lebar itu. Kakinya juga sudah lemas untuk berjalan. Dan di balik sana seseorang hanya tersenyum manis melihat tingkah malu-malu makhluk unyu di belakangnya itu.
Taehyung, nama bocah tampan itu yang segera berdiri dengan Seungwan yang ada di gendongannya dan memegang payung.
"Pegang payungnya yang benar agar kita tak terciprat air hujan, oh yah ngomong-ngomong kita belum berkenalan. Namaku Kim Taehyung"
"Mm aku.. aku Son .. Seungwan"
Sungguh Seungwan benar-benar gugup sekarang, ini pertamakalinya Ia berada di jarak sedekat ini dengan seseorang yang baru ia kenal.
"Nama yang manis semanis orangnya"
Seungwan semakin tersipu dengan jantung yang sudah berdisko ria.
"Dasar gembel"
"Aku sungguh-sungguh kok, kau memang manis"
"Apa kau memang suka ngegembel?"
"Tidak, ini pertama kalinya lagi pula aku kan berkata jujur" jawab Taehyung jujur.
Seketika suasana menjadi hening, hanya suara gemercik air dan suara langkah Taehyung yang beradu dengan genangan air di atas aspal trotoar ini. Selang beberapa lama mereka sampai di sebuah halte kecil dekat persimpangan jalan. Taehyung menurunkan Seungwan dan mereka pun duduk bersama menunggu bus datang.
"Apa kau juga akan naik bus Taehyung-ssi?"
"Tidak, aku hanya ingin mengantarmu"
"Tak usah mengantarku sampai rumah, sudah cukup sampai disini saja"
"Kenapa?, aku tak tega melihatmu pulang sendiri"
"Kita kan baru kenal tadi, dan kalau sampai orang tua ku tahu aku pulang dengan seorang namja tampan ups, tamatlah sudah uang jajanku"
"Baiklah, tapi ijinkan aku menemanimu sampai busnya datang"
"Terserah kau saja, oh yah sepertinya kau lebih muda dariku"
"Aku kelas dua SMP"
"Pantas saja panggil aku noona dan bolehkah aku memanggilmu Taehyung? Aku sudah kelas tiga, eh hey lihat busnya sudah datang, aku pulang dulu yah. Terimakasih sudah mau mengantarku"
Ucap Seungwan ramah sambil tersenyum manis membuat Taehyung juga ikut tersenyum hangat.
"Bawalah ini, agar saat turun dari bus nanti kau tidak kehujanan"
Taehyung menyerahkan payung marahnya.
"Tapi bagaimana denganmu nanti kau akan kehujanan"
"Tak apa, rumahku dekat sini kok aku akan gunakan jasku sebagai pelindung"
"Baiklah, sekali lagi terimakasih ya dan sampai jumpa"
"Sama-sama manis, hati-hati di jalan ya" ucap Taehyung sambil melambai ke arah Seungwan yang mulai tersipu lagi dengan panggilan itu.
"Nanti kalau kita bertemu lagi akan ku kembalikan payung ini"
"Ya akan kutunggu hehe"
Seungwan pun kembali melangkahkan kakinya memasuki bus dan menyempatkan membalas lambaian tangan Taehyung.
.
.
.
Seungwan terkekeh mengingat masa lalunya. Dimana itu adalah pertemuan pertamanya dengan Taehyung. Pertemuannya yang begitu manis dan tak terlupakan. Namun perlahan air matanya menetes tanpa Ia sadari.
"Cek.. kenapa aku malah menangis, bukannya itu kenangan yang sangat indah harusnya kau bahagia mengingatnya bukan malah menangis seperti ini" gumannya sambil menghapus lelehan benda bening itu.
"Pertemuan pertama kita begitu manis dan indah, namun kenapa pertemuan ke dua kita begitu tragis?"
Ia kembali terisak mengaingat pertemuan ke dua dan terakhirnya dengan sosok yang masih Ia cintai sampai sekarang ini.
TOK..TOK TOK..
"Masuk"
"Permisi, maaf apa saya menggangu nona?"
"Tidak kok, ada apa?"
"Nona, gwenchanna?"
"Ne, aku tidak apa-apa, ada apa Taeyong-si?
"Saya hanya ingin mengingatkan nona kalau satu jam lagi ada pertemuan dengan CEO Kim Corp"
"Apa sudah membuat janji?"
"Sudah tuan, bahkan sudah satu minggu yang lalu"
"Banarkah? Akhir-akhir ini aku sedang banyak pikiran hingga lupa ada janji penting. Kalau begitu aku akan bersiap-siap dulu dan kau boleh pergi sekarang"
"Ne"
Sekedar informasi Taeyong itu adalah sekretaris pribadi Seungwan dan Ia menganggap Taeyong sudah seperti adiknya sendiri.
Sekarang Seungwan sudah meraih cita-cita yang sejak dulu Ia impikan, yaitu menjadi orang sukses dan membanggakan keluarganya dari atas sana. Ia menjadi desainer terkenal dan memiliki peusahaan fashion sendiri. Ia bahkan membuka butik hampir di seluruh kota-kota besar yang ada di Korea Selatan hanya dalam kurun waktu tiga tahun.
Son Seungwan, desainer muda, cantik, manis, berbakat, sukses dan masih single. Itulah yang di kenal oleh public. Mereka tidak tau alasan kenapa desainer manis itu masih saja belum memiliki pasangan diusianya yang sudah terbilang cukup matang. Karena sebenarnya Seungwan masih belum bisa melupakan cinta pertamanya.
_____
Dua orang namja terlihat sedang menyusuri taman bunga yang ada di depan rumah mewah milik keluarga Kim. Namja yang lebih muda mendorong kursi roda yang sedang di duduki oleh namja yang lebih tua.
"Appa, hari ini aku akan menemuinya"
"Syukurlah kalau begitu"
Namja yang sedang duduk manis di kursi roda itu tersenyum samar.
"Ne, aku takkan melepaskannya lagi"
"Bawalah dia pulang, aku tak sabar ingin melihat calon menantuku dan meminta maaf langsung padanya"
"Ne appa bersabarlah sebentar lagi"
-----
Seungwan sudah bersiap di dalam ruangan tempat Ia akan melakuakan pertemuan bisnis dengan CEO Kim Corp.
Perlahan pintu ruangan itu terbuka dan manpilkan siapa sosok yang memasuki ruangan ini. Betapa terkejutnya melihat sosok yang amat Ia rindukan berada tepat di depannya. Sosok yang selama ini masih ada dalam pikirannya.
Sepasang kelopak indah mereka saling bertemu.
Kedua netra itu mulai mamancarkan aura kerinduan yang sangat kentara.
Deg!
"Di pertemuan kita yang ke tiga ini aku takkan membiarkanmu lari lagi"__
"Aku takkan lari darimu lagi payungku karena aku sudah memaafkanmu"__
__________
Bersambung..