Wendy And Boys

Wendy And Boys
Melodi (1)



_____


Melodi


_____


Lantunan merdu mengalun indah senada dengan hari bahagia ini~


Bait demi bait lembar lagu saling berlomba menyapa hati para makhluk yang dilanda tamparan bahagia melihat sepasang pengantin yang tengah berdiri di atas altar.


Mereka terlihat sangat menikmati setiap alunan indah lagu-lagu yang tengah dimainkan oleh seorang pianis ternama.


Jari jemari itu pun terus beradu dengan alat musik yang dengah dimainkannya menambah syahdu acara suci ini.


Dari nada-nada itu aku mulai mengenalmu seseorang yang amat berharga dalam hidupku..saranghae Wendy-ya~


Nado saranghae Yoongi oppa~


--------


-----


Hai namaku Son Seungwan, tapi biasa dipanggil Wendy.


Aku lahir di bulan Februari. Lebih tepatnya di hari ke-21 dalam bulan tersebut, kalau untuk tahun 1994. Mm... aku ingin berbagi cerita..


Apa kalian ingin tahu seperti apa ceritaku?


Ceritaku bisa dibilang terlalu biasa saja Tapi..


Setelah aku bertemu dengannya.. seseorang yang telah merubah segalanya. Seseorang yang telah menganggapku ada, mengisi hariku dan juga mencintaiku apa adanya sampai detik ini.


Aku pun sebaliknya, begitu mencintai sosok yang telah memberikan hembusan indahnya sebuah kehidupan kepadaku.


Dialah MIN YOONGI.


Kisahku dan dia berawal dari sebuah lantunan nada-nada indah yang Ia kenalkan padaku~


Apa aku mulai dari awal saja?


Baiklah.. aku mulai dari awal..


Pertemuanku dengannya yaitu ketika aku mendengar lantunan indah piano di dalam sebuah panti asuhan kecil di pinggiran kota.


Anak-anak panti terihat antusias mendengar dan mengerumi sang pemain piano. Begitupun denganku yang mulai melangkahkan kaki mungilku ini menuju kerumunan itu tapi tidak terlalu dekat.. aku hanya berani melihat dari kejauhan.


Lagu demi lagu Ia mainkan dengan indahnya hingga membuatku terpukau dan tak terasa melepaskan boneka singa yang sedang kupegang. Begitu indahnya permainannya bak menyihir semua penghuni panti asuhan ini termasuk diriku.


"Cha selesai" ucap sang pemain piano tersebut setelah menyelesaikan lagu terkahir yang Ia mainkan. Suara tepuk tangan dari anak-anak dan bibi Han pun menggema menyambut kekaguman akan permainan indahnya.


"Hai anak manis kemarilah"


Siapa yang Ia maksud anak manis?


"Kenapa diam?"


Apa yang di panggil sang pemain piano itu aku? Kenapa dia menunjuk ke arahku?


"Caya?" Tunjukku pada driku sendiri.


"Iya kamu siapa lagi memangnya yang berdiri di situ"


Aku pun menengok ke kanan dan ke kiri dengan sedikit malu-malu dan benar juga hanya ada diriku di sini berdiri di samping pintu kayu yang sudah tua ini.


Karena malu aku pun hanya menggaruk tengukku lalu mengambil boneka Olaf yang tak sengaja kujatuhkan tadi dan berjalan menghampirinya. Kulihat anak-anak lain memandangku iri.


Apa salahku? Apa karena aku dipanggil oleh sang pemain piano misterius itu? Entahlah..


"Kau sangat manis nak siapa namamu?"


Entah kenapa kurasakan pipiku menghangat mendengar panggilannya. Uhh jangan bilang kalau sekarang ada buah tomat segar yang bersarang disana.


"Uhh imut sekali jadi ingin kumakan"


Yakk.. apa kenapa dia mencubiti pipiku.


"Ku ulangi siapa namamu anak manis?"


Ini orang bagaimana sih? Bagaimana aku mau menjawab kalau sejak tadi dia terus saja mempermainkan pipiku. Aku pun dengan berani memelototinya.


"Ahahaha maafkan aku habis kau minta dikarungin sih"


Huhh akhirnya itu tangan kembali juga ke tempatnya.


"Pelkenalkan nama caya Wendy imnida"


"Ahahahhaa imut sekali kau masih cedal ahahaha"


Memang kenapa kalau masih cedal ih dasar. Aku pun mempoutkan bibirku kesal.


"Jangan cemberut adik kecil maaf ne hehe berapa usiamu?"


"Enyam tahun"


"Wahh kalau begitu kau harus memanggilku oppa"


"Oppa cudah 15 tahun"


"Ish oppa jangan ikut-ikutan aku"


"Hahaha maaf maaf"


Wahh ternyata oppa pemain piano ini masih muda juga hanya berjarak 9 tahun denganku. Dan lagi kalau dilihat dari dekat wajahnya juga sangat tampan ehh ngomong apa sih aku ini.


"Mau bermain piano bersama?"


"Aku tidak bica oppa"


"Nanti oppa ajarin"


"Cinca?"


"Ne jinja"


"Telimakacih oppa"


Kulampiaskan rasa bahagiaku ini dengan memeluknya erat tak peduli jika Ia akan sesak nafas dan tak lula aku terus mengucapkan terimakasih sampai berulang kali.


.


.


.


🎵🎵🎵


Untuk pertamakalinya sejak aku tinggal di panti asuhan merasa sebahagia ini. Karena aku hanyalah anak cacat yang di buang keluarganya sendiri di dalam panti asuhan.


Setidaknya itulah yang kuketahui dari bibi Han yang menceritakan bagaimana bisa diriku ini ada di panti asuhan.


Yah.. aku hanyalah anak cacat yang dibuang oleh orang tua kandungku sendiri.. kakiku pincang sebelah dan rasanya sangat sulit intuk berjalan. Semua orang memandangku dengan sebelah mata, tak ada yang mau berteman denganku bahkan mereka sering menghinaku.


Tapi..


Akhirnya ada juga yang mau menerimaku.. mengajakku berkenalan.. menjadi temanku.. mengajariku bermain piano.. membuatku tersenyum sepanjang hari.


Dialah sang pemain piano tadi Min Yoongi oppa.


Yoongi oppa menginap di panti asuhan kami selama satu bulan. Dan selama satu bulan itu Ia habiskan hanya denganku hingga membuat anak-anak yang lain iri.


Entahlah.. kenapa Ia mau menerimaku? Saat kutanya Ia malah menjawab jika aku berbeda dengan yang lain. Berbeda dalam hal apa? Apa karena aku cacat? Tapi sepertinya tidak, dia begitu tulus dan baik padaku. Ia dengan sabar mengajariku bermain piano hingga dalam waktu sebulan aku sudah bisa dibilang mahir bermain piano.


Tapi hari itu pun tiba dimana Ia kembali pulang ke keluarganya. Yoongi oppa menginap disini karena di tinggal keluarganya ke luar negeri. Dari pada bosan tinggal di rumah jadi Ia memutuskan untuk menginap di panti begitulah ceritanya.


Yoongi oppa berjanji akan sering berkunjung menemuiku dan aku pun percaya saja.


Minggu berganti bulan hingga bulan berganti tahun dia tidak pernah sekalipun mengunjungi kami di panti.


Aku sangat merindukannya.. sungguh rindu. Tapi apa dayaku hanya seseorang yang cacat. Pasti dia malu untuk menemuiku lagi.


Tapi takdir berkata lain, aku dan Yoongi oppa dipertemukan kembali setelah 12 tahun lamanya.


Lebih tepatnya ketika aku menginjakan kaki di Universitas Seoul sebagai mahasiswa baru. Aku mendapatkan beasiswa dan bisa berkuliah di sana.


Tentunya bagiku yang cacat ini sangat sulit untuk meraih beasiswa itu, butuh perjuangan yang tidak sedikit. Aku harus terus belajar agar nilaiku sempurna. Dan juga karena keahlianku dalam bermain piano juga menjadi nilai tambah.


Aku bertemu dengannya di sana. Netra kami saling bertatapan menyiratkan kerinduan mendalam.. tapi apa dia masih mengenaliku?


Wajahnya masih sama benar-benar tampan seperti dulu tidak sedikitpun berubah hanya saja tubuhnya yang bertambah tinggi dan besar.


"Wendy" ucapnya seraya memelukku erat seakan aku adalah miliknya yang sangat berharga.


"Yoongi oppa"


Aku pun membalas pelukannnya tak kalah erat. Sungguh aku sangat bahagia hingga tak terasa bulir-bulir bening berlomba menuruni wajahku.


Kurasakan tubuh Yoongi oppa bergetar dalam pelukanku. Apa dia juga menangis. Yah sepertinya Ia juga menangis tanpa mengeluarkan suara.


Ia melepaskan pelukkannya dan menatap wajahku dengan haru. Kulihat wajahnya yang sudah basah beruraian kristal bening sama sepertiku.


Tangannya terulur mengusap air mataku dengan lembut tanpa berkata-kata. Kami saling memandang wajah satu sama lain dengan perasaan yang sulit diartikan. Tanganku pun ikut terulur menghapus air matanya.


"Oppa ak-" bibirku di tutup oleh jari telunjuknya dengan lembut.


"Stt aku tahu maafkan aku .. aku lebih merindukanmu Wendy"


"Neomu neomu bogoshipoyo"


Ini aneh mendengarnya mengucapkan itu membuat air mataku makin deras.


"Uljima ne uljima Wendy-ya"


Dia menyuruhku berhenti menangis tapi dirinya sendiri juga masih bergelimangan air mata.


Yoongi oppa akhirnya kembali membawaku ke dalam pelukan hangatnya. Dan jadilah kami menangis bersama.


________


Bersambung..