
Dalam perjalanan pulang, aku membungkukan badanku, bersadar di salah satu pagar jalan. Rasa sakit yang mendera perut membuat langkah kaki ini kian berat.
Memasukan tangan dalam kantung celana, aku tarik benda persegi panjang keluar dari saku. Mungkin lebih baik aku menelepon seseorang, meminta bantuan mereka.
Menggulirkan jari ke atas, ingin menghubungi sahabatku. Namun setelah berhasil menemukan kontaknya, jari ini berhenti bergerak. Alhasil hanya menatap nomer di layar ponsel dengan tatapan kosong.
Aku tidak bisa terus bergantung dan mengganggunya.
Aku memutuskan untuk menaruh kembali smartphone ke dalam saku, aku memilih untuk menatap langit. Sembari mengistirahatkan diri ku sejenak, aku dongakan wajah ku ke atas.
Entah mengapa bulan terlihat lebih besar dan lebih terang dari sebelumnya.
Malam ini terlihat indah dengan hadirnya sang dewi yang mempesona.
Pelahan dengan pasti diri ku terhisap diantara sinar rembulan yang
membawa ku ke beberapa jam yang lalu.
Sebelumnya aku berada di kediaman kedua orang tua ku. Ahh, tentu saja bukan kunjungan biasa karena bagaimana pun hubungan ku dengan kedua orang tua ku tak cukup baik. Selayaknya kacang lupa kulitnya.
Berdiri kaku di ambang pintu, aku tekan bel dimana terdapat papan nama 'Kim' disamping pintu masuk. Ini rumah yang telah lama aku tinggalkan.
Sudah berapa lama yah tidak kembali? Aku hidup mandiri sejak Junior high school dan terakhir aku pulang itu sekitar tahun terakhir ku di Senior high school.
Dalm arti bukan orang tua ku buruk atau apa, hanya saja ini pilihan ku untuk tinggal jauh dari pengawasan orang tua. Terkadang pula ibu akan merengek, meminta ku kembali tetapi aku bukanlah tipe seseorang yang mudah merindukan rumah.
Sekarang usia ku sekitar 24 tahun, sudah enam tahun berarti sejak kepulangan ku yang terakhir kali. Sudah lama sekali rupanya.
Tidak perlu menunggu lama, seorang yang aku kenal membuka pintu. Terlihat raut terkejut saat ia menatap ku, kemudian detik berikutnya pelukan hangat ia berikan. Perempuan itu, ibu ku memelukku dengan cukup erat.
Aku pun memeluknya kembali. Dalam dekapanku, tubuhnya aku rasa semakin mengecil, rapuh dan mudah terluka. Ibuku tak semuda dulu, kini aku akui sekelebat rasa sesal mulai merasuki tapi seketika itu aku mengenyahkan rasa sesal itu. Tidak ada yang perlu disesali karena memang itu yang aku pilih.
"Ibu.." ucapku mengembangkan senyuman.
"Oh astaga, Taehyung.. Ini benar kau? benar bukan? Astaga akhirnya kamu pulang" ujarnya terharu sembari memeluk kembali diriku untuk sesaat.
"Oh nak, sudah berapa lama kau tidak pulang?"
"Maafkan aku bu, aku terlalu sibuk dengan hidupku sendiri."
Mungkin benar aku menyesal telah melewatkan waktu bersama orang tuaku.
"Tak apa.. Kau kan sudah pulang. Mari.. mari masuk Kaasan akan buatkan makanan favorit mu."
Ibu menyeret ku memasuki rumah lebih dalam lagi, masih terlihat raut ceria dan semangatnya ketika menutunku ke ruang keluarga.
"Duduklah nak! Ibu akan siapkan makan malam. Kau belum makan bukan?"
Aku menuruti ucapannya dimana aku disuruh duduk di atas tatami.
"Iya ibu, aku belum makan" jawab ku menanggapi pertanyaannya yang kini mulai meninggalkan ruang tengah.
______
Bersambung...
Remake @Gulasagu @Bananaa97__ 🤗
#wenv #wendy #taehyung #bts #redvelvet #bangtanvelvet #seungwan