Wendy And Boys

Wendy And Boys
Last Scene (1)



_____


Disarankan untuk mendengarkan lagu 'Last Scene-Ikimono Gakari'


Khususnya di part selanjutnya..


***


Hay Kyungsoo oppa!


Aku harap kau tetap menjalani hidup mu seperti biasanya dan aku harap kepergian ku tidak merubah apapun. Ini harapan ku. Kau bisa mengabulkannya, bukan? Ouh ya! Jangan lupa kan aku yah!! Doa kan aku juga!! Terimakasih atas waktu yang kita habiskan bersama dan maaf, aku tidak bisa bersamamu lebih lama lagi.


Jangan kau beri aku air mata, oppa! Aku kira ini lah akhirnya. Do Kyungsoo aku selalu mencintaimu.


....


Namanya Son Seungwan; seorang gadis SMA tahun akhir, si pemilik surai sewarna coklat madu pendek yang mempunyai hobi bermain voli dan ditempatkan sebagai setter.


Di usianya yang masih muda Seungwan tentu memiliki banyak mimpi terutama cita-citanya ingin menjadi atlet voli (mewakili negaranya di tingkat dunia). Tetapi mimpi itu tak akan terwujud, kertas di tangannya telah mengambil sebagian harapan besar yeoja pemilik senyum indah itu. Bukannya menyerah, hanya saja Ia kurang yakin jika waktu memberikannya kesempatan diambang batas kehidupan.


Seungwan tidak mengira jika dia mengidap penyakit kanker tepatnya kanker nasofaring dimana hidungnya kerap kali mimisan. Saat ini pun darah menodai saputangan, Ia dengan pelan menyeka cairan merah itu. Terkadang terasa menjijikan, merepotkan malah. Disuatu-waktu hidungnya akan keluar darah dan saat itu pula ia harus siap sedia tisu atau saputangan serta obat tentunya.


Kertas di tangannya ia remas menjadi gumpalan, Seungwan membuang bola kertas ke arah sembarangan di kamarnya. Pikirannya sangat kacau untuk saat ini. Tulisan yang tertera di kertas tadi membuatnya memijit pangkal hidung. Kertas yang dibuang sebenarnya hasil dari pemeriksaan dan di dalamnya tertulis bahwa Son Seungwan harus segera menjalankan serangkaian penyembuhan baik itu kemoterapi atau lainnya. Kanker yang sudah ia derita entah sejak kapan, mulai memasuki stadium lanjut.


Mengerikan! Selama ini Seungwan tidak sadar dan ketika cek kesehatan dirinya mendapati kanker stadium awal serta sekarang sudah parah. Jikalau Ia melakukan pengobatan ketika umur kangker tak separah saat ini, mungkin yeoja manis itu tidak perlu takut merasa gagal. Lalu apa ada kesempatan untuknya hidup? Mungkin barangkali memang ada.


Alasan utama sang gadis manis itu menunda-nunda pengobatan kemoterapi atas saran dokter, yaitu Ia enggan meninggalkan keluarganya, teman-temannya terutama Do Kyungsoo yang sudah dianggap nyawa keduanya.


Ngomong-omong kalau membahas kanker nasofaring, buah kesedihan akan didapat. Seungwan tentu tak mau menghabiskan sisa hidupnya untuk bersedih. Karena itu pula dalam keperihan yang dirasa, Ia tetap tersenyum, malahan menyengir gila dan bertingkah konyol dan berakhir mendapat pukulan telak di jidat dari Kyungsoo. Ahh.. Hobi lainnya tentu mengusili sang namja imut pemilik wajah datar itu, Ia sangat senang melakukannya.


Pantulan cermin di depannya memperlihatkan sosok gadis belia dengan seulas senyum tipis. Seungwan bersyukur setidaknya penyakit yang dia derita tidak mengambil kecantikannya.


Tidak ada benjolan di area leher, matanya tidak juling, hanya sesekali hidung terasa tersumbat dan telinga berdengung tidak jelas serta rambutnya pun masih lebat (akhir-akhir ini dia mendapati helaian rambut rontok dalam jumlah banyak) tidak ada perubahan besar memang selain kulitnya yang semakin memucat dan stamina yang kian menurun.


Hodi digantungkan dekat lemari ia ambil, dilekatkannya pada tubuh yang kian mengurus. Membalut sebagai penghangat badan. Rencana hari ini Seungwan hendak menghadiri latihan voli yang dilaksanakan sekitar 30 menit lagi.


Setelah selesai berbenah, langkah jenjangnya ia bawa menuju pintu keluar kamar. Kediaman keluarga Son tidaklah besar, seperti rumah umum biasanya. Karena tidak besar, Seungwan dapat langsung melihat ibunya yang tengah bersantai sambil menonton televisi ditemani secangkir teh dan sepiring kecil mochi.


"Eomma, Wannie akan pergi." Sebagai anak yang berbakti, Seungwan meminta izin pada ibunya. Nyonya Son Irene menatap anak semata wayangnya dengan tatapan sulit untuk diartikan; Percampuran cemas, khawatir, sedih atau beberapa emosi lainnya. Wanita itu sebenarnya ingin mencegah, tapi janji dimasa lalu selalu menjadi ungkitan sang anak jika ia mulai membatasi pergerakannya. Sang eomma hanya bisa mendukung dan berharap anaknya mau menuruti permintaannya termasuk melakukan pengobatan secepat yang dia bisa.


"Sayang, kapan kamu berhenti nak? Kankermu sudah berada di stadium lanjut. Lekaslah melakukan perobatan, eomma mohon padamu sayang." pinta sang bunda dengan suara serak seakan leher tengah dicekik.


Deretan gigi putih terlihat kala Seungwan melakukan senyum lima jari. Ia berusaha menepis rasa sakit yang tengah dirasakan ketika mendengar nada menyedihkan dari sang ibu. "Selagi bola masih dapat diterima maka Wannie tak akan pergi darinya." Bukannya Seungwan tidak ingin sembuh, ia hanya menunggu waktu yang tepat bahkan jika itu membuat dia lupa perkataan entah dari siapa yang menyatakan; "Lebih cepat, lebih baik." Yang dia inginkan sedikit waktu lebih lama lagi, dan jika ia melakukan pengobatan, ada kemungkinan akan gagal dan ia akan kehilangan kehidupannya lebih cepat.


***


Bersambung..


Remake @Gulasagu @Bananaa97__ 🤗


#wensoo