
🌂🌂🌂
Kenapa di saat kau mau melihat ke arahku, semua kenyataan pahit ini menamparnya. Haruskah ku kubur dalam-dalam semua rasa ini? Akankah aku sanggup untuk mentapmu lagi?_
______
Maafkan aku.. tak seharusnya aku melihat ke arahmu, tak seharusnya aku menyakitimu sebegitu dalamnya dan aku juga tidak layak untuk memiliki rasa ini karena aku hanyalah seorang pengecut_
____
Ketika seseorang siap untuk mencintai.. maka Ia juga harus siap untuk merelakan..
Begitulah yang Seungwan rasakan sekarang.. hatinya serasa hancur berkeping-keping bahkan nyaris tak tersisa. Ia tahu semua ini bukan salah Taehyung.. namja tampan itu berhak untuk mencintai siapa saja, tapi kenyataan pahit bahwa cintanya selama empat tahun ini tidak akan pernah terbalas.
Jangankan terbalas, tersampaikan saja tidak. Sungguh menyedihkan memang. Tak seharusnya Ia menangis seperti sekarang. Tak seharusnya Ia menangisi Taehyung, karena namja tampan itu bukanlah siapa-siapanya jadi tentu dia berhak untuk memiliki kekasih.
"Sudah selayaknya ini terjadi hiks.. ku akan merelakanmu Tae-ah"
"Sadarkah kau Wan?"
"Sadarkah hiks"
"Betapa bodohnya dirimu Son Seungwan"
Gadis manis itu sedikit terkekeh disela-sela tangisannya. Tangan mungilnya mengusap buliran bening itu dengan kasar, namun tetap saja cairan krystal itu tak mau berhenti dan terus mengalir menuruni wajah manisnya yang sekarang sudah merah sempurna akibat kelamaan menangis.
"Bahkan benda bodoh ini tak mau berhenti mengalir"
"Hiks..ini sakit hikss appo kenapa sesakit ini.." ucapnya sesegukan sambil memukuli hatinya yang terasa tercekik itu.
Seungwan tak pernah berfikir membolos jam pelajaran seperti sekarang dan berakhir menagis sendirian di atap sekolah ini. Bahkan satu-satunya sahabat yang Ia memiliki juga tak hadir di sampinya hanya untuk sekedar menghibur. Ini aneh sahabatnya itu tahu kenapa Ia menangis sekarang, tapi kenapa Ia tak mau mengejar dirinya saat pergi dari perpus tadi? Apakah sang sahabat bahkan tak mempedulikannya lagi sekarang?
Sepertinya pepatah yang mengatakan hanya sahabat sejati lah yang sanggup bertahan di sisimu sampai kapanpun.
Jadi apakah yang menjadi alasan makhluk manis kita menangis. So mari kita liat siapakah dalang dibalik semua ini.
Flashback on__
Dunk dunk dunk.. happiness!!
Bunyi bel sekolah pertanda jam pelajaran baru segera dimulai.
Karena mendengar suara bel itu akhirnya Seungwan menghentikn aktivitas mememakan bekalnya yang baru habis setengah. Salahkan saja wajah Taehyung yang terlalu tampan hingga Ia lupa makan bekal dan waktu istirahatnya pun jadi tersita karena keasyikan memandang wajah sang pujaan hati yang sedang bermain basket beberapa waktu lalu.
"Hay Wan-ah kau tak menghabiskan bekalmu lagi ya issh issh" ucap Seokjin yang tiba-tiba sudah berada di sampingnya itu.
"Terlalu fokus sama doi sih sampai makanan seenak ini kau kacangin, sini untuk ku saja dari pada mubazir" ucap Seokjin sambil menunjuk bekal yang masih berada di tangan sang sahabat.
"Ehh ini kan sudah bel, nanti kalau pak Taeyong masuk gimana?"Tanya Seungwan yang sedikit tidak rela karena bekanya mau diambil teman sebangkunya itu. Ia heran apa yang dilakukan sahabat itu di kantin hingga tiap kembali ke kelas selalu masih lapar dan berakhir mengambil jatah bekalnya lagi dan lagi.
"Kau ini lagi pula aku kan sudah biasa mengambil jatahmu, lain kali aku harus berterimasih kepada Taehyung karenanyalah aku jadi dapat makanan gratis tiap hari"
Adakah yang punya temen macam Seokjin?
Seungwan hanya menghela nafas sabar dan menyeahkan bekal berharganaya lagi untuk teman sebangkunya itu yang langsung dihabiskan dalam sekejap.
"Oh yah, ngomong-ngomong katanya pak Tiway istrinya lagi melahirkan mendadak jadi tadi langsung pulang deh"
Sekedar informasi kalau istrinya pak Tiway itu yang lagi ngetik/ga/digebuk massa.
"Jinja? asik deh pasti kita bakal jamkos lama, duh jadi pengen lihat dedeknya" Ucap Seungwan dengan wajah berseri-seri, tahu begini Ia lanjut makan saja tadi.
"Ne" jawab Seokjin lesu karena Ia tahu sebentar lagi dirinya akan jadi korban.
"Yeyy..kalau gitu kita ke perpus aja yukk" ajak Seungwan semangat menuju tempat favoritnya di sekolah ini dan teman sebangkunya itu? Jangan tanaya seperti apa ekspresinya ketika mendengar kata perpus.
Tuh kan baru saja dibilangin dirinya bakal jadi korban.
"Baiklah, aku tidak mau juga kau tetap akan menyeretku kan"
Sabar akutuh punya temen macam Wendy. Jam kosong begini bukanya di buat untuk santai, kek nyolong wifi, nonton film horror bareng-bareng , stalker oppa, tidur, atau pacaran, ini malah selalu ngajak ke perpus. Seokjin strong kok __Ksj.
"Oh ya pulang nanti kita jengukin ya sekalian ngucapin selamat"
"Ne" masih lesu jawabnya.
Mereka segera bangun dari duduk dan berjalan dengan riang menuju ke perpustakaan, ralat yang riang disini hanya Seungwan seorang.
Tak apalah sekarang Seokjin mengalah, lagi pula Ia tak tega untuk berdebat dengan Seungwan sekarang. Ia takut sahabat manisnya itu diapa-apakan lagi seperti minggu lalu, bahkan memar bekas tamparan itu masih sedikit terlihat padahal sudah satu minggu. Ia bertekat tak akan membiarkan Seungwan sendirian lagi.
Sangat miris memang, Ia sebagai sahabat tapi tidak ada di saat Seungwan membutuhkan. Ingin sekali Ia menampar pipi si pelaku yang telah membuat pipi indah sahabatnya jadi biru seperti itu dengan panci pinknya di rumah yang sudah tidak terpakai dan berkarat agar si pelaku nanti terkena infeksi.
Setelah sampai perpus Seungwan dan Seokjin segera mencari buku dan tempat yang nyaman untuk membacanya nanti. Hanya Seungwan yang akan membaca buku karena Seokjin hanya akan tidur atau nyolong wifi di perpus dari pada membaca.
Baru membaca sebentar Seungwan mendengar suara seseorang yang selalu membuat hatinya bergetar, siapa lagi kalau bukan Kim Taehyung.
_______
Bersambung..