Wendy And Boys

Wendy And Boys
Nothing to Feel (2)



Tap..


Tap..


Tap..


Perlahan aku buka kedua kelopak mataku. Siulet orang yang melangkah berhasil tertangkap indra penglihatan, walau buram aku tahu itu kekasihku, Seungwan karena memang hanya ada kami di rumah.


Mengucek mataku yang masih terasa lengket, aku berusaha bangkit dari tidurku, tetapi rasa pusing rangsung menyerang, membuatku mengeram sambil menjambak rambutku - berharap dapat mengurangi rasa sakit yang aku dapatkan pagi ini.


"Wan-ah, ambilkan aku minum," pintaku melirik ke arahnya yang berada di depan pintu. Dia sepertinya tengah mengenakan sepatu dan siap pergi mencari ilmu (Seungwan, mahasiswa tingkat akhir sedangkan aku sudah selesai tahun kemarin).


"Kau cukup bertenaga hanya untuk mengambil air dan tidakkah kau lihat? Aku sudah akan pergi." jawabnya dingin.


Blam..


Seungwan, dia pergi begitu saja, ia bahkan mengiadakan pintaku barusan. Seungwan-ku sungguh kejam. Terpaksa aku berdiri, berjalan menuju dapur dengan menahan sakit kepala.


Segelas air berhasil membasahi kerongkongan, membuat sejuk disana. Tak lupa pula, aku meminum obat yang aku ambil di kotak P3K.


Seungwan selalu menyimpan di atas rak dapur. Jam dinding-menggatung di atas pintu masuk area dapur sukses menarik perhatian ku. Pukul 08.00, sudah siang rupanya dan aku melupakan kewajiban ku sebagai salah satu pegawai bank di Seoul.


...***...


Tidak ada perubahan, kegiatan malamku selama minggu-minggu ini selalu saja begini, tempat yang sama seperti sebelumnya.


Memesan beberapa gelas berisi cairan akhol dan berakhir tidur bersama seorang perempuan, melupakan janji satu kali mencoba yang aku lakukan diawal permainanan.


Aku menatap lurus, melihat kosong tembok di depanku. Pikiranku mungkin saja tengah berkelana kembali mengenang masa lalu atau kemungkinan buruk yang didapat tatkala kekasihku mengetahui hal buruk yang aku lakukan.


"Tak apa, aku baik-baik saja," jawabku berusaha tidak mengernyit jijik saat mengingat kembali kata sayang yang barusan dia ucapkan.


Perempuan itu merunduk sendu, tangan yang tadinya ia gunakan untuk merangkulku sekarang digunakan untuk meremas sprai tempat kami bercinta. "Dari awal kau nampak ragu, Sehun-ssi," lirih perempuan itu.


"Jika kau tahu aku ragu, mengapa kau tetap bersedia bersamaku?" Aku lihat perempuan itu menggigit bibir bawahnya dan pandanganku beralih pada noda merah di atas kasur.


Bodohnya aku! Ahh.. Aku mulai menyesal sekarang.


"Karena aku mencintaimu," ucapnya disertai derai air mata. Jujur saja aku tidak mengharapkan ini, maksudku aku tidak tahu kalau perempuan itu akan jatuh cinta padaku.


Apa aku harus meladeni cintannya? Aku telah menodainya. Lagi pula perempuan itu sangat cantik bahkan hampir mirip dengan kekasihku, Seungwan (aku rasa memang begitu).


"Kita pikirkan nanti," ujarku yang sebenarnya aku gunakan sebagai pengulur waktu untukku mengambil keputusan terbaik. Atau untukku agar bisa melarikan diri.


"Kau menolak ku?"


"Aku tak pernah berkata seperti itu."


Jawabku lagi dengan ragu, apakah aku harus menerimanya atau menolaknya. Hati kecilku berkecamuk. Di satu sisi tentu yang sangat kucintai hanyalah Son Seungwan, kekasihku tercinta. Namun, di lain sisi aku juga disini harus bertanggung jawab akan perbuatanku beberapa saat yang lalu. Hm aku harus bagaiamana sekarang?


_______


Bersambung...


Remaja @Gulasagu @Bananaa97__ 🤗


#wenhun