Wendy And Boys

Wendy And Boys
One Night (2)



______


Dan yang dilewati begitu saja tak tinggal diam, dia mulai bergerak mengikuti sosok di samping kanannya. Berusaha berjalan dengan menyamai langkah Seungwan yang masih membisu seribu bahasa.


"Mau ku temani jalan-jalan?" tawar sosok itu seraya tersenyum manis.


Sedangkan untuk Seungwan sendiri, dia hanya melirik sosok itu dari sudut ekor matanya. Ingin berusaha tidak peduli namun sosok itu terlalu berarti untuk diacuhkan.


Seungwan merasa ini serba salah. Di lain sisi sosoknya yang dia rindukan ingin ia dekap dengan erat, akan tetapi otaknya selalu menyebutkan bahwa orang itu cuma ilusi bahkan Ia yakin ini bagian dari mimpi.


Lantas apa salahnya jika menikmati mimpi? Barangkali memang mimpi, bukannya dia pantut bersyukur? Dengan begini, melihat sosoknya yang jelas di mata harusnya dapat mengurangi rasa rindunya.


Hah~


Menghela nafas gusar, Seungwan menghentikan langkahnya tepat di depan gerbang masuk taman umum yang terjapat di kompleks perumahannya.


Ia membalikan tubuhnya menghadap sosok itu. Memandanginya penuh dengan keputusasaan. Kemungkinan yang ia inginkan hanya keaslian, tidak dengan ilusi atau buah dari mimpi.


"Ada apa noona? Mengapa kau menatapku begitu? Apa kau mau pelukan hangat dari ku?"


Sosok itu merentangkan kedua tangannya, berharap Seungwan akan menghambur dalam pelukannya.


"Dulu kau sangat suka pulakan ku. Kau bahkan berkata merasa damai setiap kali aku memeluk mu." ucapnya lagi seraya tersenyuman konyol.


Seungwan kembali melangkah memasuki taman disertai senyum miring yang terpatri di wajahnya. Tujuannya hanya satu, berjalan ke bangku taman yang tak jauh dari tempatnya berada. Ia ingin duduk sejenak disana.


Sambil melangkah pikirannya kembali mengulas tentang kenangan masa lalu. Ucapan sosok itu telah mempengaruhinya, dan untuk sekali lagi Seungwan ingin mengenang.


Tentang dulu...


Sosok itu mengatakan pelukan darinya membuat ia merasa damai, lalu apa benar begitu?


Entahlah kalau soal mengenang, Ia hanya mengingat pemberontakan yang selalu saja ia lakukan kala sosok itu memeluknya. Ia tidak pernah menyukai ketika seseorang memeluknya. Walaupun demikian, ia tidak akan membatah jika sosok itu berkata bahwa pelukannya terasa nyaman.


Yah, Seungwan ingat.


Seungwan duduk di kursi taman, sedangkan sosok yang mengikuti berdiri di depannya.


Keheningan menyelimuti keduanya dan berlangsung lama.


Si manis yang memilih menunduk, sosok itu yang menatap dengan sorot mata yang sulit diartikan.


Menyerah akan keheningan, sosok itu melangkah lebih dekat, bahkan dia berjongkok di depan.


"Kau boleh saja menganggap ku ilusi atau apapun tapi, tidak kah kau mau menikmati kehadiran ku?" Sosok itu mengambil kedua tangan Seungwan kemudian mengelusnya selembut mungkin.


"Noona kita saling merindukan. Aku mohon di waktu yang tipis ini, luapkan semua rasa yang membebani mu!"


Salam tangan singat, ia berikan pada tangan mungil. Menciumnya penuh rasa hormat.


Seungwan tidak tahu harus berbuat apa. Ini tidak masuk akal sama sekali jika dikatakan bahwa ini nyata. Ia hanya mampu menatap sosok yang bertekuk lutut di depannya dengan pancaran haru sirat kerinduan.


"Untuk sekali lagi aku ingin menghabiskan waktu bersama mu"


Sosok itu mendongak, menatap ke dalam manim karamel kepunyaan Seungwan.


"Aku datang untuk menghibur mu, aku tidak menginginkan akhir yang sia-sia."


Melihat wajah, mata dan sosoknya serta suara rendah, pelesetan dengan pemikiran rasional. Pria itu datang untuknya, Tuhan memberikan obat penyembuh rindu yang membuatnya resah hingga menyebabkan ia harus bergadang.


"Aku merindukan mu," seru Seungwan menghambur dalam pelukan sosok itu.


________


Bersambung...


Remake @Gulasagu @Bananaa97__ 🤗🤗