
***
Festival di bulan Agustus tentunya banyak dikunjungi orang-orang, dan dari festival ini ada hal yang tidak aku sukai. Memakai hanbok dan membuat suara cletak-cletuk dari sandal kayu tradisional membuatku sedikit tidak nyaman.
Apalagi ketika aku dan ibu ku mulai debat masalah penampilan, ibu ku bersikeras menyuruh untuk memakainya dan aku selalu berakhir menggunakannya.
Aku meremas lengan hanbok berwarana cramel. Tidak pernah aku nikmati acara seperti ini. Ayolah siapa juga yang sudi menghadiri festival dimana terdapat banyak orang dan banyak penipuan?
Cih, penjual-penjual itu akan melakukan kecurangan. Jika tidak terpaksa, tentunya aku lebih memilih tidur di rumah atau melakukan kegiatan lain yang jelas tidak menyeretku dalam kebisingan.
Ceria dan tawa pengunjung bukanlah sesuatu yang dapat menarik sudut bibirku. Aku memilih bergeming menatap sekumpulan ikan mas dalam sebuah bak air. Mereka kecil dan terlihat indah dan aku ingin beberapa, tetapi apa mungkin bisa? Lihatlah betapa tipisnya jaring yang digunakan untuk menangkap ikan.
"Kau mau?" Aku menggeleng sebagai jawaban. Dalam menghadiri festival, aku tidak lah sendiri. Kim Minggu menemaniku atau lebih tepatnya ia datang memaksaku untuk mengikuti festival.
Kami kembali melangkah, meninggalkan kedai ikan. Menelusuri jalan setapak, melihat-lihat pedagang di sana. Beberapa saat lalu Mingyu memang menawariku untuk mampir ke salah satu kios makanan, namun lagi-lagi aku menolak kebaikannya. Aku tidak ingin membeli apapun.
"Baby bagaimana jika kita mencari tempat yang sepi," tanyanya mengusulkan pendapat.
"Maksudku tempat yang cocok untuk menikmati kembang api?" Mingyu memperbaiki ucapannya setelah aku menatapnya tajam. Tempat yang sepi? Yang benar saja, aku masih sayang dengan keselamatan ku.
Mingyu itu orang nakal!!
Terakhir kali kami berada di tempat sepi, ia melakukan tindakan nakal dengan memakan bibirku secara ganas dan tangannya melakukan berkeliaran disana-sini.
Waktu itu aku sempat menonjok perutnya dan mendiamkannya selama seminggu lebih.
Shuuiitt...
Suara letusan kembang api tiba-tiba saja terdengar. Petasan itu meluncur naik dan meledak menjadi serpihan cahaya yang kemudian hilang bersama abunya. Kami berdua lantas menengadah, menikmati sensasi percikan cahaya warna-warni di atas langit dengan sedikit taburan bintang. Setidaknya dari festival ini ada satu yang aku sukai yaitu; melihat kembang api, aku menyukainya.
"Kau lamban dalam memutuskan, baby! Lihatkan kita telambat," gerutunya karena tak sempat memutuskan tempat yang cocok kami singgahi sementara waktu untuk menikmati kembang api berduaan.
"Dari awal aku tak punya niatan pergi bersama mu!!."
"Tapi akhirnya kau mau pergi juga kan?"
Aku menatapnya bengis, "Itu suatu keterpaksaan," jawabku sinis.
"Walau begitu aku merasa bahagia," serunya menatapku sesaat sebelum akhirnya kembali memutuskan menatap jelaga malam di atas kami.
Senyap, aku memilih diam tidak menyahuti ucapannya begitu juga Mingyu yang tidak lagi bersuara. Keheningan diantara kami mulai menciptakan suasana lain.
Dia yang bungkam dengan taut wajah seakan tengah memikirkan sesuatu dan aku yang diam-diam mencuri pandang ke arahnya. Ketika Mingyu tidak pernah menyadarinya maka saat itu aku sedang mengagumi bagaimana rupanya.
Berjuta pertanyaan bermunculan dan itu selalu berkaitan dengan Mingyu. Mungkin akan lebih mudah jika aku membencimu, namun di hari seperti sekarang ini, aku kembali ditenggelamkan ke dalam cintanya yang tak berdasar. Mingyu sangat perhatian, aku merasa menjadi salah satu orang yang ia spesialkan.
Bersambung...
_____
Remake @Gulasagu @Bananaa97___
#wendy #mingyu