Wendy And Boys

Wendy And Boys
Secangkir Kopi (1)



***


Jungkook Point of view:


Dinginnya suhu ruangan ini sudah tidak kuarasakan lagi sejak satu jam yang lalu karena tergantikan oleh panasnya butiran bening yang terus menerobos keluar berlomba melewati pori-pori kulitku yang kini terasa basah.


Brukk~


Untuk kelima kalinya aku kembali terjatuh. Mungkin kali ini aku sudah mencapai batas. Tubuhku terasa sangat sakit semua. Bau anyir darah mulai menyeruak masuk ke indra penciumanku.


Sepertinya bibirku terluka akibat terbentur lantai tadi, bagaimana ini padahal besok ada acara wawancara penting, aku tidak ingin absen. Atau lebih tepatnya aku tidak ingin mengecewakan para hyungdeul karena tidak bisa menjaga diri. Tapi apa daya aku melakukan semua ini demi mereka, keluarga keduaku serta untuk para fans yang selalu menyayangi kami di luar sana.


Kucoba tuk bangun namun kakiku serasa kaku, tidak bisa digerakan. Sial, bagaimana caranya aku pulang kalau seperti ini ceritanya. Hm.. terpaksa aku bermalam disini, mungkin.


Kurasakan pandangku juga mulai memburam, namun rasa sakit lagi-lagi membuat netra ini untuk tetap terbuka.


Sekitar lima menit aku masih bertahan dengan posisi seperti ini karena sepertinya kakiku memang benar-benar kram sehingga tidak bisa digerakkan.


Saat kelopak ini hendak menutup sempurna, tiba-tiba saja kudengar suara pintu ruang latihan ini terbuka. Derap langkah pelan mulai mendekatiku. Langkah kaki itu tepat berhenti di sampingku.


"Ini, sepertinya anda butuh ini" ucap pemilik langkah kaki itu seraya meletakkan sesuatu tepat di depan wajahku.


Dari suaranya aku tahu kalau dia seorang yeoja. Harum lembut aroma kopi beserta karamel mulai menyeruak menembus indera penciumanku, sungguh wangi. Tapi tunggu, orang ini bukannya membantuku berdiri malah memberiku secangkir kopi.


"Kenapa anda diam tuan? Apa anda tidak ingin kopi, kurasa anda butuh istirahat sejenak dan minumlah secangkir kopi ini" serunya dengan nada lembut yang entah membuat hatiku menghangat.


Kudongakkan wajahku mencoba melihat siapakah pemilik suara lembut itu, namun sayang penglihatanku mulai memburam dan hanya satu hal yang dapat kulihat dengan jelas, yeoja di depanku ini memiliki surai berwarna caremel coklat.


"Kau, bisakah kau bantu aku untuk bangun terlebih dahulu"


"Apa anda tidak bisa bangun sendiri?" Tanyanya balik membuatku sedikit bingung, apa Ia tidak bisa melihat keadaanku yang setengah sekarat ini?


"Kalau bisa juga aku sudah bangun sendiri sedari tadi tanpa meminta bantuanmu," balasku lagi.


"Hm maaf.. saya kira anda sedang tiduran karena lelah"


"Sudahlah tolong bantu aku untuk duduk" Yeoja caramel itu menurut Ia membantuku bangun.


"Omo! anda terluka tuan"


"Ya aku memang terluka karena itu aku tidak bisa bangun sendiri"


"Ya sudah tuan disini dulu saya akan ambil p3k di tas saya dan sambil menunggu, minumlah kopi ini" Ia lagi-lagi menyodorkan kopi itu ke arahku lalu berlari keluar dari ruang latihanku ini.


Lama aku memandang secangkir cairan hitam manis itu hingga akhirnya kuarahkan tanganku untuk menggapainya.


Satu teguk berhasil lolos menyelusuri tenggeorokanku yang memang terasa kering. Hangat, dan nikmat, jujur aku tidak terlalu suka manis tapi kopi kali ini terasa beda, tidak terlalu manis dan tidak terlalu pahit, ini sangat pas. Aku yakin tidak sembarangan orang bisa membuat kopi seenak ini.


Setelah satu tegukan pertama, perlahan aku mulai menghabiskan secangkir kopi pemberian namja karamel itu. Pandanganku juga mulai kembali normal mungkin karena efek kafein dalam cairan penghilang rasa kantuk ini.


Selang beberapa lama pintu ruangan ini kembali terbuka menampilkan sosok ma-nis yang tadi sempat pamit keluar, aku tidak menyangka ternyata Ia yeoja tadi memiliki wajah yang sangat manis.


"Eum tuan bolehkan saya membantu mengobati luka anda?" ucapnya dengan sedikit memandang prihatin ke arahku.


"Hm, kalau kau mau"


"Tentu saja saya mau tuan, tidak mungkin saya setega itu membiarkan orang lain terluka sedangkan saya memiliki kesempatan untuk menolongnya" ucapnya seraya mulai mengoleskan obat di beberapa wajahku yang lecet.


"Kenapa anda berlatih sangat keras tuan bahkan ini sudah jam 1 pagi"


"Kau sendiri, kenapa masih disini dan kenapa kau mau menolongku apa kau penggemarku?" Bukannya menjawab aku malah berbalik tanya kepadanya.


"Menolong itu tidak pandang bulu dan saya bukan penggemar anda karena mm.. jujur sebenarnya saya tidak mengenal anda"


"Kau tidak mengenalku?"


"Ya"


"Apa kau karyawan baru?" Tanyaku lagi yang langsung dibalas anggukan olehnya.


"Hari ini hari pertama saya bekerja disini tuan"


"Pantas saja aku baru melihatmu"


"Kau sangat berani, kau tidak mengenalku tapi berani untuk menolongku, bagaimana jika aku berbuat sesuatu padamu lagi pula kita hanya berdua di ruangan ini"


"Anda benar tuan, terkadang menolong sesuatu memang butuh keberanian"


"Yah kau yeoja yang sangat manis, hm kenapa wajahmu sangat manis" entah aku salah bertanya atau apa, tiba-tiba saja kulihat pipi yeoja manis yang tengah mengobati lukaku ini bersemu merah menambah tingat kemanisan di wajahnya, eh apa yang aku katakan ini? Kenapa sedari tadi aku menyebutnya manis?


"Apa yang anda katakan, saya ini jelek tidak mungkin manis"


"Sudahlah teriman nasib kalau kau memang manis dan ngomong-ngomong siapa namamu kita belum berkenalan tapi kurasa kau pasti mengenalku"


"Nama saya Seungwan, Son Seungwan, tapi biasa dipanggil Wendy. Nama anda siapa tuan?"


"Kau benar tidak mengenaliku?" Aku sungguh tidak percaya, baru kali ini ada orang yang tidak mengenali siapa diriku.


"Tidak, memangnya anda siapa?"


Bukannya menjawab lagi-lagi aku malah balik bertanya, "Apa selama ini kau tinggal di dalam Goa? Atau di atas puncak gunung? Kenapa sampai tidak mengenaliku?"


"Ani, saya tinggal di Desa"


"Kutebak itu pasti Desa terpencil"


"Lalu kenapa kau tidak mengenaliku Seungwan-si bahkan hampir seluruh dunia mengenalku"


"Benarkah? Apa anda artis terkenal?"


"Bisa dibilang demikian, perkenalkan aku Jungkook, Jeon Jungkook, maknae dari boy group BTS"


"Owalah BTS toh pantas saja anda terkenal"


"Tidak juga, buktinya kau tidak mengenalku"


"Maaf, selama ini aku terlalu sibuk sampai tidak ada waktu untuk mengenal kalian para artis"


Hening, hingga akhirnya aku kembali memulai pembicaraan.


"Bagaimana kau bisa membuat kopi seenak itu Seungwan-si?"


"Tidak tahu, mungkin sudah bakat yang diwariskan oleh keluarga saya"


"Memangnya ada ya yang seperti itu"


"Entahlah saya juga tidak tahu, tapi menurut orang-orang kopi buatan saya memang sangat enak"


"Hm, tidak diragukan memang"


"Terimakasih tuan"


"Tidak perlu seformal itu kau temanku sekarang"


"Mengapa demikian Jungkook-si?"


"Kau telah membantuku jadi kita teman sekarang"


"Saya hanya pegawai biasa atau lebih tepatnya hanya tukang pembuat kopi disini tidak pantas untuk berteman dengan anda tuan"


"Sudah kubilang jangan formal, panggil saja aku oppa dan kita teman tidak ada penolakan"


"Mana bisa seperti itu tuan"


"Tentu saja bisa jika itu berkaitan dengan Jeon Jungkook" ucapku sambil tersenyum dan mengusak surai karamel Seungwan. Dan untuk kedua kalinya aku melihat pupi chubby itu kembali dihiasi buah cherry.


"Kau imut sekali Seungwan-ah"


"Saya tidak imut tuan"


"Aigo lihatlah wajah merahmu itu bercermin kau sangat imut"


"Tidak tuan saya jelek gendut juga"


"Panggilan"


"Tidak oppa" ucapnya malu-malu duh ingin rasanya menggigit pipi gembul itu.


"Anak pintar, ngomong-ngomong kau tinggal dimana biar aku antar pulang ini sudah larut"


"Aku mm.. sebenarnya.. aku"


"Kau kenapa?"


"Aku.. sebenarnya aku belum punya tempat tinggal"


"Kenapa bisa?" Tanyaku tidak percaya.


"Tadinya aku bekerja di kafe dan di kafe itu aku diberi tempat tinggal. Lalu ada seorang yang menawariku untuk bekerja disini saja dengan bayaran tiga kali lipat lebih tinggi dan pekerjaannya juga mudah hanya membuat kopi saja untuk para staf disini"


"Jadi kau sekarang tidak punya tempat tinggal?"


"Bukannya tidak punya oppa tapi belum punya hehe besok aku baru akan mencarinya, tadi sore aku sudah izin kepada bos agar malam ini aku menginap disini"


"Bagaimana kalau kau tinggal di apartemenku saja? Aku jarang memakainya karena waktuku banyak kuhabiskan bersama member di dorm, jadi dari pada tidak terpakai lebih baik kau pakai saja"


"Tidak perlu itu akan menerepotkan lagi pula aku tidak ingin berhutang budi"


"Itu bukanlah hutang budi Seungwan-ah, kau kan telah menolongku tadi jika tidak ada kau mana mungkin aku sudah pingsan sampai pagi"


"Tapi aku hanya membarikan bantuan kecil oppa sedangkan bantuanmu itu besar, sangat tidak seimbang"


"Bukankah kau sendiri yang bilang membantu itu tidak pandang bulu selagi kira ada kesempatan untuk menolong mengapa tidak" aku mengucapkan kata-kata yang sama persis Ia katakan beberapa saat yang lalu dan berhasil membuatnya bungkam seketika.


"Tapi oppa"


"Sudah tidak ada tapi-tapian ayo kita pulang" kulihat Ia menganggukan kepalanya tanda setuju namun masih tersirat raut keraguan di wajah manisnya.


"Tenang saja apartemenku memiliki dua kamar, aku tidak akan macam-macam padamu Seungwan-ah"


"Terimakasih oppa"


"Terimakasih juga telah menolongku dan memberiku secangkir kopi yang sangat enak" mendengar ucapanku anak itu hanya kembali merona, argggg kalau seperti ini terus bisa-bisa aku khilaf.


Akhirnya aku lebih memilih berjalan mendahului makhluk manis itu. Kami berdua pun berjalan keluar menuju tempat dimana aku memarkirkan mobilku, setelah sebelumnya mengambil barang-barang Seungwan.


Akupun tak lupa memakai masker hitam, topi dan juga kaca mata hitam yang senantiasa singgah di wajahku itu sebagai penyamaran agar tidak ada yang tahu siapa diriku sebenarnya.


Bersambung..