
***
Segelas minuman mengisi gelas, tercampur diantara balok es yang terguncang kala gerakan kecil sebagai pengaduk dilakukan.
Andai saja seseorang dirumah sana melihat apa yang tengah aku lakukan, pastinya aku kan ragu bisa melihat matahari di pagi nanti.
Sungguh mengenaskan bila dikata, aku tak diperbolehkan bermain sesuka hati (ahh itu pun karena dia tipekal orang keras).
Dan pandanganku beralih dari cairan coklat bening kearah seorang wanita yang duduk di sampingku. Kami bertemu disebuah bar tepat pada tengah malam.
Lalu rasa haus (akan penasaran) atau bosan mengambil alih, entah bisikan dan hasrat datang darimana, aku mulai mengajak ngobrol wanita bersurai pirang sepinggang yang terlihat ayu ini walau masih lebih ayu kekasihku.
Dilihat secara sekilas ia agaknya mirip dengan yang di rumah.
Sesungguhnya aku penasaran. Sekali saja tidak apa kan? Tidak, tidak mungkin dia marah selama dia tidak tahu apa yang aku perbuat. Aku jadi ingin mencobanya.
Lantas apa aku tidak takut? Bukankah sama saja aku mengkhiati dia? Atau memang benar cintaku tak setulus dan sebesar dulu? Agaknya aku mulai merasakan itu (hubungan kami akhir-akhir ini merenggang).
Aku ingin berbuat dosa, sudah kuputuskan.. maafkan aku yang di rumah dan yang di atas sana.
"Hahaha.. Kau tahu? Kau sungguh menarik. Jadi namamu?" Wanita itu mengulurkan tangan, mengajak saling bertukar nama dan sambutan hangat aku berikan. Tidak buruk juga wanita di sampingku, Ia sangat cantik.
Aku hanya akan mencobanya sekali, aku janji. "Sehun, Oh Sehun"
Yah Seungwan-ah keputusan ku sudah bulat. Ini cuma pemuas dari rasa penasaran, aku tak kan berkhianat, walau aku ragu mengucapkannya. Kau tetaplah nomer satu di hatiku, Son Seungwan.
****
Aku dapat pulang tanpa perlu diantar dan jarum jam pada arloji menujukan angka 01.30 dini hari. Pintu apartemen aku buka secara pelahan, gelap ruang menyapa, menjadi penyambut kepulangan. Aku berjalan menelusuri lorong ruang apartemen, menepakan kedua kaki sepelan mungkin, layaknya pencuri yang berusaha tidak membuat suara langkah dikeheningan malam yang mencekam.
"Seharusnya kau tak perlu pulang walau aku tahu apartemen ini kau yang menyewa lebih"
Langkahku terhenti, tersentak kaget melihat sosok di depanku. Apa dia masih terjaga? Untuk apa? Ini sudah larut malam. Aku pandangi sosok mungil yang tertelan kegelapan namun masih tersirat siluet ayu parasanya.
Dia berdiri, melipat kedua tangannya di depan dada dan wajah euh mengerikannya seakan mengatakan Ia ingin membunuh seseorang dan aura mencekam apa yang keluar itu? Aku bergidik ngeri mendapati kemarahan tengah menyelimuti sosok kekasihku.
Tidak jangan sampai Ia tahu, aku tidak ingin hubungan kita hancur.
"Wan-ah"
Dan memang nampak seperti pencuri yang ketahuan, aku berujar sebambari gugup. kutelan ludah dengan susah payah, aku merasa tercekik di bagian leher.
"Memang seharusnya aku tak perlu menunggu." Tubuh mungil itu berbalik, Seungwan kembali memasuki kamar kami.
"Dan kau tuan Oh, sebaiknya kau tidur di luar malam ini." Bersamaan dengan pintu yang tertutup secara kasar, tubuh itu tak lagi terlihat.
Tunggu, ada kalimat yang salah. Seungwan menunggu ku? Dia menunggu hingga selarut ini? Apa dia bersikap manis? Tidak, ini bukan seperti dia saja.
Barangkali hati Seungwan tidak terbuat dari batu, dan dia mengetahui kesalahannya. Namun, jika dipikir memang tidak akan seperti itu.
Canel tv aku pencet secara acak, mengalihkan dari satu acara lain ke acara lainnya (mencari yang bagus hingga cocok untuk ditonton).
Tidak ada yang bagus disana, hanya ada tayangan berita malam ataupun move-kebanyakan action memenuhi sebagian saluran tv. Lelah mencari akhirnya kuputuskan saja untuk membiarkan tv padam, memperlihatkan layar hitam tanpa kehidupan.
Kini kebalikan dari sebelumnya karena sekarang tv yang menontonku. Tidak ada kegiatan yang dapat aku lakukan selain rabahan diatas sofa yang untungnya besar dan empuk.
Aku membaringkan tubuh menghadap atap langit rumah. Walaupun empuk, tetap saja tidur di sofa sangatlah tidak nyaman ditambah Seungwan-ku dengan kejamnya tidak memberikan bantal maupun selimut.
Aku menggosok kedua telapak tanganku, memeluk tubuhku sendiri sepertinya aku harus bertahan di dinginnya suhu malam.
Bersambung..
_______
Remake @Gulasagu @Bananaa97__
#wenhun