
"Ibu akan masak masakan terenak sedunia" ujarnya kemudian berlalu pergi ke dapur.
Aku tak mengerti dengan ibuku, mengapa dia heboh dengan urusan makan malam? Bukannya lebih baik duduk bersama, menghabiskan waktu lebih lama?
Mungkin ibu hanya merindukan memasak untuk seseorang selain ayah.
Soal ayah, apa dia belum pulang?
"Ibu, apa ayah belum pulang?" tanyaku setengah berteriak.
"Ayah mu pulang jam 18.00" serunya dari arah dapur.
Aku melihat arloji yang melingkar ditanganku, Sekarang pukul 17.30. Sebentar lagi dia akan pulang. Sebenarnya aku tak peduli dengannya, tetapi dikunjungan kali ini aku ingin keluargaku lengkap karna ada sesuatu yang akan aku sampaikan dan itu sesuatu yang penting.
Sekitar dua jam telah aku habiskan di kediaman orang tuaku. Setelah makan malam berlalu kini kami semua berkumpul di ruang keluarga. Sebelumnya aku sudah mengatakan akan menyampaikan sesuatu di sela makan malam yang telah kita lalui.
"Jadi hal penting apa yang ingin kamu sampaikan?" tanya ayah menatapku penuh rasa penasaran.
Aku menarik nafas dalam-dalam. Bukannya sudah aku tetapkan hatiku? Aku tidak boleh goyah dan takut. Aku sudah memikirkan ini jauh-jauh hari, aku sudah menyiapkan semuanya. Namun entah kenapa rasanya sangat sulit, keberanianku yang telah aku kempulkan seakan mulai lenyap pelahan-lahan.
"Tak perlu gugup begitu, nak!" ujar ibu mengelus punggung tangan ku. "Kami keluarga mu, bukan? Katakan saja."
Ibu yang memberikan dorongan membuat kepercayaan dan kebenarianku kebali.
"Aku ingin menikah" ujarku dalam sekali tarikan nafas.
Kedua orang tua ku nampak terkejud namun detik berikutnya perasaan lega terlihat jelas bahkan terlihat bahagia terutama ibuku.
"Kau akan menikah? kapan? siapa calonnya? kenapa tidak kau bawa? Dia anak baik-baikan? aist.. Seharusnya kau mengenalkannya pada kami."
Ibu menyercaku dengan beberapa pertanyaan. Ayah hanya memejamkan matanya sesaat dan menutup koran yang sendari tadi ia baca.
"Ugh.. Aku.."
Belum sempat menyelesaikan perkataanku, ayah dengan seenaknya memotong perkataanku.
"Apa dia cantik? Kau punya fotonya? Ibu.. biarkan Ibu melihatnya."
Ibu kembali berkata dengan antusianya, dia berpindah duduk tepat disamping ku.
"Biarkan Ibu melihat fotonya" pinta ibu ku dengan mata berbinarnya.
Di usianya yang sudah berumur, dia masih saja penuh dengan semangat.
Aku ambil smartphone dari saku celanaku dan mulai mencari foto kekasih ku kemudian menyerahkannya pada ibuku. Aku menyerahkannya dengan tangan bergetar, sedikit takut namun aku tidak boleh mundur.
Dan ketika ibu melihat layar smartphone ku, dia terpaku dan menatapku tidak percaya. Keterkejutan memenuhi dirinya.
"Ka..kau tidak mungkin kan?" tanya ibuku setengah tidak percaya dengan apa yang barusan ia lihat. "Katakan pada Ibu pasti kau salah memperlihatkan foto."
Aku menggeleng pelan, tidak ada yang salah dengan foto yang aku tunjukan pada ibuku. Disana aku mencium pipi kekasih dengan perut buncit, bukannya itu sudah membuktikan.
Ayah yang merasa heran dengan reaksi ibu ku, ingin merebut smartphone ku tapi aku lebih dulu mengambilnya. Aku masih sayang dengan benda persegi panjang ini. Ayah hanya perlu mendengarkan penjelasanku.
"Yah, itu benar Ibu. Aku menyukai ah tidak, aku mencintai seorang gadis baik dan aku ingin menikahi dia yang ada di foto itu."
Mungkin butuh beberapa detik untuk kedua orang tuaku memahami ucapan yang barusan aku utarakan.
_______
Bersambung....
Remake @Gulasagu @Bananaa97__ 🤗
#wenv