Wendy And Boys

Wendy And Boys
Nothing to Feel (3)



***


Kupeluk pinggang ramping di depanku. "Wannie sayang, jika semua tidak berjalan sesuai apa yang kita harapkan, apa kau akan kecewa?" tanyaku berbisik dekat telingannya.


Aku membenamkan wajah diceluk lehernya, menghirup dalam-dalam aroma wangi yang menyeruak keluar. "Aku mencintaimu, Seungwan-ah sangat sangat mencintaimu." Rasa sakit ketika aku nyatakan kalimat itu seakan membuat jarum imajiner berhasil menusuk dan mengorek hatiku lebih dalam.


Potongan ingatan tentang pengkhianatan pun menguap, mengingatkan akan ke-tidak-setiaan-ku (beberapa bulan ini), akan dosa yang aku lakukan.


"Wan-ah, mengapa penyesalan datang diakhir?"


Aku merasa bersalah, seharusnya memang begitu. Aku tahu ditahap seperti ini seharusnya pihak yang mendominasi dapat mengendalikan secara bijak agar tidak terjadi pertingkaian selama berada dalam masa jenuh suatu hubungan. Wan-ah, aku bukanlah pasangan yang bertanggung jawab. Maafkan aku, cintaku tidak setulus itu.


"Oppa, jika kau pikir penyesalan berada di awal, kau tidak mungkin menemukan kesalahan," ucapmu menutup buku yang sedang kau baca.


Buku tebal dengan sampul biru bergambar organ manusia membuatku mengernyit heran(Apa kau tidak pernah memusingkan ketebalan buku itu? Bahkan aku saja yang melihat bergidik ngeri). "Dan kau tak akan pernah bisa belajar dari pengalaman atau dari kesalahan sebelumnya."


Belajar dari kesalahan yah? Apa yang dapat aku pelajari jika kesalahan itu sudah terlanjur terjadi. Maksudku, apa dengan berajar dapat memperbaikinya?


Atau mungkin bisa mencegah terjadi untuk kedua kali. Mungkin, opsi terakhir bisa dijadikan jawaban paling sepurna.


Khilaf itu, perempuan itu, keduanya tidak bisa aku jadikan sebagai pelampiasan atas kesalahan yang tidak bisa aku hentikan. Disini aku sendiri yang salah, murni kesalahanku lantaran aku tidak dapat menahan diri dengan baik. Dan aku benar-benar seorang penjahat.


"Wan-ah, andai kata Suho hyung menghamili perempuan diluar sana, apa pendapat yang akan kau ungkapkan?" Maafkan aku, Suho hyung untuk saat ini aku memerlukan perumpamaan (Aku tidak mungkin berkata secara gamblang soal kehamilan perempuan yang mengaku mencintaiku, perempuan yang tidur denganku dan Ia menyerahkan keperawanannya sebulan yang lalu).


Seungwan berbalik dan menatap sinis. Raut wajahnya seakan sedang merendahkan. "Suho oppa menghamili perempuan? Cih, sungguh menjijikan." Aku meringis mendengar jawabanmu.


"Jika kau berada di posisi Irene noona, apa yang akan kau lakukan?" tanyaku berhati-hati mengungkapkannya.


"Tentu saja aku... "


Ting..


Tong..


Perkataannya terpotong oleh suara bel. Ahh.. Sungguh aku menyumpah siapapun yang datang.


"Biar aku saja yang membuka," Dan Seungwan pun berlalu pergi untuk membuka pintu, menyambut tamu yang sudah aku sumpahi dengan baiknya.


Aku merabahkan kepalaku di atas sofa, menengadah melihat atap langit ruang santai tempat sekarang aku berada. Sedikit menajamkan pendengaran, aku perlu tahu siapa yang datang tanpa harus susah payah ikut menyambut sang tamu.


Sekitar 3 menit, Seungwan-ku kembali. Langkah kakinya yang jenjang Ia langkahkan dengan segera. Menapak lantai, memberikan penekanan pada marmel pelapis bagian bawah.


"Sayang, tunggu! Siapa yang datang?" tanyaku segera bangkit dari duduk mengejar Seungwan yang berjalan ke arah kamar kami.


Blam..


Belum sempat aku meraihnya, Seungwan lebih dahulu memasuki kamar, membating pintu bercat coklat.


"Wan-ah, hei ada apa? Sayang buka pintu!" pintaku mengetuk pintu. Dan tepat pada ketukan ke lima pintu mulai terbuka menampakan Seungwan dengan koper besarnya. Aku yang melihat itu hanya diam, mencerna situasi yang sedang aku hadapi sekarang.


"Kau ingin tahu jawabanku, bukan?" ujar Seungwan mengangkat salah satu sudut bibirnya. "Aku akan pergi darinya." Koper besar itu, Ia seret menjauhi ku. Ia berlalu pergi.


Lantas aku pun tak ingin kehilangannya, aku mengejar Seungwan yang beberapa langkah berada di depanku.


"Sayang, tunggu! Kau mau kemana?"


"Aku bilang berhenti, Sayang!"


"Sayang..!!"


"Baby..!!"


"Son Seungwan..!!"


Tetap saja gadis bersurai coklat pendek tidak mau menghentikan langkahnya, malah justru Ia semakin cepat. Dan tepat berada diambang pintu yang telah terbuka lebar, aku berhasil meraihnya, mencekam tangan yang tak berapa besar dariku. Aku membalik tubuh mungilnya, menatap dalam manik karamel milik kekasih manisku ini.


"Lepaskan! Kita berakhir, Sshun-ssi!"


Perkataan yang barusan Ia ungkapkan membuat ku diam seketika. Kata 'berakhir' membuatku terguncang. Tak mungkin bukan, Seungwan memutuskan hubungan kami?


Tidak! Jangan lakukan itu, Wan-ah. Tanpa sadar aku meremas baju di area dada, rasanya disana sangat sakit terasa sesak hingga membuat tidak dapat bernafas dan akhirnya mengakibatkan cairan bening tumpah menelusuri pipi.


"Kenapa?" tanyaku berusaha tidak terisak. Aku tidak pernah tahu bahwa putus itu semenyakitkan ini.


Pantas saja orang alay diluar sana banyak yang melakukan bunuh diri karena cinta dan aku salah satu korban cinta itu sendiri (atau mungkin aku akan benar-benar menjadi salah satu koran bunuh diri itu?).


Tapi kenapa Seungwan-ku mengatakan secara tiba-tiba?


"Sehun-ssi."


Dan aku tahu alasannya setelah mendengar suara lembut di belakangku. Perempuan itu berdiri disana, Ia datang dan aku yakin Seungwan mengetahui kehamilannya, cukup tahu bahwa akulah ayahnya.


"Wan-ah, aku akan jelaskan!"


Namun sia-sia sebab Seungwan tidak berada disini, Ia telah menghilang dari pandangan ku. Aku sendiri hanya jatuh terduduk, menangisi kebodohanku.


Dan satu hal yang baru aku sadari, ternyata perempuan yang telah kuhamili ternyata Ia adalah sepepu dari kekasihku, pantas saja mereka terlihat sangat mirip.


Aku sangat menyesal, maafkan aku Seungwan-ah.


END


_________


Remake @Gulasagu @Bananaa97__ 🤗