Wendy And Boys

Wendy And Boys
Kembang Api Fana (2) ________



Ketika kami lelah berdiri, duduk dipinggiran jalan adalah sebuah keputusan. Kelihatannya angin malam menjadi media pesan karenanya aku dapat mendengar musisi dari kejauhan, mungkin terdapat hiburan kecil yang menyertakan musik sebagai penghibur.


Makhota brokade mekar di langit malam pertanda sebuah masa yang terus berlanjut, hanya tinggal sebentar lagi musim panas akan berakhir.


Dan itu tiba-tiba terasa menyakitkan sepertinya hati mulai terbalik meluncur ke langit dan kau kembali berbicara setelah lamanya bungkam. "Aku mencintaimu Seungwan-ah." ucapanmu membuatku mengulum senyuman.


"Bagaimana dengan mu?" tanyanya mengambil tangaku, membawa dalam genggamnya. "Apa kau juga mencintaiku?"


Hah.. hembusan nafas gusar terdengar jelas saat aku membuang nafas. "Seharusnya aku melupakan segalanya tentang mu. Mengapa kita harus bertemu?" Memang benar, seharusnya aku melupakannya.


Aku tidak tau bagaimana narasinya. Hanya saja dengan ucapan manis, tiba-tiba saja aku terserang demam dan aku mendapati diriku jatuh cinta padanya.


"Kita bertemu sebab kau jodohku. Kau soulmateku." Dengan suara itu, dan dengan mata itu. Jika aku menyadarinya, waktu berlalu begitu saja. Namun, aku masih mencari jawaban atas pertanyaanmu. Apa aku benar-benar mencintaimu?


Lantas apa benar aku bagian dari takdirnya? Sedikit ragu, kenapa aku merasakan keraguaan? Atau memang benar aku takut terluka atas hubungan ini, hey aku lebih tua darinya jadi wajar jika aku merasa ragu.


Kembang api yang kita lihat bersama, membuatku sedikit sakit. Dan segera mungkin musim selanjutnya akan segera datang. Aku melihat kembang api berlangsung cepat bersama Mingyu. Tak terasa pula festival akan diakhiri.


"Sebaiknya kita pulang" Aku tepuk-tepuk pantatku guna menghilangkan debu yang melekat disana, tetapi tangan jail, aku dapati. Mingyu menggeplak pantatku. "Hentikan Mingyu Kim! Atau aku akan membunuhmu, " ucapku mengancam.


Sang pelaku hanya mengangkat kedua tangannya. "Baiklah, aku mengalah. Aku terlalu takut kau cuekin selama satu minggu lebih. Kau tahu kan waktu itu aku sangat tersiksa, rasanya 10 hari seperti setahun."


"Jangan lebay, aku tidak sudi menjadi Jimin kedua." Dan sampai sekarang aku masih penasaran Mengapa Seulgi mau menerima Jimin yang notabenenya orang alay serta bucin akut.


"Aku berterima kasih, kau mau menerimaku." Senyum miring terukir menghias wajah Mingyu.


Berserta ketulusannya, ia berterima kasih akan hubungan yang kami jalani, hubungan yang sebenarnya menggantung sebab aku tidak pernah berkata "Iya" sebagai penanda bahwa aku menerimanya.


"Aku tidak merasa pernah menerima mu" ucapku yang kemudian dibalas dengan senyuman mu.


***


Bahkan hingga sekarang, aku masih memikirkan musim panas itu. Pijitan pada pangkal hidung, tak juga menghilangkan pusing yang mendera kepala. Memang telah berlangsung lama, tetapi ingatan itu seakan baru saja dibuat.


"Aku tidak menghadiri festival hanya untuk menontonmu melamun, noona," ujar Mingyu menegurku.


"Maaf, aku terlalu banyak melamun," ucapku berusaha kembali fokus pada kegiatan kami.


Cinta itu seperti bunga diawali dengan benih lalu tubuh semakin besar hingga menghasilkan kuncup kemudian kuncup itu akan mekar secara pelahan sampai benar-benar mekar sempurna.


Dan seharusnya aku tahu itu, dimana bunga akan melayu dan hanya akan menyisahkan biji yang dapat di tiup angin lalu tumbuh dilain ladang. Seharusnya saat aku memiliki bunga itu, tak sepantasnya aku menyia-nyiakan keberadaannya yang indah.


Jika dulu Mingyu yang mengajak ku, kini aku yang meminta ia datang untuk menemaniku berkeliling festival.


Ini pun kesalahanku, aku tidak pernah mau mencintai dia secara tulus. Dan itu membuat Mingyu lelah, ia memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami.


Tepat tiga tahun lalu, dia berucap bahwa ia telah lelah memintaku untuk mengatakan cinta padanya dan ia juga berkata jika dia cukup ragu dengan hubungan kami, lebih tepatnya ia ragu pada perasaanku. Aku mewajarinya karena orang memang butuh kepastiaan dan aku tidak bisa memberikan kepastian itu.


Aku mencintamu" ucapku tegas.


Mingyu hanya diam lalu tak lama berkata, "Oh Yah Wan-ah, kau pernah bilang padaku bahwa cinta itu seperti bunga," Memang benar aku pernah berkata demikian itu sekitar beberapa tahun lalu dan itu saat aku menolak cintanya.


Aku mengatakan jika cinta itu bunga maka bibitnya dapat disapu angin dan tumbuh dilain tempat. Tidak seharusnya Mingyu mencintaiku. "Aku bukanlah dendalion dimana benihnya dapat dengan mudah diterbangkan angin."


"Kau ingin berkata apa?" sungguh ucapnya terlalu bertele-tele. Ia mestinya tahu aku tidak suka hal itu.


Senyum miring yang menggoda kembali muncul menghias wajah, membuatnya nampak lebih rupawan. "Aku hanya ingin berkata cintaku itu bunga matahari, dimana bijinya akan tersebar di bawah batangnya dan tumbuh di lahan yang sama. Jadi kali ini jangan menolak bunga itu sayang"


Yah, Tuhan sangat cepat mengabulkan permintaan ku.


"Terimakasih, aku mencintaimu... Sangat mencintai mu."


Dan berakhirlah aku di dalam dekapannya. Dekapan orang yang aku cinta. Kali ini, dikesempatan ini, aku tidak akan menjadi pembual dan aku akan lebih jujur lagi terhadap perasaanku.


End.


________


Remake @Gulasagu @Bananaa97__ 🤗


#wendy #mingyu