Wendy And Boys

Wendy And Boys
One Night (1)



Discremenary:


Kebersamaan mereka di sepertiga malam.


...


Malam ini ada yang terasa aneh dan entah mengapa hatinya terasa resah gelisah, tak nyaman sama sekali.


Sudah berapa kali dirinya merubah posisi mencari posisi nyaman untuk mengurangi kegelisahannya namun rasa itu tak kunjung menghilang bahkan rasa kantuk yang seharusnya mendera tak kunjung datang. Sedangkan jam dinding menunjukan pukul 2.20 AM, kedua mata miliknya masih senantiasa terbuka lebar.


Begadang bukanlah suatu hal yang biasa dilakukan, tapi entah mengapa malam ini dirinya susah sekali tidur.


Lelah menanti rasa kantuk yang sendari tadi ia harapkan, Seungwan akhirnya memilih bangkit dari rabahannya. Pikirnya mungkin sedikit berjalan-jalan akan mendatangkan rasa itu dan suasana di luar sana tak buruk, Ia menatap jalanan di depan rumah melalui jendela yang disibak sedikit tirainya.


Andai kata seseorang melihat dirinya, mungkin mereka kira Seungwan merupakan seorang pencuri. Tak ada salahnya dari pemikiran itu sebab tak ada orang yang rela keluar rumah dini hari seperti ini kecuali para pencuri tapi, peduli apa toh nyatanya ia juga orang yang baik-baik, bukan pencuri ataupun orang aneh lainnya hanya dia tidak bisa tidur dan ia merasa bosan.


Di suasana seperti ini bayangan masa lalu dengan jalangnya melintas, samar-samar ingatan tentang seorang pria menjadi tajam dan kalimat "Jika saja..." memenuhi pemikirannya.


Mungkin kalau kalimat "Jika saja" dikembangkan lebih dalam, hatinya akan terluka dan tidak ada hal yang paling bodoh selain mengandaikan sesuatu yang tak mungkin terjadi. Untuk melambungkan diri dalam khayalan, itu hanya menguras emosi. Tidak berguna sama sekali bukan?


Jalan setampak yang menghantarkannya ke arah taman, masih senatiasa ia telusuri. Sekelilingnya benar-benar sunyi, suara serangga pun enggan berbunyi hanya ada samar-samar suara gesekan dari daun yang tertiup angin.


Mendongakan wajah, menatap jelaga kelam di atasnya. Disana bulan masih terlihat indah begitupun dengan bintang. Malam ini terlihat begitu terang.


"Bulan terlihat indah malam ini" serunya menyunggingkan senyuman. Itu kalimat yang pernah diucapkan seseorang tatkala ia melihat bulan dan orang itu juga akan berkata bahwa dirinya lah yang lebih indah dari satelit kepunyaan bumi itu.


Gombalan receh yang dirindukan.


Harusnya tak perlu jadi sensitif begini! Bukannya ia keluar untuk mencari rasa kantuk? mengapa kegalauan yang ia dapatkan.


"Oh..Tuhan, mengapa kau begitu kejam pada ku" gumannya sembari menendang kerikil di dekat kakinya.


"Tidak pantas menyalahkan Tuhan."


Ketika mendengar seseorang berkata, tubuh Seungwan terpaku. Di depannya sosok yang tak mungkin ada tengah berdiri di bawah sinar lampu jalan. Tubuhnya yang menjulang tinggi ia senderkan di tiang lampu.


Apabila orang lain yang melihat fenomena ini, mungkin mereka terkaget bahkan bisa saja mereka berteriak dengan keras dan berakhir kabur atau tak sadarkan diri. Namun, yang mengalamai kejadian seperti ini merupakan Son Seungwan, orang yang dikenal terlalu rasional dan kaku plus minim ekspresi.


Selain halusinasi, apa lagi yang dapat dijelaskan? Seungwan mengerti semua yang dia lihat cuma hayalan begitulah saat akal rasionalnya mengambil alih.


"Kau tak pernah berubah, yah noona. Padahal kita sudah lama tidak berjumpa harusnya kau berikan eskpresi yang lebih berwarna seperti terkejut misalnya."


Seungwan memilih mengiadakan makhluk di depannya. Dengan memasukan tangan di saku bajunya, ia melangkah tanpa ragu melewati sosok itu.


Bersambung...


Remake @Gulasagu @Bananaa97_& 🤗🤗