
...🐸🐸🐸...
Pagi ini seperti biasa pasangan wenkook berangkat bersama menuju gedung agensi. Setelah berpacaran dengan Seungwan, Jungkook memang jarang pulang ke dorm. Ia lebih memilih menemani Seungwan di rumah bersama secangkir kopi buatan sang pemilik hati tentunya.
Seungwan sendiri masih bekerja sebagai pembuat kopi padahal Jungkook melarangnya dan menyuruh Seungwan di rumah saja yang tentu saja larangan itu langsung ditolak.
"Sayang kita berpisaha disini, nanti siang kau tidak perlu membawakan kopi ke ruang latihanku"
"Kenapa? Apa kau ada acara sayang"
"Ya bisa dibilang seperti itu"
"Kenapa baru bilang sayang"
"Ini mendadak aku juga baru tahu sayang"
Aku tau kau berbohong oppa.
"Sudah dulu ya sayang"
Chuph~
Satu kecupan dari Jungkook dan mereka pun berpisah.
Mian, tingkahmu dari tadi malam aneh oppa, aku ingin mengikutimu.
Seungwan pun dengan diam-diam mengikuti sang pemilik hatinya itu. Ia melihat Jungkook mengangkat telfon.
"Halo hyung, tolong hari ini kau awasi Seungwan jangan sampai Ia berada dekat denganku"
Deg~
Maksudnya apa ini? Seungwan rasanya ingin manangis saja tapi Ia harus kuat dan kembali mengikuti langkah Jungkook. Tapi sayang di tengah jalan Ia dipanggil oleh seseorang.
"Seungwan-si"
"Ne"
"Kau disuruh membuat kopi untuk CEO-nim dan berpesan nanti langsung masuk saja tanpa mengetuk"
"Ne baiklah" dengan berat hati Ia melupakan keinginannya mengikuti Jungkook. Ia lalu bergegas untuk membuat kopi. Namun rasanya ada yang berbeda, kenapa di sepanjang perjalanan banyak pasang mata yang menatapnya aneh.
Setelah selasai Seungwan pun bergegas ke ruangan sang CEO agensi ini. Sesuai pesan beliau Ia langsung masuk saja tanpa mengetuk pintu, tetapi baru saja Ia akan membuka pintu, Ia mendengar suara familiar yang tengah bercakapan dengan sang CEO di dalam sana.
"Kumohon Jungkook janganlah menjadi egois"
Deg~
Seperti dugaan Seungwan, pantas saja suaranya familiar. Sang CEO melihat ke arah pintu yang sidikit terbuka namun tidak mempersilahkan Seungwan untuk masuk malah melanjutkan pembicaraannya dengan Jungkook.
"Lebih baik kau tangkap saja penyebar foto itu"
"Terlambat fotomu dan Seungwan sudah tersebar"
"Ya sudah konfirmasi saja hubungan kita"
"Kau sudah gila, kalian ini masih mudaJungkook tidak mungkin agensi akan mengkonfirmasi hubunganmu bahkan kau sendiri akan memiliki kekasih saat tua nanti"
"Ya sudah keluarkan saja aku dari agensi ini, lebih baik aku kehilangan segalanya dari pada kehilangannya"
Seungwan membekap mulutnya tak percaya dengan apa yang Ia dengar, jadi yang selama ini Ia takutkan akhirnya terjadi juga.
"Kau benar-benar egois Jungkook"
"Ya aku memang egois, dari pada aku mati tanpa dia"
"Kau terlalu berlebihan kalian masih muda masa depan kalian masih panjang, putuslah!! "
"Aku tidak mau dan tidak akan pernah mau"
"Kau hanya memikirkan dirimu sendiri, bagaimana dengan member? Fansmu? Mereka akan kecewa jika kau keluar? Dan posisimu di BTS itu paling utama, kau main vokal serta main dancer, fansmu juga paling banyak diantara member lainnya, kau ingin melihat BTS hancur tanpamu ah ani, bukan hanya BTS tetapi juga agensi ini. Harusnya kau tahu jika BTS adalah penyokong dana utama agensi ini. Jika BTS hancur maka kami akan dapat dana dari mana? Banyak karyawan yang akan jadi pengangguran, kumohon untuk sekali ini saja pikirkan lah orang lain"
"Lalu aku sendiri bagaimana? Haruskah aku berkorban demi kalian? Apa kalian tak apa melihatku hancur tanpa Seungwannie?"
"Aihss jinjja kau ini susah sekali dibilangin"
Seungwan tidak kuat lagi mendengar percakapan dua orang di dalam sana. Hatinya sakit sungguh sakit, ternyata memang benar tak seharusnya Ia dan Jungkook bersama. Dari awal hubungan ini memang sudah salah. Harusnya Ia dan Jungkook tidak pernah bertemu, harusnya Ia tidak memberikan secangkir kopi untuk Jungkook pada malam itu.
Namun jauh di lubuk sana Ia tidak menyesal, Ia merasa senang bisa bertemu malaikat pelindung sebaik Jungkook. Ia tidak menyesal menghabiskan waktu 3 bulan ini bersamanya.
Seungwan menutup pintu ruang CEO ini dengan pelan, air mata sudah bercururan sedari tadi, Ia berniat akan pergi saja dari kehidupan Jungkook. Ralat bukan cuma Ia tetapi juga anak yang ada di dalam kandungannya.
Yah.. Seungwan tengah mengandung Ia sengaja tidak meminum pil pencegah kehamilan akhir-akhir ini. Ia juga sengaja tidak memberitahukan Jungkook. Seungwan sudah tahu dari awal jika kemungkinan Ia hidup bersama dengan Jungkook sangat kecil. Jadi Ia sudah merencanakan ini, menyimpan benih dari orang yang samgat Ia cintai. Walaupun Ia tidak bisa bersama dengan Jungkook setidaknya Ia bisa bersama dengan keturunannya.
"Sudah puas kau mendengarnya? Lihatlah itu akibat jika kau akan tetap bersikeras bersama Jungkook"
"Maaf siapa anda?"
"Kau tidak mengenalku? Apa Jungkook tidak memberitahukan aku padamu?"
"Tidak"
"Kalau begitu kebetulan sekali, perkenalkan namaku Jung Eunha, calon tunangan Jungkook. Oh ya kuharap setelah ini kau jangan mendekati Jungkook lagi"
"Itu yang akan kulakukan Eunha-si dan tolong jaga Jungkook dengan baik, Ia suka sekali dengan kopi"
"Tentu saja aku akan melakukan itu Seungwan-si, selamat tinggal kuharap ini pertemuan terakhir kita"
"Akan kupastikan harapanmu itu menjadi kenyataan, selamat tinggal" Seungwan segera berges pulang, tujuannya sekarang hanya satu, pergi sejauh mungkin dari Jungkook.
*
*
*
Annyeong oppa ^^
Ini merupakan surat perpisahan dariku, maaf selama ini aku merepotkanmu terus, maaf juga aku tidak bisa menepati janjiku. Lupakan semua hal yang pernah terjadi diantara kita. Aku akan pergi jauh darimu jadi jangan pernah mencariku. Oh ya aku juga menulis resep cara membuat kopi yang enak, kau bisa mencobanya bersama calon tunanganmu itu, Jung Eunha. Dia gadis yang imut dan baik oppa hiduplah bahagia dengannya, lupakan aku, selamat tinggal.
Saranghae ♡
^^^Son Seungwan^^^
____
"Kau mengingkari janjimu baby, bukankah semalam kau sudah janji tidak akan meninggalkanku"
"Aku tidak akan menikah selain denganmu Son Seungwan"
5 tahun kemudian__
Selama lima tahun ini Jungkook tidak pernah berhenti mencari belahan jiwanya itu. Ia juga menolak perjodohannya dengan keluarga Jung. Ia akan tetap mencari Seungwan walau ke ujung dunia sekalipun.
"Bagaimana apa kau sudah menemukannya"
"Saya"
"Kenapa kau malah membawa anak kecil"
"Ini"
"Cepat katakan jangan berbelit-belit"
"Sabar kook bawahanmu takut kalau kau galak seperti itu," ucap sang sahabat satu groupnya itu yang bernama Park Jimin.
"Diamlah Jim, aku sudah bersabar selama ini aku.. aku sangat merindukannya" Jimin memandang pilu sahabat karibnya ini. Ia tak pernah menyangka jika cinta dapat menghancurkan Jungkook sampai sebegitu dalamnya.
"Maaf tuan"
"Kenapa minta maaf"
"Nona Seungwan"
"Ada apa dengan Seungwan-ku apa kau sudah menemukannya?"
"Sudah tuan"
"Dimana?"
"Di tempat kelahirannya"
"Kau tidak bercanda kan?"
"Tidak tuan tapi"
"Tapi apa?"
"Nona Seungwan telah meninggal satu minggu yang lalu dan Ia menitipkan anak ini padamu"
"Wah wah lelucon macam apa ini" Jungkook tertawa namun air matanya perlahan menetes melihat wajah anak itu yang memang mirip dengannya.
"Ini tuan, anak ini membawa surat untukmu"
Jungkook mengambil surat itu lalu melemparnya jauh, "Bakar benda itu, berhentilah bermain drama dan cepat cari kembali Seungwan-ku" air mata semakin deras mengalir menuruni wajah tampannya.
"Appa jangan menangis, kata eomma lelaki tidak boleh menangis" ucap anak lelaki yang dibawa oleh orang suruhan Jungkook seraya menyodorkan sapu tangan ke arah Jungkook.
"Hanya karena wajahmu mirip denganku kau berani memanggilku appa"
"Kata eomma kau adalah appaku, eomma mengatakan itu sebelum Ia pergi jauh"
"Aku tidak percaya kau anakku, siapa namamu"
"Jeon JungWan"
Deg~
"Tolong ambilkan surat itu Jim"
Jimin menurut dan langsung mengambil surat itu, "Ini kook"
Halo Jungkook oppa, apa kabar?
Jika kau membaca surat ini, maka itu tandanya aku sudah tidak berada di dunia ini. Aku terkena penyakit yang sama yang menyebabkan kedua orang tuaku serta nenekku meninggal dulu. Aku mengetahui penyakitku ini seminggu sebelum kita berpisah lebih tepatnya saat kau ada konser di Luar negeri.
Waktu itu tiba-tiba saja kepalaku pusing selama tiga hari bahkan aku sering muntah-muntah, jadi kuputuskan untuk periksa ke dokter. Hasil tes mengatakan jika aku terkena pengakit keturunan, itu merupakan kabar yang sangat menyedihkan.
Namun, disatu sisi Dokter juga mengatakan jika aku positif hamil, kabar bahagia itu mengalahkan kabar sedih tentang penyakitku ini. Maaf aku tidak memberitahumu waktu itu, maaf juga karena aku meninggalkanmu. Selama ini aku juga terus berjuang melakukan terapi demi anakku, tapi sayang sepertinya Tuhan lebih merindukanku jadi Ia memanggilku.
Oh ya aku ingin mengatakan suatu hal lagi. Sedari kecil hidupku sangat susah, bagaimana tidak orang tuaku telah tiada sejak aku kecil, jadi aku berjuang sendiri untuk memenuhi kehidupanku, saking sibuknya aku sampai tidak mengenal artis seperti dirimu, ah aku jadi mengingat pertemuan pertama kita.
Oppa aku bersyukur bisa bertemu dengamu, terimakasih telah datang ke dalam kehidupanku, terimakasih telah memberiku malaikat kecil yang selalu menemani hariku sebagai penggantimu. Seperti kesepakatan kita dulu malaikat kecil itu aku beri nama Jeon Jungwan. Sekarang gantian malaikat itu akan terus bersamamu sebagai penggantiku. Sayangilah malaikat kita itu seperti kau menyayangiku..Dan sepertinya Ia juga menuruni bakat membuat kopiku. Untuk terkahir kalianya aku ingin mengatakan ini, Saranghae oppa ♡
^^^Son Seungwan^^^
_______
Setalah membaca itu Jungkook langsung memeluk anak kecil yang merupakan putranya itu sambil tak hentinya menangis.
"Kau anakku hiks putraku, Jeon Jungwan"
"Ne appa Wannie putramu, appa jangan menangis lagi, eomma bilang Wannie harus membuat appa tersenyum"
"Wannie,maukah kau menunjukan dimana eomma sekarang?"
"Eum tentu saja appa"
***
Jungkook mengelus batu nisan itu dengan lembut, Ia sudah tidak menangis lagi. Karena Ia tahu jika Ia menangis maka Seungwan juga akan bersedih di atas sana.
"Sayang"
"Kenapa kau jahat sekali padaku, ani bukan hanya padaku tapi pada malaikat kecil kita juga"
"Kenapa kau pergi secepat ini"
"Eomma tidak pergi appa, eomma akan selalu berada disini" tangan mungil itu menyentuh dada Jungkook dengan lembut.
"Malaikat kita benar sayang, kau akan selalu berada di hatiku, aku berjanji akan selalau menyayangi anak kita, aku juga berjanji akan selalu mengunjungimu, dan aku berjanji akan selalu mencintaimu juga putra kecil kita"
Dari jauh terlihat bayangan putih tersenyum manis lalu perlahan menghilang.
"Terimaksih oppa, tolong jaga malailat kecil kita, aku benar-benar pergi sekarang, selamat tinggal"
...END~...