Wendy And Boys

Wendy And Boys
Gengster (2)



"Kak Wenwen pulang bareng yuk" teriak Jihoon sambil memberikan tatapan memelasnya, duh ingin sekali Seungwan mengarungi adik kelasnya ini.


"Tidak bisa Johoonie, kakak ada jam tambahan untuk persiapan UTS minggu depan"


"Yah.. kalau begitu aku akan menunggu kakak sampai selesai"


"Hm.. adek sayangku yang super nggemesin dengerin kakak ya, kalau Jihoonie nunggu kakak nanti sampai malam mau?"


"Mm-mau" ucap Jihoon tak jelas karena kedua pipinya tengah ditarik-tarik Wendy hingga melar. Poor Jihoon, salahkan saja wajahnya yang menggemaskan menurut Wendy.


"Kakak leup-pasihn sakk-kit" mohonnya berharap sang pipi berhasil lepas dari keganasan tangan kakak kelas manisnya ini.


"Akan kakak lepas asal Jihoonie mau pulang dan jangan nungguin kakak, gimana deal?"


"Iya-iya Jihoonie ngalah deh"


"Good boy"


"Huh padahal yang nggemesin itu kakak, harusnya pipi kakak yang aku unyel-unyel"


"Sudah sana pulang"


"Kakak ngusir aku nih"


"Iya sana pulang"


"Kakak tega sama cogan"


"Jihoonie"


"Iya-iya aku pulang kakak sayang awas jangan kangen"


"Siapa yang bakal kangan sama bocah ingusan kaya kamu"


"Beneran nih? Tapi kok wajah kakak merah ya" goda sang adik kelas sambil menaik turunkan alisnya.


"Sudah ih sana pulang"


"Iya kak wenwen sayang, bye"


Chuu~


Dan lagi-lagi Jihoon berhasil mencuri ciuman di pipi Wendy sebelum berlari menjauh.


"Yakk awas saja kamu Jihoonie suka sekali mencuri kesempatan" teriak Wendy sambil menghentak-hentakkan kakinya memasuki kelas, tentu saja dengan jantung yang berdebar serta perasaan yang sulit untuk digambarkan.


*


*


*


Brukk~


Tubuh ringkih didorong secara keras hingga terbentur dengan kerasnya lantai. Ringisan sakit terdengar dari bibir mungilnya.


Wendy tidak ingat kenapa bisa berakhir diculik, Ia hanya ingat terakhir Ia jalan hendak menuju halte bus, namun tiba-tiba ada yang membekapanya dari belakang dan semua jadi gelap seketika.


"Kenapa kalian menangkapku?" Tanyanya pada para penculik yang berbadan kekar.


"Itu bukan urusan kami" jawab para penculik itu.


"Lalu aku harus tanya sama siapa?"


"Tanyakan saja langsung pada orang yang menyuruh kami"


"Siapa yang menyuruh tuandeul?"


"Ya bos kami tentu saja! Pakai acara tanya segala"


"Siapa bos kalian" Tanya Wendy lagi karena merasa kurang puas dengan jawaban para penculik di depannya.


"Kenapa kau cerewer sekali bocah, asal kau tahu kita ini yakuza"


"Lalu apa masalahnya jika kalian Yakuza toh kalian juga manusia" sang korban hanya mengerjapkan matanya polos, jujur Wendy sendiri tak tahu apa itu yakuza.


"Arrgh" para yakuza itu gemas sendiri dengan gadis manis yang mereka culik, baru kali ini ada korban yang tidak takut diculik oleh yakuza seperti mereka.


"Diam disini bos akan segera datang" perintah salah satu anggota yakuza tersebut dan hanya diangguki oleh Wendy.


"Apa bos kalian tampan?"


"Aish, satu kali lagi pertanyaan maka mulutmu aku robek"


Wendy yang diancam demikian jadi menciut, Ia langsung diam seketika.


Dasar penculik jahat, batinnya.


Sekitar lima menit kemudian terdengar suara gemeletuk langkah kaki memasuki ruangan ini.


"Apa Ia sudah kalian tangkap"


"Sudah bos"


"Jadi apa kau yang bosnya?" Tanya Wendy pada namja yang ekhem terlihat tampan yang baru saja memasuki ruangan tempat Ia disekap.


Pemuda tampan itu langsung melirik ke arah suara, lelehan karamel coklat bertemu dengan dinginnya malam.


Deg~


Dia manis juga-Guanlin.


Wah ternyata benar bosnya tanpam kkk-Wenwen.


"Iya aku bos disini?"


"Tuan bos maaf kalau boleh tahu kenapa tuan bos menculik saya?" Wendy mulai menunjukan jurus memelasnya berharap dengan begitu Ia bisa dilepaskan.


"Kau ingin tahu jawabannya?"


"Eum" Wendy mengangguk imut membuat sang bos tampan merasa gemas.


Pantas saja Ia bisa merebut hatinya-Guanlin


"Kalian keluarlah biar aku bicara dengannya"


"Baik tuan" jawab para bawahan Guanlin, sang pemimpin geng yakuza.


Setelah para bawahannya keluar Guanlin mulai mendekati tawanan manisnya.


"Siapa namamu?"


"Son Seungwan imnida, tapi panggil saya Wendy, salam kenal" balas Wendy sambil menundukan kepalanya. Lagi-lagi tingkah sang tawanan membuat sang ketua genk menyunggingkan senyuman tipis, Ia heran kenapa sang korban seperti tidak takut dengannya.


"Nama yang indah, salam kenal juga"


"Nama tuan bos siapa?"


"Kenapa bertanya seperti itu? Apa kau tidak takut denganku?"


"Entahlah kata bunda Irene kita tidak boleh takut pada siapapun kecuali Tuhan"


"Apa kau tidak takut aku akan membunuhmu?"


"Tidak kok, silahkan saja bunuh wenwen kalau tuan bos tega"


"Kau benar, sepertinya aku tidak tega membunuhmu"


"Nah kan karena wenwen terlalu imut untuk dibunuh hehe jadi lepaskan wenwen juseyo"


"Baiklah, tapi kau barus berada disini tidak boleh keluar"


"Kenapa?"


"Karena aku ingin membalas demdamku ke Jihoon, dia telah menghancurkan bisnisku"


"Jihoon? Jihoon siapa yang kau maksud tuan bos?" Entah kenapa Wendy merasakan firasat yang buruk.


"Jihoon, adik kelas yang kau sayang"


Deg~


"Dia sebenarnya bos yakuza sama sepertiku"


"Tidak mungkin, Jihoonie terlihat polos dan imut"


"Kalau tidak percaya tunggulah, tak lama lagi dia pasti akan kesini untuk menjemputmu"


Wendy hanya diam, Ia masih tidak percaya hingga tangan hangat terasa menggenggap tangannya lembut.


"Ayo akan kutunjukan dimana kamarmu"


Deg~


Perasaan apa ini?-wenwen


*


*


*


Sudah sekitar satu minggu Wendy tinggal bersama sang bos yakuza tentu saja dengan anak buah sang bos juga.


"Pagi tuan bos" Sapa Wendy seraya mengguncangkan tubuh sang bos tampannya itu yang masih tenggelam dalam alam mimpi.


"Ini sudah pagi boskuu, apa bos tidak ingin berangkat kerja" yah Wendy dengan berani memasuki kamar bosnya ini tanpa takut sedikitpun. Dan hanya dirinya saja yang berani memasuki kamar ini selain bosnya tentu saja.


"Engh lima melut lagi wen"


"Tidak mau tuan bos harus berangkat kerja ayo aku juga sudah menyiapkan makanan?"


Mendengar kata makanan Guanlin langsung membuka matanya lebar, Ia kaget, "Kau tidak menghancurkan dapurku lagi kan?"


"Emm itu yaa..hehehe" dan pada akhirnya Wendy hanya memberikan cengiran imutnya membuat Guanlin menelan ludah tidak jadi marah pada makhluk imut di depannya. Ia lalu mengusak surai lembut Wendy pelan.


"Wen"


"Iya tuan"


"Obat apa yang kau berikan padaku?"


"Obat? Aku tidak memberikan obat apapun padamu tuan"


"Tapi kenapa rasanya disini aneh?" Ucap Guanlin sambil memegangi dadanya.


"Disini selalu berdetak dengan cepat jika berada di dekatmu"


Mendengar itu entah kenapa jantung Wendy juga ikut berdetak dengan cepat.


Apa ini?


"Eum sebenarnya aku juga merasakan demikian?"


"Jika ini cinta, berarti apa kau juga mencintaiku?"


"Entahlah tuan, aku belum tahu rasanya aku memang menyukaimu tapi sebelum mengenalmu aku juga telah lama menyukai Jihoonie"


Wajah sedih Wendy tunjukan yang dibalas raut sedih pula oleh Guanlin.


"Kenapa kita bisa tejebak dalam cinta segitiga, aku hanya ingin kau jadi milikku tapi aku tidak ingin memaksamu dan Jihoon, tentu saja kau tahu jika dia musuhku"


Wendy terdiam, Ia juga bingung kenapa Ia bisa mencintai kedua bos dari geng Yakuza.


"Aku mencintaimu" tutur Guanlin jujur.


Belum sempat Wendy menjawab tiba-tiba saja pintu ruangan ini terbuka secara keras.


Braakk!


"KAK WENDY"


Suara itu serasa tidak asing, "Jihoonie"


Grepp~


Jihoon, pemuda dengan wajah yang sudah babak belur langsung berlari ke arah Wendy dan memeluk gadis manis yang Ia cintai erat.


"Akhirnya aku menemukanmu"


"Jadi benar kau juga ketua yakuza"


"Iya kak maafkan aku, ayo kita pulang"


"Ekhem" mendengar suara itu kedua insan yang tengah berpelukan langsung melepaskan tautan hangat itu.


"Biarkan Wendy yang menentukan, Ia akan tetap tinggal bersamaku atau pulang bersamamu" terang Guanlin yang merasa cemburu melihat kedekatan Wendy dan Jihoon, musuh abadinya.


"Maksudnya apa? Tentu saja Wendy akan pulang bersamaku"


"Kau bisa tanyakan langsung padanya?"


"Maksudnya apa kak?"


"Itu..aku..sepertinya aku menyukai Guanlin"


Bagai tersambar petir, Jihoon merasa sangat kaget dan juga sakit.


"Tapi aku juga menyukaimu, aku bingung" Wendy menunduk lesu.


"Iya aku tahu kakak memang menyukaiku karena aku juga sangat menyukai kakak ah ralat mencintai, tapi kakak harus memilih diantara kita"


"Aku tidak bisa, eum bagaimana jika kita bertiga saja" ucap Wendy disertai senyuman polos tanpa dosanya.


Dan kali ini petir penyambar kedua pemuda tampan yang menatap sang makhluk manis tak percaya, mereka terlalu syok akan jawaban Wendy.


End~