Wendy And Boys

Wendy And Boys
Last Scene (4)



***


Kyungsoo menatap kosong benda yang ada di depannya. Ia masih belum percaya, kejadian ini terlalu mendadak. Di depannya terdapat sebuah peti dan di dalam peti tersebut Seungwan terbaring, Ia tertidur dalam damai diantara bunga-bunga krisan. Orang yang telah lama menghilang akhirnya kembali, namun sekarang hanya ada kehampaan. Seungwan pulang dalam keadaan tak bernyawa.


Kyungsoo merasa terpukul, ia tak tahu apa yang terjadi. Nyonya Son sudah menjelaskan alasan anak sematawayangnya itu pergi ke Australia, alasan sang teman mengilang sampai berbulan-bulan. Tetapi tetap saja Kyungsoo tidak mengerti, mengapa Seungwan tega melakukan ini semua? Mengapa sahabat kecilnya itu tega membohonginya? Mengapa Seungwan merahasiakan penyakitnya? Mengapa dia sungguh tega? Kyungsoo sungguh tidak mengerti akan semua ini.


"Nak Kyungie," seseorang memanggil namanya, ia berdiri di depan Kyungsoo. Keadaannya tidak jauh sepertinya, keadaan yang sama-sama berantakan, bahkan jejak linang air mata terlihat jelas melekat di wajahnya. " Wannie menitipkan sesuatu untuk mu." Orang itu, Nyonya Son menggenggam tangan Kyungsoo, menyelipkan surat di antara telapak tangan pemuda itu.


"Bacalah nak, itu pesan terakhir dari Seungwannie," ucapnya kemudian pergi meninggalkan Kyungsoo yang hanya diam membantu.


Namja tampan pemilik wajah datar itu menatap surat beramplop merah yang ada di tangannya, perlahan ia buka surat itu dan mulai mebaca setiap katanya. Awalnya tulisan di surat itu nampak normal namun semakin kebawah semakin berantakan, seakan yang menulis tengah mengalami rasa sakit yang teramat sakit. Kyungsoo hanya meringis ketika melihat bentuk tulisannya, ia seolah-olah bisa merasakan rasa sakit yang diderita Seungwan saat menulis surat ini.


To: My Sunshine ♡


Kyungie oppa apa kabar><


Aku harap kamu selalu baik-baik saja, aku sangat merindukan mu oppa.


Ngomong-omong ada yang ingin aku sampaikan.


Sebenarnya, aku mengidap kanker dan sekarang aku berada di Australia untuk melakukan pengobatan. Maafkan aku oppa, aku telah membohongi mu dan merahasiakan penyakit ku ini. Oppa, bukan maksudku menjadi pedusta, tapi aku tidak mau membuat mu bersedih, maka dari itu aku tidak memberitahu mu ataupun yang lain.


Pengobatan yang aku lakukan sangat menyiksaku. Aku sering muntah dan rambut semakin rontok, sekarang aku botak oppa. Kau sering memanggilku jelek kan oppa hehe kalau kau tahu keadaanku pasti panggilan jelek akan lebih lagi. Tapi aku tahu panggilan itu pasti tidak dari hatimu, aku tau sebenarnya kau menyayangiku.


Oppa, rasanya sungguh sakit, aku kerap kali ingin menyerah, rasanya sungguh sangat amat sakit.


Kalau aku menyerah, dan aku meninggal. Aku harap kau tetap menjalani hidup mu seperti biasanya dan aku harap kepergian ku tidak merubah apapun. Ini harapan ku, oppa. Kau bisa mengabulkannya, bukan? Ouh ya! Jangan lupa kan aku yah!! Do'a kan aku juga kamu mau kan oppa? Terimakasih atas waktu yang kita habiskan bersama dan maaf, aku tidak bisa bersamamu lebih lama lagi.


Jangan kau beri aku air mata!! Aku kira ini lah akhirnya.


Aku, Son Seungwan selalu mencintaimu, Do Kyungsoo ♡


______


Lelaki itu meremas kertas di genggamannya, air mata metes dengan derasnya, jatuh membasahi tangannya. Seungwan, sungguh Kyungsoo tak menyangka bahwa orang itu sangatlah kejam. Son Seungwan adalah orang terkejam yang pernah Ia kenal.


"Kau sungguh jahat, sangat jahat.. "isaknya tanpa henti.


***


Lembar kertas ternoda warna merah, aku remas dalam genggamanku. Noda itu kini berwarna kecoklatan, telah lama mengering rupanya. Kalau diingat, surat ini sudah berumur 4 tahun dan selama itulah aku tidak mendengar suara berisik yang membuatku naik pitam. Terkadang aku merasa ada yang hilang, aku belum terbiasa atau tidak pernah benar-benar bisa melepaskan mu.


Dalam surat mu, kau berkata bahwa; aku tidak boleh memberikan mu air mata. Tapi nyatanya, aku menangis sesegukan. Kau dangan kepalsuanmu membuatku ingin menjitak kepala coklatmu itu. Olaf sialan! Kenapa selain kepingan kenangan yang kita lalui, kau hanya menyisahkan sepucuk surat saja? Saat terakhir waktu mu, kau tak sudi menemuiku padahal kau pernah berkata bahwa kau ingin menjadikan wajahku sebagai akhir dari Pangelihatan mu.


Dan hal apa yang paling menyenangkan saat musim semi kali ini? Menelusuri jalan setapak berhias karpet pink dari kelopak sakura yang beguguran dan menghirup aroma bunga-bunga bermekaran. Aku berjalan di antaranya, menendang kecil tumpukan kelompok bunga itu. Kesendirian membawaku kembali mengenang dirimu. Memori lama sesekali akan diputar kembali dan muncul kepermukaan.


"Apa kau mencintai ku?"


Kilasan itu, saat mesum semi itu dan pertanyaan mu itu, aku mengingatnya. Saat itu pula aku belum menjawab pertanyaan mu kan? Maka biarkan aku jawab sekarang juga. Maaf karena telambat menjawab tarlampau telambat malah. Tapi sekarang aku aku sudah tidak ragu, aku sudah mengerti apa yang aku rasakan pada mu.


"Yah,.. Aku sangat mencintai mu, Seungwan-ah Sampai kapan pun aku selalu mencintai mu" ucap ku berbicara sendiri dibawah pohon sakura tempat yang sama dimana kau mengajukan pertanyaan yang belum ku jawab. "Dan terimakasih sempat hadir di hidupku."


Jika seperti ini aku merasa sangat merindukanmu. Kekanakanmu, tingkah konyolmu, suara genitmu, dan segala tentang mu, aku merindukan mu.


Di musim semi yang sedang ada di hadapanku, Seharusnya kau juga menikmati bentuk bunga ataupun cuacanya. Sayangnya kali ini juga kau melewatkan keindahannya. Bahkan kau juga mengacuhkan berbagai musim dengan khasan tersendiri.


Ramalan cuaca menunjukan jika hari ini tidak ada hujan, tapi titik-titik di bawahku memperlihatkan basahnya air dan aku harap titik itu hujan sungguhan.


Mengenaskan! Kau boleh menertawakan aku dari alam lain karena aku telah membual tentang hujan. Langit di atas sana tentu berwarna biru dengan sedikit awan tipis, tidak mungkin turun hujan di cuaca yang bagus seperti ini. Lalu air itu? Pandanganku mengabur, rupanya berasal dari mata. Air mataku tidak dapat berhenti, aku ingin bertemu dengan mu. Hei, aku tidak dapat mengucapkan selamat tinggal kepadamu. Kau benar-benar brengsek, SEUNGWAN!!


Lalu meski kau sudah tidak ada, aku tetap menjalani hidup seperti biasanya. Seperti yang kau minta dalam surat yang kini sudah berada dalam rangselku. Selama kau hidup, aku tidak dapat memberi lebih dan ini permintaan mu yang terakhir dan hanya ini pula yang dapat aku pertahankan. Sungguh merepotkan apa yang telah kau minta dan sayangnya aku sudah menyetujui itu. Lalu kau merubahku agar tidak pernah jujur dalam perasaan, sama seperti dirimu dulu. Jika mengingatnya aku ingin tertawa, aku kira aku sudah mengenalmu dengan baik tapi nyatanya kau lebih pandai memalsukan ekspresi.


Sudahlah membicarakan mu hanya membuatku merasa sakit, aku tidak ingin terjatuh lebih dalam. Biarlah kau mati dalam raga maupun jiwa, tapi aku tidak akan membiarkan kau mati dalam setiap ingatan semua orang, khususnya untuk ingatanku. Kau akan tetap hidup disana, di hati dan pikiranku sebab kau lah yang aku cintai sampai kapan pun.


I Love You and Love you too...


_END_


Sebagian diambil dari lirik lagu 'Last Scene-Ikimono Gakari'


Remake @Gulasagu @Bananaa97__