Wendy And Boys

Wendy And Boys
Secangkir Kopi (3)



...__A Cup of Coffee__...


Sekitar jam 6.30 pagi Jungkook terbangun, karena mendengar suara berisik seperti piring pecah atau gelas pecah dari arah bawah. Ia segera mencuci muka lalu turun menuju asal suara ribut itu yang ternyata berasal dari arah dapur.


"Eh oppa sudah bangun?"


"Kau sendiri kenapa berisik pagi-pagi"


"Ah mianhae oppa tadi aku mau mengambil gelas tapi gelasnya ada di rak atas jadi aku ambil kursi dan dapat menggapai gelas itu tapi tangan ku tidak sengaja menjatuhkan gelas gelasnya jadi pecah, maaf oppa aku memecahkan gelasmu"


"Hm tak apa, kau sendiri apa baik-baik saja?"


"Aku tidak apa-apa"


"Syukurlah kalau begitu"


"Oh ya ini oppa, aku baru saja selesai membuatkanmu kopi dan juga nasi goreng, maaf kalau nanti rasanya tidak enak"


"Terimakasih"


Jungkook dengan senang hati kembali meminum kopi buatan Seungwan seperti tadi malam, "Ini sangat enak, kau memang berbakat wan"


"Ah tidak oppa itu biasa saja" jawabnya tersenyum malu.


"Tunggu" Jungkook mendekatkan dirinya ke arah Seungwan lalu menyentuh kening yang terlihat berkeringat itu.


"Kau panas sekali" Jungkook baru sadar jika wajah Seungwan sangat pucat bahkan matanya juga sayu.


"Kenapa bisa seperti ini?"


"Mianhae oppa mungkin aku terlalu capek, tadi malam juga tidak bisa tidur"


"Kenapa tidak bisa tidur? Apa tempat tidurnya kurang nyaman?"


"Ani, bukan seperti itu, hanya saja aku takut tidur sendiri di tempat yang baru"


"Astaga kau ini, kenapa tidak bilang dari awal, aku bisa menemanimu sampai kau tertidur"


"Kau ini ada-ada saja oppa, tentu saja aku tidak akan melalukan itu, aku takut mengganggu waktu istirahatmu" setelah mengatakan itu Seungwan tiba-tiba saja terhuyung ke depan, untung saja reflek Jungkook bagus jadi langsung menangkap tubuh bocah itu yang terasa seringan kapas. Jungkook jadi berfikir, apa selama ini Seungwan tidak makan?


"Wan-ah Seungwannie bangun .. bangun ..kau jangan membuatku takut" entah kenapa yang dirasakan Jungkook saat ini adalah perasaan khawatir.


Ini aneh, Seungwan bukan siapa-siapanya hanya teman yang baru Ia kenal tadi malam tapi kenapa rasa khawatirnya sampai berlebihan seperti ini?


Tanpa berfikir panjang Jungkook langsung menelfon dokter kepercayaannya. Dan selang beberapa waktu sang dokterpun sampai, lalu segera memeriksa keadaan Seungwan.


"Bagaimana keadaannya dok?"


"Pasien tidak apa-apa hanya kelelahan dan telat makan saja, saya sarankan nona Son agar istirahat dulu minimal selama dua hari agar kondisinya cepat sembuh, jangan lupa untuk meminum obatnya yang sebelum makan dan yang sesudah makan"


"Baik dok terimakasih"


"Eungg" Seungwan tersadar, Ia melihat Jungkook tengah berbicara dengan seorang berjubah putih yang Ia yakini sebagai dokter.


"Wannie kau sudah sadar"


"Oppa apa aku tadi pingsan?"


"Iya, kau membuatku khawatir"


"Kalau begitu saya permisi dulu tuan" pamit sang dokter.


"Tunggu pak dokter"


"Ada apa nona Son?"


"Periksa juga Jungkook oppa, dia juga sakit terutama dibagian kakinya"


"Kau ini bicara apa sih Wannie aku tidak apa-apa?"


"Benarkah anda sakit juga tuan Jeon?"


"Tidak pak, saya baik-baik saja"


"Sudah jangan berbohong mari saya periksa" Jungkook akhirnya pasrah saja diperiksa, sesekali Ia menengok ke arah Seungwan dan hanya dibalas juluran lidah oleh anak nakal itu.


"Cha sudah selesai, kaki anda saya perban untuk sementara karena lukanya yang memang cukup parah"


"Terimakasih pak"


"Sama-sama tuan, kalau begitu saya pamit dulu"


"Oppa bagaimana ini, aku baru bekerja kemarin tapi sekarang sudah sakit, bisa dipecat aku"


"Tenang saja, aku akan bilang ke manajerku untuk mengizinkanmu"


"Terimakasih oppa, maaf aku selalu merepotkanmu"


"Jangan berkata seperti itu Wannie kita teman, jadi sudah sewajarnya saling membantu"


"Sekali lagi terimakasih oppa"


"Kau ini dibilangin susah sekali"


"Hehe oppa sendiri bagaimana?"


"Hm, sepertinya hari ini aku juga akan libur dulu menemanimu disini"


"Apa tidak apa-apa oppa?"


"Kau lupa? Kakiku sedang luka, aku tidak ingin mengecewakan fans dan juga hyungdeul melihat keadaanku seperti ini, tunggu sebentar aku akan menghubungi mereka" Jungkook pun menghubungi manajernya untuk memberitahukan keadaannya serta tak lupa meminta izin untuk Seungwan.


Selama seharian penuh Jungkook dan Seungwan hanya berdiam di rumah lebih tepatnya di atas tempat tidur, karena memang benar keduanya sangat membutuhkan istirahat yang maksimal.


Jungkook sendiri tidur bersama dengan Seungwan karena anak itu tidak bisa tidur sendirian di tempat baru. Merasa ada beban berlebih di tubuhnya kelopak indahnyapun terbuka. Bertapa terkejutnya Ia melihat sepasang tangan mungil memeluknya erat.


"Kenapa ini?"


"Ada apa denganku? Kenapa hanya memandang wajahnya saja membuat nafasku tercekat dan jantungku serasa mau meledak?"


"Engg oppa kau bilang tadi?"


"Tae kau sudah bangun rupanya"


"Iya aku terbangun mendengar oppa mengatakan sesuatu eh maaf Jungkook oppa aku tidak sengaja" rupanya Seungwan baru sadar jika Ia tengah memeluk Jungkook, Ia pun segera melepaskan pelukannya dan berniat menjauh. Namun sayang ketika Ia menjauh Jungkook malah gantian memeluknya.


"Oppa.. mm"


"Wannie"


"Ya"


"Biarkan seperti ini dulu"


"Baiklah"


"Apa kau bisa mendengar degupan jantungku?"


"Tentu saja oppa, jantungmu berdetak dengan cepat"


"Ya kau benar, aku juga tidak tahu kenapa bisa seperti ini padahal biasanya normal saja"


"Sebenarnya aku juga merasakan demikian oppa, aku juga bingung kenapa"


"Yah aku juga mendengar degupan jantungmu te"Seungwan hanya bersemu merah, Ia malu karena ketahuan oleh Jungkook.


"Wannie"


"Ya oppa"


"Apa kau percaya cinta pada pandangan pertama itu ada?"


"Mungkin"


"Aku awalnya tidak percaya, namun sekarang aku percaya"


"Kok bisa oppa?"


"Kau, kaulah yang membuatku mempercayainya"


"Kenapa aku?"


"Dari awal bertemu denganmu ada perasaan aneh di hatiku, semakin aku dekat denganmu jangtungku juga semakim berdetak lebih cepat seperti sekarang ini. Aku tahu aku memang bukan lelaki yang romantis, aku juga tidak menyangkan bisa jatuh pada seseorang secepat ini, bahkan aku berani untuk memberikan first kissku padanya. Aku juga tidak berharap kau membalas pernyataanku ini Wannie karena kita mungkin baru kemarin malam berkenalan, aku hanya ingin mengungkapkan apa yang kurasakan saja"


Hening, Seungwan terdiam, Ia bingung harus menjawab apa.


___________


Bersambung..