Wendy And Boys

Wendy And Boys
Stay With Me (1)



..._____...


Seungwan menengadah menatap jelaga malam yang membentang luas diatasnya. Jelaga malam yang benar-benar kelam.


Kali ini sepertinya bintang enggan menampakkan dirinya begitulah dengan bulan yang hanya mengitip malu dibalik awan hitam yang tergantung di sana.


Tidak ada yang spesial, sama seperti malam-malam sebelumnya. Terasa kosong dan dingin, begitulah setidaknya yang selalu Ia rasakan.


Suhu udara yang kian menusuk kulit, membuat yeoja manis itu menggosokan kedua tanggannya. Walau dingin tengah mencengkam tubuhnya, Ia enggan menginjak kan kaki pergi dari sana.


Seungwan merasa nyaman, dia sudah nyaman ditempatnya berada. Sebenarnya bukan tempat atau suasananya, tetapi kenangan lalu lah yang membuat Ia ingin lebih lama membatu disana.


Kenangan yang menyakitkan hingga membuat Ia kosong dalam kisahnya. Kenangan yang Ia pikir, itu adalah keburukan dunia.


Seungwan perlahan menyeka cairan yang entah sejak kapan sudah meluncur berkali-kali menelusuri pipinya. Ia tidak pernah menunjukkan kesedihannya, hanya keheningan yang menjadi saksi dari air mata itu.


Bagaimapun Ia harus terlihat tegar, tetapi dalam keheningan ini.. Pertahanannya goyah, rasa sakit itu masih bersarang disana. Seungwan menangis untuk mengurangi beban di hatinya.


Saat itu Tuhan tengah mempermainkan nya. Seungwan tidak bisa berbuat banyak, dia hanya menghukum dirinya sendiri, mencaci-maki dirinya yang mudah terpancing begitu saja.


Dan lebih parahnya lagi dia tidak mampu berpaling pergi dari masa lalunya, dari seorang pria yang membuat goresan luka dalam hatinya.


Dia ingin mengelak bahwa Ia sudah tidak mencintai orang itu lagi, tetapi siapa yang tahu pasti ketika hatinya meraung memanggil nama pemuda yang dia cinta. Seungwan benci mengakui itu.


_____


Langkah arogan menelusuri jalan setapak di pinggiran kota Seoul. Seorang pemuda dengan syal merah yang menggulung lehernya berjalan tanpa ragu menelusuri sepinya jalanan ketika malam hari tiba.


Kepulan uap yang berasal dari pernafasan menandakan suhu udara tengah berada pada temperatur yang rendah. Langkah kaki pemuda itu terhenti takala mendapati seorang gadis mungil bersurai coklat berada di hadapannya.


Ia melangkah mendekati sang yeoja, orang yang sama yang pernah dia sakiti sebelumnya. Jelas saja pemuda itu takan bisa melupakan kenangan pahitnya, baik diantara dia maupun dirinya, tidak ada satu pun yang dapat melupakan begitu saja. Dulu memang benar dirinya terlampau bodoh hingga menggores luka dalam hati orang yang dia cintai.


"Kau sudah datang, Sehun-ssi."


Memang tidak ada yang berubah. Baik dari suara ataupun penampilannya, Sehun mendapati hal yang sama, hanya saja Seungwan-nya jauh lebih cantik dan telihat lebih manis dari sebelumnya.


Terkadang luka yang didapatkan seseorang akan membuat orang itu menjadi lebih kuat dan Sehun juga dapat merasakannya.


Relung hatinya semakin perih, disana seperti ada yang menekan dan menyayat hati. Rasanya tidak bisa bernafas, perasaan bersalah kembali menyeruak keluar membuat dirinya ingin sekali bersujud meminta maaf hingga ratusan kali bahkan ribuan ataupun jutaan, ia ingin bersujud mencium kaki Seungwan, meminta maaf atas segala kebodohannya.


Seungwan-nya.. Ahhh tidak bahkan Sehun tidak bisa lagi mengecap Seungwan sebagai miliknya.


"Kau tidak banyak berubah." Seungwan menoleh ke samping tepat Sehun berdiri.


Senyuman yang tersungging di wajah ayunya berhasil membuat Sehun merasakan seolah-olah ada tombak yang langsung menancap tepat ke arahnya.


"Padahal dalam khayalanku, aku ingin bisa melihat wajah frustasi milikmu," ucap Seungwan membuka matanya setelah melakukan senyum bulan sabit sebelumnnya.


Deg..


Deg..


Deg..


Gemuruh detak jantung tidak dapat dikendalikan, tulang lututnya seakan meleleh. Sehun tumbang dalam tegapnya.


Di atas aspal jalan, dirinya tidak berdaya mendapati tatapan kosong yang barusan dia lihat.


"Apa yang terjadi?" Sehun tidak bisa memahami, Seungwan menatapnya dengan pandangan kosong, disana hanya ada pantulan dirinya.


Seperti sudah lama kehilangan binar kebahagiaan, Sehun sulit menemukan pancaran kehidupan. Kali ini Ia yakin jika yeoja manis itu telah berubah dan Ia harap bukan dia lah yang merubahnya.


"Huh.. Apa masudmu?" Seungwan menaikan salah satu alisnya, bingung menatap Sehun yang tiba-tiba saja terduduk di aspal jalanan.


Namja tampan yang lebih tua menengadah, menatap Seungwan dengan mata yang berkaca-kaca.


"Apa yang terjadi selama ini? Apa yang membuat tatapan mu kosong?" tanya Sehun dengan suara seraknya.


Mendapati cahaya dalam mata Seungwan tak seindah dulu, Ia merasa terpungkur. Binarnya telah redup, Sehun tidak bisa melihatnya lagi.


Seungwan membungkukan badannya, Ia menyamakan tingginya dengan Sehun yang masih tetap terduduk di jalanan.


Ia mengangkat dagu Sehun membuat si empunya menatap langsung ke dalam kedua netranya, mata yang menjadi salah satu favorit Sehun dalam.


"Aku tidak benar-benar mengerti apa yang kau katakan. Namun, ketahuilah satu hal, aku Seungwan, Son Seungwan yang sekarang tumbuh atas dasar luka yang pernah diberikan orang yang menjadi nomer satu di hatinya, dari luka itu Son Seungwan belajar untuk menjadi lebih tegar. Dan lihatlah hasilnya sekarang Sehun-ssi, aku bukan lagi Seungwan yang dulu." Yeoja itu menaikan salah satu sudut bibirnya, menciptakan seringai dingin yang dapat membekukan Sehun seketika.


______


Bersambung...


Remake @Gulasagu @Bananaa97__ 🤗