
Max yang sudah tersulut emosi apalagi di tambah dengan Lisa yang lebih membela Vano dari pada dirinya membuat Iblis dari dalam diri Max meronta ingin keluar.
" Ayo kita liat sayang, seberapa kuat lelaki yang kamu belain ini " ucap Max sinis dan kembali melanjutkan memukul Vano tanpa henti.
Vano yang mendapat serangan tiba-tiba Max membuat dia tidak siap, ia mengira Max akan berhenti memukulnya setelah Lisa melarangnya namun siapa yang menyangka kalau pembelaan Lisa atasnya malah membuat Max tambah berang dan menjadi lebih brutal hingga membuat Vano babak belur tanpa bertenaga lagi.
Max terus saja memukul Vano tanpa memperdulikan teriakan Lisa yang menyuruhnya berhenti, bahkan perempuan itu kini sudah terduduk di lantai dengan keadaan menangis karena ketakutan melihat Max yang tidak terkendali dan Vano yang sudah sekarat.
Namun meskipun ia ketakutan, Lisa harus melakukan sesuatu karena kalau tidak maka lelaki itu akan mengantarkan Vano ke liang kubur, lelaki itu seperti sedang melampiaskan semua amarahnya pada Vano.
Lisa langsung saja berlari dan memeluk Max dengan erat dari belakang, dengan tangan yang bergetar Lisa mengencangkan pelukannya di perut Max sambil menyuruh Max berhenti.
Sedangkan Max yang kembali ingin memukul Vano tiba-tiba saja terhenti karena pelukan Lisa.
Di tambah lagi dengan keadaan perempuan itu yang terlihat ketakutan membuat Max sadar akan kelakuanya, ia marasa gagal untuk kesekian kalinya, ia gagal mengontrol dirinya dan membiarkan Iblis dari dalam dirinya berhasil menguasainya hingga membuat sang pacar ketakutan.
" Maaf, maafkan aku sayang yang udah buat kamu ketakutan " ucap Max sambil membalas pelukan Lisa.
" seandainya saja tadi kamu tidak membela lelaki itu dan mendengarkan aku pasti semua ini tidak akan terjadi, kamu tau sendiri aku kesusahan dalam mengontrol emosi tapi kamu selalu saja membuat aku marah " ucap Max lagi.
" Kita harus bawa kak Vano ke rumah sakit sekarang, aku enggak mau kamu jadi pembunuh kalau sampai kak Vano kenapa-napa " ucap Lisa terbata-bata karena masih sesugukan menangis.
" Iya sayang, aku telfon anak buah aku sekarang, biar mereka aja yang nanganin Vano " jawab Max sambil mengelus Kepala Lisa akan perempuan itu bisa segera tenang.
" Biar aku aja yang kerumah sakit, kamu istirahat di kamar ya " ucap Max lembut karena kini emosinya sudah stabil.
" Enggak Max, aku mohon sama kamu, aku ikut kamu ke Rumah Sakit ya, aku enggak tenang kalau enggak ngeliat sendiri, walau gimana pun kak Vano jadi begini juga gara-gara aku " ucap Lisa mohon pada Max agar membiarkan ia ikut karena meskipun ia beristirahat dirumah ia tidak akan tenang.
Max yang melihat Lisa seperti itu menjadi tidak tega, akhirnya ia pun membiarkan Lisa ikut dengannya ke Rumah Sakit, lagian lelaki itu sudah tidak sadarkan diri jadi tidak akan menganggu pacarnya.
Kini keduanya sudah sampai di Rumah Sakit, Lisa dan Max sedang menunggu Dokter yang sedang menanggani Vano hingga tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka dan muncullah sang Dokter.
" Keluarga Pasien ? " tanya sang Dokter.
" Saya adiknya Dok " jawab Lisa cepat hingga membuat Max mendegus kesal dengan sikap Lisa yang terlihat begitu khawatir.
" Gimana keadaan kakak saya Dok " tanya Lisa.
" Pasien keadaanya sangat buruk, sekarang masih belum sadar dan beberapa tulangnya patah, apa pasien baru saja di keroyok ? " tanya sang Dokter membuat Lisa kaget akan pertanyaan sang Dokter.
" Saya tidak tau Dok, karena tadi saya menemukan kakak saya di jalan " jawab Lisa berbohong.
" Kenapa memangnya Dok ? tanya Lisa.
" Karena diliat dari banyaknya luka dan kondisi pasien yang parah, sepertinya orang yang memukulnya itu pasti sedang sangat emosi dan tenaga lelaki itu sangat kuat hingga kondisinya bisa separah itu " jelas Dokter hingga membuat Lisa diam dan melirik kearah Max namun lelaki itu malah terlihat acuh tidak merasa bersalah sama sekali.