
" Hai juga kak, ayo masuk tapi kak Bayu belum pulang " jawab Lisa.
" Iya aku tau kok,
Karena aku tau Bayu enggak ada di rumah makanya aku kesini.
Tadi Bayu nelfon kakak katanya dia ada urusan sampai sore dan kamu sendiri di rumah, jadi dia minta tolong kakak buat beliin makanan buat kamu, kan kamu enggak bisa masak " ucap Vano dengan sedikit nada mengejek bermaksud bercanda dengan Lisa.
Lisa yang mendengar nada ejekan dari Vano, Muka Lisa yang awalnya senang karena di bawain makanan lantas langsung saja cemberut.
" Gimana mau bisa masak kak, mama enggak pernah kasih aku pegang alat-alat dapur, apa lagi bodyguard aku, bisa mengamuk dia kalau tau aku masuk dapur kak " jawab Lisa dengan muka bete karena kesal dengan Mama nya dan Max yang melarang keras Lisa untuk bereksperimen di dapur.
Padahalkan sebagai anak perempuan memang sudah kondratnya untuk berada di dapur, Lisa sendiri juga ingin bisa memasak agar kelak bisa memasak masakan kesukaan suaminya dan menjadi menantu idaman yang bisa di banggakan oleh mertuanya.
Namun Max malah mengatakan kalau Lisa tidak perlu mengotori tangannya sendiri karena ia punya uang yang banyak dan sanggup menyewa seratus pembantu untuk mengurusi keperluan mereka.
Terlahir dari keluarga kaya raya memang membuat Max sedikit mempunyai sifat sombong namun meskipun kadang-kadang Max seperti itu tetapi ketika ia melihat orang yang sedang kesusahan Max juga tidak akan berdiam diri saja tanpa membantu.
" Yaudah kamu siapin makanan dulu ni, kakak tunggu di sini aja ya, kamu ambil piring sama minum di dapur " ucap Vano sambil meletakkan makanan di meja di ruang tamu.
" Iya kak " jawab Lisa.
Lisa yang memang sudah merasa lapar tanpa membuang waktu lebih lama lagi langsung saja mengambil piring di dapur dan membawa serta minuman dingin untuk mereka berdua.
Sifat ramah dan mudah bergaul Vano membuat hubungan Lisa dan Vano langsung akrab, bahkan dulu ketika mereka belum terlalu lama kenal namun tidak butuh waktu lama untuk membuat mereka berdua akrab.
Lisa yang saat ini sudah hampir selesai menyiapkan sirup dingin di dapur langsung membawa semua itu keruang tamu.
Tring...Tring...
Tring...Tring...
Tring...Tring....
Suara bel rumah yang terus saja dipencet seperti orang tidak sabaran membuat Lisa kesal karena merasa tamu itu sungguh tidak sopan dan tidak sabaran.
" Kak tolong bukain pintu sebentar, itu yang mencet bel nya engak selow banget dah " ucap Lisa meminta tolong pada Vano.
" Iya Lis, kamu siapin makanan ke piring terus biar aku yang buka " jawab Vano sambil berjalan ke pintu utama.
Clek...
" Sayang kok lama banget sih buka pintunya, Ak.....u " Max yang awalnya mengomel seketika terdiam ketika sadar bahwa yang membuka pintu rumahnya itu bukan pacarnya tetapi lelaki yang sudah 2 tahunan ini sering bermain ke rumah pacarnya dengan alasan ingin bertemu dengan abang iparnya padahal Max yakin bahwa itu hanya akal-akalan busuknya saja untuk mendekati kesayangannya.
" ngapain lo sini " tanya Max mulai emosi.
Max hanya akan berbicara lembut kepada orang-orang terdekatnya saja, namun ketika bertemu dengan orang-orang yang tidak ia sukai maka lelaki itu akan berbicara dengan kasar tanpa penyaringan.
Apalagi dengan lelaki di depannya ini, lelaki yang selalu saja berhasil membakar emosi kecemburuannya karena modus dekat dengan pacarnya, yang katanya sudah di anggap sebagai adiknya sendiri.
Namun Max tidak segampang itu untuk di bodohin oleh lelaki sok ganteng di depannya, sebagai sesama lelaki Max mengerti dan paham betul akan tatapan yang sering Vano perlihatkan pada Lisa namun perempuan itu saja yang tidak pernah menyadari.