
" Lah, suka-suka gue, yang punya rumah aja ngizinin dan biasa aja.
jadi, kenapa lo yang enggak selow begitu " jawab Vano terlampau santai hingga membuat emosi Max naik ke ubun-ubun.
" Ini itu rumah pacar sekaligus calon mertua gue, jadi ya jelas aja gue enggak suka liat lo ada di sini " ucap Max mulai tidak bisa mengontrol emosinya hingga kini tangannya sudah menarik kerah baju Vano.
Sedangkan diruang tamu, Lisa yang sudah selesai menyiapakan makanan untuk dirinya dan Vano, namun lelaki yang di tunggu Lisa itu belum juga kembali hingga membuat Lisa berniat menyusul ke pintu depan dan melihat apa yang membuat Vano begitu lama.
Namun baru beberapa langkah Lisa berjalan, ia seperti mendegar suara orang yang sedang marah-marah dan Lisa kenal betul siapa pemilik suara ini.
" Loh Max kok disini? " tanya Lisa heran karena tadi Max bilang padanya kalau ia mau pergi berkumpul dengan teman-temannya.
" Kenapa ?
Kamu enggak suka aku datang kesini ?
atau aku datang di waktu yang tidak tepat karena menganggu acara berduaan kalian di rumah ? " ucap Max dengan nada tinggi hingga membuat Max tidak sadar sudah membentak calon masa depannya.
" Kamu kenapa sih?
kerjaannya marah-marah aja, bukan gitu maksud aku sayang.
Tadi kan kamu bilang mau ngumpul sama teman-teman kamu.
Itu juga ngapain sih kamu narik-narik kerah baju kak Vano, lepasin Max " jawab Lisa lembut mencoba bersabar menghadapi tingkah laku Max yang mudah emosi dan solusi satu-satunya ketika lelaki itu emosi adalah harus dilembut-lembutin dan di sayang-sayang.
Namun bukannya meminta maaf pada Lisa, tetapi Max malah lebih marah lagi karena menganggap Lisa lebih membela lelaki lain dari pada pacarnya, hingga semua itu berakhir dengan Max yang mengurung Lisa di apartemen lelaki itu dan bahkan hampir melecehkannya hingga membuat Lisa ketakutan setengah mati.
" Aku kesini mau jemput kamu, mau ngajak kamu makan diluar karena tadi pas aku antar kamu, aku baru sadar rumah kamu sepi jadi pasti kamu belum makan karena enggak ada yang masak.
Tapi pas sampai kesini malah di sambut sama lelaki penganggu ini " jawab Max mulai mengontrol emosinya dan melepaskan tangannya dari baju Vano.
" Yaudah mending kita semua masuk dulu, kita ngobrol di dalem aja ya dari pada ribut-ribut di sini " ajak Lisa sambil menarik tangan Max.
" Ayo kedalam kak, nanti keburu dingin makanannya " ajak Lisa sekalian ke Vano.
" Iya Lis " jawab Vano.
" Kamu ngapain sih sayang ngajakin dia masuk lagi, suruh pulang aja " ucap Max kini malah merengek dengan muka cemberut ke Lisa agar mengusir Vano.
" Max kamu jangan gitu, lagian kak Vano udah bawa makanan tadi buat aku, jadi setidaknya biarin kak Vano makan dulu, dia udah capek-capek antar makanan ke sini " ucap Lisa mencoba memberi pengertian ke pacarnya agar tidak marah-marah.
Max yang mendegar ucapan Lisa yang tidak mau menuruti ucapannya langsung saja membuat mimik muka Max berubah menjadi lebih kesal namun mendengar nada bicara Lisa yang begitu manis dan memanggilnya sayang membuat Max sedikit luluh dan Max pun memilih mengalah karena sangat jarang pacarnya itu mau memanggilnya dengan sebutan sayang.
Sedangkan Vano sendiri setelah Lisa mengajak ia masuk tadi, tanpa mau memperdulikan ucapan Max yang tidak suka padanya, Vano langsung saja masuk kedalam rumah dan mengabaikan semua ucapan Max yang menyuruh Lisa mengusirnya.
Vano sendiri juga heran dengan lelaki yang berstatus sebagai pacar Lisa itu, Max selalu aja emosi kalau sudah bertemu dengannya namun hal itu tidak membuat Vano kesal malah sebaliknya.
Ketika bertemu dengan Max bahkan Vano kerap kali dengan sengaja memancing emosi lelaki itu, jujur saja Vano terkadang menikmati ketika melihat emosi Max yang naik turun dan meledak-ledak, itu semua seperti ada hiburan tersendiri untuknya.