
“Warung Steak, yuk. Aku yang traktir. Kebetulan aku baru dapet bonus dari masku. Heheheh.” Ajak Mala ketika mereka sudah selesai berbelanja perlengkapan makrab.
“Waaah. Kalau gratis mah, gas lah,” celetuk Zodi ikut senang.
Dan kini ketiganya sudah berada di dalam restoran yang menyajikan olahan steak dengan harga yang ramah di kantong para mahasiswa itu.
“Gak sabar makrab,” Mala terus saja mengoceh sepanjang makan. Meluapkan rasa antusiasnya ketika makrab nanti.
“Kalian banyak banget beli barang. Cuma nginep semalam ini,” hanya Zodi saja yang santai.
“Walaupun cuman semalam, tapi harus di manfaatkan dengan baik, Zo. Siapa tau nanti ketemu jodoh,” ujar Dea.
“Kuliah aja belum mulai, udah mikirin jodoh,” protes Zodi.
“Sekali jalan sabi lahhh.” Mala juga tak mau ketinggalan.
Setelah puas makan, ketiganya langsung berpencar. Mala dan Dea pulang ke kos mereka. Sementara Zodi sedang menunggu ojek yang akan membawanya pulang ke rumah keluarga Mia.
Pukul 14.25, Zodi sudah sampai di rumah. Terlihat sepi. Mobil Mia dan Ranu juga tidak ada. Mobil Igo juga tidak nampak di garasi. Hanya ada mobil Ibra saja yang teronggok di carport.
“Mbak Zodi udah pulang?” tanya Mbak Yani ketika Zodi ikut bergabung dengannya di dapur.
“Iya, Mbak. tumben sepi, Mbak? pada kemana?”
“Ibuk sama Bapak masih kerja. Mas Igo udah keluar dari tadi pagi sampe sekarang belum pulang. Mas Ibra juga gak tau kemana.”
“Tapi bukannya itu mobilnya di depan?”
“Iya, tadi udah pulang. Tapinya pergi lagi entah kemana.”
“Oooo. Mbak lagi mau masak apa? sini aku bantuin,” tawar jodi.
“Gak usah, Mbak. udah selesai kok. Cuma bikin gulai kakap sama sayur daun ubi tumbuk kesukaan Ibuk.”
“Pasti enak. Yaudah kalau gitu, aku mau ke kamar dulu ya, Mbak,” pamit Zodi yang kemudian naik ke kamarnya. Sebelum masuk, ia sempat melirik ke arah kamar Ibra lebih dulu.
Zodi merebahkan diri di atas tempat tidur sambil mengusapi perutnya. Sudah sejak tadi perutnya terasa mulas. Dan sekarang semakin sakit. Ia segera berlari ke kamar mandi setelah merasakan ada sesuatu yang keluar. Dan ternyata itu adalah tamu bulanannya. Untung ia sudah sampai di rumah.
Zodi mencari-cari pembalut tapi tidak menemukannya. Sepertinya barang itu sudah habis. Mau tidak mau, ia harus membelinya di indoapril yang ada di depan komplek perumahan. Ia segera menyambar ponselnya dari atas kasur dan berlari keluar kamar.
“Mbak, aku mau ke indoapril dulu sebentar,” Pamitnya kepada Mbak Yani dan langsung meluncur keluar sebelum mendengar jawaban dari Mbak Yani.
Zodi sudah merasa sangat risih dalam melangkah. Ia berjalan cepat demi bisa cepat sampai di minimarket. Begitu sampai, ia segera menuju ke rak barang yang ia butuhkan dan langsung mengambilnya.
Zodi mematung di depan kasir. Ia hendak membayar belanjaannya namun yang ia pegang ternyata ponsel, bukan dompet. Perasaan tadi ia menyambar dompet, kenapa malah jadi ponsel? Ya ampun. Zodi jadi bingung harus bagaimana.
“Ehm, Mbak. maaf, gak jadi. Dompet saya ketinggalan di rumah,” jujur Zodi.
Nampak raut wajah kasir itu sedang menahan tawa. Menatap lucu dan kasihan kepada Zodi.
Di saat yang bersamaan, ada seorang pria yang juga sedang membayar di kasir. Ia meletakan barangnya di atas meja kasir dan menyodorkan lembaran uang 100 ribu rupiah.
“Sekalian bayar itu juga, Mbak,” ujar pria itu.
Merasa mengenali suara bariton itu, Zodi langsung menoleh. Benar saja, itu adalah Ibra. Dengan wajah datar berdiri di samping Zodi. Sementara wajah Zodi sudah memerah malu. Malu karna lupa membawa uang, plus jenis barang yang ia beli merupakan barang pribadi kaum wanita. Mau menolakpun, tidak berani.
Dan yang lebih parahnya, si mbak kasir tidak pengertian dan malah mencampur barang milik Zodi bersama dengan barang milik Ibra. Doble memalukannya.
Zodi terus menundukkan wajahnya mengikuti langkah Ibra di belakang pria itu. tidak berani bersuara karna sudah kalah malu.
Sampai di rumahpun, Zodi masih diam saja. Bahkan untuk meminta barangnya saja, ia masih tidak berani. Untungnya Ibra seperti mengerti. Sampai di rumah, ia segera mengambil barang miliknya dan memberikan sisanya pada Zodi.
“Makasih, Kak. Bentar aku ambil uangnya dulu.”
Sampai di kamar, Zodi mengusapi wajahnya sendiri yang masih terasa panas. Tidak ingin berlarut-larut dalam rasa malu, ia segera masuk ke dalam kamar mandi dan menyelesaikan kegitannya.
‘hahahahahahahahahaha. Terus?’
Itulah baris kalimat balasan dari Mala ketika Zodi menceritakan kejadian memalukannya itu kepada dua temannya. Mereka berada di dalam satu grup chating.
‘Ketawa terus, La.’ – Zodi.
‘Sumpah. Aku lagi ngakak sampai di tegur sama temen kos.’ – Dea.
‘Kalian jahat. Malah ngetawain.’ – Zodi
‘Sekalinya di beliin barang, pembalut.’ – Mala.
‘Dasar temen gak ada akhlak.’ – Zodi.
‘Bersyukur aja, Zo. Jarang-jarang kan kak Ibra beliin kamu begituan. Kapan lagi coba?’ –Dea.
Zodi kesal jadi tidak lagi membalas pesan teman-temannya. Ia melempar ponsel itu ke atas bantal kemudian keluar dari kamar setelah mendengar Mbak Yani memanggilnya.
“Kenapa, Mbak?” tanya Zodi.
“Itu, motornya udah dateng.”
Mendengar itu Zodi menjadi antusias. Rasa malunya tadi sudah menghilang entah kemana. Ia segera berlari turun dan keluar dari rumah.
Benar saja, di depan rumah, sudah ada orang dari Dealer yang sedang menurunkan sepeda motor maticnya. Dan disana juga sudah ada Igo yang nampak sedang membantu mereka. Sementara Ibra, hanya menonton saja.
“Makasih, Mas,” Ujar Igo kepada mereka.
“Sama-sama, Mas.”
“Makasih banyak, mas,” Zodi juga tidak lupa beterimakasih.
Setelah orang dari Dealer pergi, Zodi segera memandangi dan meneliti sepeda motor barunya dengan seksama. Hatinya berdebar bahagia. Ia senang. Sekarang, ia punya sebuah benda berharga. Hal yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
“Udah bisa naik motor belum, Jo?” tanya Igo.
“Dulu udah pernah belajar sih, Kak. Semoga masih ingat.”
“Ayo, kita coba motor barumu. Bonceng aku keliling komplek,” ajak Igo kemudian.
“Tapi aku belum bisa bonceng, Kak. Nanti kalau jatuh, gimana?”
“Enggak, sekalian belajar, yuk,” paksa Igo.
Dan akhirnya Zodi menuruti. Ia mulai naik dan bersiap melajukan motornya. Sementara Igo sudah nangkring di belakangnya dengan kedua kaki yang siap untuk berjaga-jaga jika Zodi hilang keseimbangan.
“Nah, ternyata kamu udah bisa,” ujar Igo ketika Zodi sudah mulai melajukan sepeda motornya.
Zodi hanya mengangguk sambil tertawa ringan. Merasa senang sekali karna ternyata ia masih ingat caranya naik motor. Padahal, dulu saat masih di SMA, ia hanya sekali saja belajar motor. Itupun di ajari oleh saudaranya di dekat rumah.
*
TBC...