
“Maaf, Kak,” lirih Zodi.
“Ngapain minta maaf? Santai aja lagi.”
Santai? maksudnya? Apa Igo tidak sakit hati? Tidak marah?
“Aku perhatiin, beberapa hari ini kalian saling menghindar. Biasanya gak begitu.”
“Sebenernya, aku penasaran sama satu hal. Kayaknya, Kak Ibra gak suka aku tinggal di sini.”
“Kenapa kamu ngerasa gitu? Apa karna sikap Ibra yang cuek begitu? Aku kan udah pernah bilang sama kamu, Zo. Dia itu memang sikapnya begitu. Jangan di ambil hati.”
“Aku tau, Kak. Aku udah berusaha buat ngertiin sikap dinginnya kak Ibra sama aku. Tapi susah. Aku tetep ngerasa kalau dia itu gak suka ada aku disini.”
“Jauh banget mikirnya kamu, Zo. Lama-lama juga kamu terbiasa nanti. Ga usah di ambil pusing. Nanti biar aku yang ngomong sama dia.”
Zodi terdiam. Ia merasa seperti gadis lemah yang sedang mengadu kepada Igo.
Igo mengelus punggung Zodi lembut. Selembut senyumannya. Wajah yang sama, tapi getaran yang berbeda. Andai ia bisa jatuh cinta dengan pria baik ini. Ia tidak akan sepusing sekarang. Tidak akan semalu sekarang. Dan tidak akan sesakit sekarang.
Ah, kenapa dia harus terjebak di situasi merumitkan ini. Ditambah sekarang Igo tau tentang perasaannya. Dobel malunya. Dobel gak enaknya.
“Kak, aku masuk dulu ya. Mau mandi,” pamit Zodi. Ia membawa gelas tehnya dan meletakkannya di bak pencuci piring. Kemudian ia segera masuk ke dalam kamarnya.
Igo mengetuk pintu kamar Ibra pelan. Tidak berapa lama, adiknya itu membukakan pintu. Ibra muncul dari dalam.
“Aku mau ngomong,” kata Igo yang langsung masuk begitu saja ke dalam kamar Ibra. Ibra mengernyit melihat Igo yang tanpa ijin langsung masuk begitu saja kemudian duduk di sofa. Menyilangkan kaki sambil menatap tajam kepadanya.
Walaupun sambil mendengus pelan, Ibra ikut duduk di depan kakaknya itu. “Mau ngomong apa?”
“Se-gak suka itu kamu sama Zodi?”
Ibra mengernyitkan keningnya. Mencoba menebak arah pembicaraan mereka.
“Gak bisa apa kamu bersikap ramah sama dia? Kasihan dia. Jadi gak nyaman tinggal disini karna sikapmu. Cobalah bersikap normal biar orang gak salah faham.”
“Abang ngomong apa sih? Biasanya juga gak peduli kalaupun aku bersikap gini sama orang lain. Kenapa sama Zodi peduli?” jawab Ibra santai. Ia mulai bisa memetakan arah pembicaraan mereka. Igo pasti sedang berusaha melindungi wanita yang di sukainya. Ia tahu karna ia ada di sana ketika Igo menceritakan semuanya kepada ayah dan ibu mereka.
“Tapi ini beda, Ibra. Zodi tinggal disini sama kita. Kalau kamu bikin dia terus-terusan gak nyaman, itu bakalan nyusahin Mama. Kamu tau kalau Papa Zodi itu temennya Mama yang udah banyak bantu dia dulu.” Igo mulai menaikkan intonasi nada bicaranya.
“Kenapa Abang yang sewot? Dia yang bikin kita gak nyaman.”
“Gak nyaman gimana?”
‘Gak nyaman karna dia suka sama aku! Sementara Abang suka sama dia.’ Ibra hanya berteriak dalam hati.
“Ah, udah lah. Repot amat. Biarin aja. lama-lama dia juga terbiasa sama sikapku. Emang aku begini mau gimana lagi.”
“Seenggaknya kamu bisa ngerubah sikapmu itu.”
“Kalau gak nyaman tinggal di sini ya udah, tinggal pergi aja. Kok repot. Kalau dia gak tinggal disini, gak akan kayak gini jadinya.”
“Ibra! Kok ngomongnya gitu?” Igo tidak bisa menahan diri untuk tidak marah. Niat hati ingin menasehati adik kembarnya itu agar merubah sikap sehingga tidak membuat orang lain salah faham, Malah jawabannya membuat emosinya naik.
“Udahlah, Bang. Aku capek. Mau tidur.” Ibra tidak peduli. Ia bangkit dari duduknya kemudian melemparkan tubuhnya ke atas kasur. Ia masih bisa mendengar Igo menghela nafas kesal padanya.
Igo melirik tajam kepada Ibra kemudian keluar darikamar itu. ia terkejut ketika mendapati ada Zodi yang sedang berdiri di depan kemarnya.
“Oh, Kak Igo. Kok keluar dari kamar Kak Ibra?” tanya Zodi polos.
“Iya. Ada urusan sedikit. Kamu udah lama disini?”
“Enggak. Aku baru aja keluar. Kenapa, Kak?”
“Oh, enggak. Gak apa-apa.” Igo bisa bernafas lega. Sepertinya Zodi tidak mendengarnya.
Bohong. Jodi mendengar semuanya. Dia tidak setuli itu. dia sudah lama berdiri disana. Apalagi pintu kamar Ibra yang sedikit terbuka membuat suara itu terdengar sampai keluar. Ya walaupun tidak keras, tapi Zodi cukup memahami apa yang mereka bicarakan tadi di dalam.
Nyeri. Sakit. Hatinya terasa seperti di koyak-koyak. Sesak.
Di balik senyuman yang ia tunjukkan kepada Igo, ia merasakan semua itu.
“Ya udah. Aku duluan ya, Zo,” pamit Igo entah pergi kemana.
Zodi tidak jadi turun. Padahal tadi rencananya ia akan makan malam di bawah. Tapi setelah mendengar hal-hal menyakitkan yang di katakan oleh Ibra tentangnya, nafsu makannya menguap entah kemana. Akhirnya ia memutuskan untuk kembali masuk ke dalam kamarnya saja.
Zodi meraih ponsel dan mengirimkan pesan kepada ayahnya.
‘Pa, Zodi mau ngekos aja, ya?’
Beberapa menit kemudian, ponselnya berdering. Itu adalah telfon dari sang ayah.
“Halo, Pa?”
“Kenapa mau ngekos, Zo?” tanya Miko dari seberang.
“Gak apa-apa, Pa. Zodi pengen mandiri aja. Gak enak ngerepotin Tante Mia terus,” jelas Zodi. Ia sedang menahan airmatanya agar tidak terjatuh atau ayahnya akan tau kalau dia sedang menangis. Karna kalau dia menangis, suaranya sudah pasti akan berubah.
“Udah cari kosnya?”
Zodi seperti mendapat lampu hijau dari ayahnya. “Belum, Pa. ijin dulu sama Papa, baru besok Zodi cari.”
“Ya udah terserah kamu. Udah lama juga disana pasti udah tau seluk beluk kota Jogja. Tapi janji, hati-hati. Jaga diri baik-baik,” pesan miko.
“Iya, Pa. makasih banyak, Pa.” Zodi senang. Mengingat dulu ayahnya sengat kekeuh tidak mengijinkan ia ngekos sendiri. Kenapa sekarang gampang sekalim memberikan ijin? “Oh iya, kata tante Mia Papa mau kesini?”
“Iya, mau ngantar anak Papa. Dia mau kuliah keperawatan di sana. Rencana Papa nanti dia tinggal dengan Tante Mia juga buat sementara.”
Anak papa? Kenapa hati Zodi semakin nyeri mendengarnya? Karna itukah ayahnya mudah memberikan ijin untuk ngekos? Karna anak itu mau tinggal di rumah ini juga?
“Tapi Zo, Papa mau minta tolong sama kamu. Keluarga Papa gak ada yang tau tentang kamu. Jadi Papa mohon kamu jangan bilang sama adik kamu nanti kalau kamu itu anak Papa, bisa?”
“Terus Zodi harus bilang apa, Pa?” nyeri. Sakit sekali. Berkali-kali lipat sakitnya di bandingkan dengan ucapan Ibra tadi.
“Bilang aja kamu keponakan Papa. Ya?”
Ya tuhan. Seolah tidak cukup untuk menerima rasa sakit sekali saja hari ini, Malah di tambahin pula. Zodi menahan laju airmatanya sekuat tenaga. Memegangi dadanya yang terasa seperti sedang di tindih oleh batu besar.
“Iya, Pa. Zodi ngerti. Ya udah, Pa. Zodi mau ngerjain tugas dulu,” alasan Zodi. Padahal ia tidak punya tugas sama sekali.
Zodi langsung menutup telfon setelah mengucapkan salam. Dan, airmata itu luruh begitu saja membasahi pipinya.