
Kini, Zodi dan Igo sudah sampai di tempat kos. Pria itu membantu Zodi menurunkan barang-barangnya dari dalam taksi. Ia juga membantu membawa barang-barang itu sampai ke kamar Zodi.
“Makasih banyak, Kak. Udah bantuin bawain barang-barang,” ujar Zodi.
“Jujur, aku jadi ngerasa bersalah. Aku ngerasa kamu pindahgara-gara aku sama Ibra. Padahal aku sama sekali gak bermaksud kayak gitu, Zo.”
“Aku ngerti kok, Kak. Udah, gak usah di fikirin. Anggap aja ini yang terbaik buat kita semua.
“Ya tapi, tetep aja. Aku ngerasa bersalah sama kamu, Zo. Aku jadi khawatir sama kamu.”
“Yakin, aku gak apa-apa, Kak. Udah, ah. Jangan di ambil pusing begitu. Aku beneran gak apa-apa,” Zodi masih berusaha meyakinkan Igo agar tidak terlalu mengkhawatirkannya.
Igo berniat hendak membantu Zodi membereskan barang-barangnya. Tapi gadis itu menolak dengan alasan tidak enak dengan penghuni kos yang lain dan pemilik kos. Jadi dengan terpaksa Igo pulang ke rumah. Zodi hendak mengantarkan pria itu sampai di gerbang kos namun Igo menolaknya.
Malam harinya, di rumah keluarga Mia. Mereka semua sedang makan malam. Ada yang berbeda malam itu. Tidak ada lagi celotehan Zodi yang periang dan membuat suasana makan malam menjadi hidup. Sekarang sepi. Hanya Mia dan Ranu yang sesekali terdengar mengobrol.
“Kalian jujur deh sama Mama. Pasti Zodi ada masalah kan sama salah satu dari kalian? Atau sama kalian berdua? Gak mungkin kalau Zodi pindah kayak gini,” cecar Mia ketika mereka selesai makan malam.
Igo dan Ibra hanya saling pandang saja. Dari tatapannya, Ibra meng-kode Igo agar tidak memberitahukan kepada ayah dan ibu mereka. Tapi tidak, Igo sedang kesal kepada Ibra.
“Gara-gara Ibra, Ma,” Igo mulai menceritakan awal mula permasalahan yang terjadi antara dirinya, Zodi, dan juga Ibra.
Mia nampak mengelus dada sambil menghela nafas dalam. Ia menatap Ibra dengan tatapan pias.
“Kenapa kamu kayak gitu, Nak? Zodi itu anak yang baik. Dia lucu dan nyenenging. Kenapa kamu sampai gak suka sama dia? Apalagi sampai bilang kayak gitu. Pantes aja Zodi sakit hati. Mama juga kalau denger pasti sakit hati,” Mia menunjukkan kekecewaannya.
Ibra hanya menundukkan kepala saja. Fikirannya juga sedang berkecamuk. Ada hal yang tidak bisa ia ungkapkan kepada mereka malam ini.
“Mungkin karna aku juga, iya, Ma,” Igo menimpali.
“Maksudnya?” tanya Ranu.
“Tapi mungkin Zodi jadi gak nyaman karna aku suka sama dia. Zodi memang marah dan sakit hati sama Ibra.
Tapi dia juga suka sama Ibra.”
Ibra langsung mengangkat wajahnya. Menatap Igo dengan kening berkerut. Ia bingung, bagaimana mungkin Igo bisa tau semua itu? apa Zodi yang bercerita? Mungkinkan Zodi menceritakan kepada orang yang menyukainya?
“Maksud kamu, Zodi suka sama Ibra? Gitu?” Ranu saling melempar pandang dengan istrinya.
Igo mengangguk mantap. Tapi ia tidak menunjukkan wajah kecewa meskipun tau Zodi menyukai adiknya. Perkataan itu meluncur begitu saja dengan ekspresi santainya.
“Kamu tau darimana Zodi suka sama Ibra? Apa Zodi yang ngasih tau kamu?” kali ini Mia yang menyelidiki.
“Ya tau aja. Aku tau sendiri. Dia gak pernah bilang apa-apa.”
Sementara Ibra memilih diam saja. Fikirannya semakin berkecamuk. Permasalahan ini semakin melebar kemana-mana. Hanya karna satu ucapannya yang mengatakannya, ‘kalau dia gak tinggal disini ini, gak bakal jadi kayak gini’.
“Ibra, kamu harus minta maaf sama Zodi. Papa gak mau tau,” tegas Ranu.
Ibra menatap dingin kepada ayahnya. Kemudian ia pergi meninggalkan meja makan tanpa mengucapkan sepatah katapun. Tidak peduli orang tua dan kakaknya menatapnya dengan tatapan kesal.
“Kamu juga,” kali ini Ranu memaksa Igo.
“Aku udah minta maaf sama Zodi, Pa.”
“Mama serahin permasalahan ini sama kamu sama adek kamu. Mama sama Papa gak bisa ikut campur antara perasaan kalian. Kalian udah dewasa dan udah ngerti mana yang terbaik buat semua orang. Pesan Mama, jangan sampai saling menyakiti karna perasaan. Apalagi itu melibatkan Zodi. Mama yakin ini pasti gak mudah buat Zodi. Kamu gak cemburu waktu tau Zodi suka sama Ibra?”
Igo menatap ibunya dengan kening yang berkerut. Entahlah. Ia tidak merasa cemburu ataupun marah. Dia hanya merasa biasa saja.
Diamnya Igo berarti sesuatu bagi Mia. Ia bisa menyimpulkan tentang perasaan sebenarnya yang putranya itu rasakan.
“Kalau kamu masih gak yakin sama perasaanmu, mending kamu intropeksi diri dulu, Nak. Fikirkan baik-baik, apa kamu bener-bener cinta sama Zodi, apa cuma sekedar suka semata. Karna dua hal itu jelas berbeda.”
Igo mengangguk pelan. Ia baru berfikir ke arah sana. Kenapa ia tidak cemburu ketika mengetahui Zodi menyukai Ibra? Kenapa perasaannya biasa saja? Bukankah seharusnya ia merasa cemburu? Marah? Atau kesal kepada Zodi? Kenapa tidak ada perasaan itu yang dia rasakan? Apa dia benar-benar mencintai Zodi?
Pertanyaan terakhir itu mampu menyita waktu Igo. Hingga lewat tengah malam matanya masih tidak mau terpejam. Sama halnya dengan Ibra, kembarannya itu juga tidak bisa tidur.
Tok.
Tok.
Tok.
Ketukan di pintu kamar Ibra membuat si pemilik lansung bangun untuk membuka pintu. Wajahnya tetap datar ketika mendapati kembarannya yang sedang berdiri di depan pintu kamarnya. Seperti biasa, Ibra bahkan tidak perlu mempersilahkan Igo untuk masuk karna pria itu akan langsung duduk di sofa tanpa di persilahkan.
“Ngapain malam-malam ke sini?” tanya Ibra dingin.
“Kamu gak nyesel udah nyakitin hatinya Zodi?”
Pertanyaan itu mampu membuat Ibra menatap tajam kepada Igo. Menyesal?
“Jangan keras kepala, Zodi itu gadis yang baik. Di gak pernah buat masalah tapi kenapa kamu selalu nyakitin dia? Padahal kamu tau dia suka sama kamu.”
Terdengar Ibra menghela nafas kasar. “Sebenernya Abang mau ngomong apa? langsung aja.”
“Kamu harus minta maaf sama dia. Jangan sampai kamu nyesel setelah kehilangan gadis sebaik dia.”
“Abang yang suka sama dia, kenapa jadi ngelibatin aku?”
“Entah. Apa aku beneran cinta msama dia, atau cuma sebatas obsesi karna kemakan ucapan Mama waktu di bioskop waktu itu.”
Ibra mengernyit mendengar jawaban Igo. “Apa maksud Abang? Abang gak bener-bener sayang sama dia, gitu?”
“Bukan. Aku sayang sama dia. Tapi aku masih bingung, apa sayangku ke dia ini cuman sebatas sayang kakak ke adiknya, atau lebih. Kadang aku ngerasa kalau aku sayang sama dia cuman sebatas adik kakak. Jadi demi hubungan kita supaya kembali baik-baik, kamu harus minta maaf sama dia.”
Terdengar Ibra menghela nafas kasar kembali. Keningnya mengkerut menatap tidak suka kepada Igo.
“Ck. Kalau cuma mau bicara omong kosong gak usah sampai segininya lah, Bang. Aku tau apa yang harus aku lakuin. Kalau kalian mau aku minta maaf sama dia, oke. Aku bakalan minta maaf. Puas?”
Merasa sudah mendapatkan kepastian, Igopun keluar dari kamar itu. Menyisakan Ibra yang masih berkecamuk dengan perasaannya sendiri.
*
TBC...