
Sekitar 45 menit perjalanan, akhirnya Zodi dan Ibra sampai di bandara. Zodi segera menelfon ayahnya yang ternyata mereka berada tidak jauh dari tempat Zodi berada.
Cantik.
Itulah kesan pertama ketika Zodi melihat adiknya. Tubuhnya kecil tapi parasnya ayu. Rambut hitam panjangnya berkibar di terpa angin.
Zodi segera menghampiri ayahnya dan menyalaminya. Begitu juga Ibra.
“Oh, ini Ibra?” tanya Miko.
“Iya, Om. Maaf nunggu lama ya, Om.”
“Gak apa-apa.”
“Zodi, ini Ocha. Ocha, ini Zodi,” Miko saling memperkenalkan mereka.
“Salam kenal, Mbak. Ayah udah cerita katanya Mbak Zodi ini anak sepupunya yang di madiun ya? Mohon bantuannya ya, Mbak. soalnya aku belum faham sama daerah sini.”
Deg.
Hati Zodi terasa seperti di tusuk-tusuk. Ia berusaha tersenyum dan membalas uluran tangan dari Ocha.
“Salam kenal juga, Ocha. Tenang aja, aku siap bantu. Hehehehe.”
Zodi tidak berani menatap ayahnya karna takut hatinya goyah. Airmatanya sudah di ujung dan siap tumpah. Ia hanya berani melirik sekilas kepada Ibra yang nampaknya sedang bingung dengan situasinya. Untungnya pria itu tidak banyak tanya. Zodi tau, Ibra pasti bingung dan punya banyak pertanyaan.
“Mari, Om. Saya bantu bawakan barang-barangnya,” Ibra memutus kesedihan itu dengan mengalihkan perhatian. Membawa barang-barang Miko dan Ocha dan mengajak mereka menuju ke tempat mobil terparkir.
Selama jeda waktu itu, Zodi berusaha memasukkan kembali airmatanya dengan mengedip-ngedipkan matanya. Untungnya berhasil. Kemudian setelah itu ia menyusul mereka menuju mobil.
Jangan di tanya bagaimana perasaan Zodi saat ini. Rasanya seperti ada bongkahan batu besar yang sedang menghimpit dadanya. Sialnya dia tidak bisa berbuat apapun untuk menyingkirkan batu besar itu selain menahan rasa sesaknya sendirian.
“Kamu udah wisuda ya, Ibra?” tanya Miko memecah keheningan di dalam mobil. Ibra sempat melirik pria paruh baya yang duduk di belakang bersama Ocha itu lewat kaca spion.
“Iya, Om. Udah beberapa bulan lalu. Sekarang lagi koas di RSUP Sardjito.”
“Oooh. Mas Ibra dokter tho?” Ocha ikut bergabung dalam pembicaraan.
“Iya.”
“Wah, pas banget. Aku mau ambil keperawatan, Mas,” entah siapa yang bertanya, tapi Ocha antusias menceritakan.
Zodi? Gadis itu hanya terdiam saja sambil membuang wajah ke luar jendela. Sama sekali tidak berniat untuk ikut bergabung dalam pembicaraan. Merasakan dadanya saja sudah sesak. Ia tidak punya tenaga lagi untuk menambah bebannya dengan ikut mengobrol bersama mereka.
Sudah berkali-kali pula Ibra menoleh kepada Zodi. Ia bisa merasakan kalau ada yang tidak beres dengan gadis itu. Zodi terlalu murung dan pendiam. Ya walaupun tadi gadis itu memang hanya diam, tapi kali ini berbeda. Ibra bisa merasakannya. Ada kesedihan yang menggelayut di netra gadis itu.
“Zo, mau beli sesuatu dulu, gak?” tanya Ibra bermaksud mengajak Zodi berbicara. Tapi sayangnya gadis itu hanya menggeleng saja sambil sedikit tersenyum kepada Ibra. Senyum yang di paksa.
“Mas, kalau bisa mampir di indoapril dulu ya, Mas. Aku mau beli sesuatu,” pinta Ocha dengan tidak tau malunya.
“Iya,” jawab Ibra seadanya.
Ibra menghentikan mobil di indoapril dekat rumah. Karna tadi ibunya sudah memberitahukan kepadanya kalau Miko dan Ocha akan menginap di rumah mereka malam ini, jadi ia langsung membawa mereka ke rumah.
Ocha segera berlari masuk ke dalam minimarket tersebut. Setengah jam kemudian ia keluar dengan menenteng dua kantung belanjaan. Entah apa yang di beli oleh gadis itu yang jelas itu banyak sekali.
Mobil Ibra kembali melaju memasuki kompleks perumahan. Tidak lama mereka sudah sampai di rumah. Nampak Mia dan Ranu yang sudah menunggu kedatangan mereka.
“Baik, baik,” Ranu yang menjawab sambil bersalaman dengan Miko.
“Kenalin, ini anakku. Namanya Ocha,” Miko memperkenalkan Ocha kepada Mia dan Ranu. Gadis cantik itu langsung mencium tangan mereka.
“Zodi? Ya ampun, Tante kangen banget tau sama kamu,” Mia langsung mendekat ketika melihat Zodi di belakang Miko. Ia langsung merangsek dan memeluk Zodi erat.
“Tante apa kabar? Maaf belum sempat main kemari,” sesal Zodi ketika mereka sudah saling melepas pelukan.
“Iya, gak apa-apa. tante tau kamu pasti lagi sibuk.”
“Udah, kangen-kangennya nanti aja. ayo masuk dulu,” Ranu menginterupsi. Mengajak tamu-tamunya untuk masuk.
“Ehm, Ibra, tolong ajak Ocha masuk dulu. Om mau ada yang di omongin sama Papa sama Mamamu. Zodi juga masuk ke dalam ya?” pinta Miko dengan wajah serius.
Mia dan Ranu saling pandang. Penasaran apa yang hendak di bicarakan oleh Miko. Nampaknya itu penting sekali.
Iba mengajak Ocha untuk masuk lebih dulu. Begitupun dengan Zodi.
Mia, Ranu, dan Miko sudah duduk di halaman samping dekat dapur. Miko bersiap untuk bercerita.
“Ehm, gini Mia, Ranu. Aku mau minta tolong sama kalian berdua,” ujar Miko membuka pembicaraan.
“Kenapa, ko? Jangan serius gitu lah, jadi takut,” seloroh Ranu.
“Aku mau minta tolong sama kalian. Ini soal Zodi dan Ocha.”
“Kenapa sama mereka?” Mia mulai menyelidik.
“Keluargaku gak ada yang tau perihal Zodi. Ocha taunya Zodi adalah anak dari sepupuku. Aku mau minta tolong, tolong jangan singgung perihal kalau Zodi itu anakku di depan Ocha. Aku gak mau rumah tanggaku berantakan. Tolong banget, nih.”
Sekali lagi Mia dan Ranu hanya bisa saling pandang. Kemudian mereka kompak menatap kepada Miko.
“Aku gak bisa jelasin detailnya karna ini menyangkut privasi dan masalaluku.”
“Gimana sama Zodi?” tanya Mia kembali.
“Dia udah tau. Dan untungnya dia ngerti. Sekitar dua bulan yang lalu aku sempet nelfon dia dan kasih tau dia. Malam pas dia nelfon minta pindah kos.”
Sungguh, Mia tidak bisa membayangkan betapa hancurnya perasaan Zodi sebagai anak. Mia fikir hubungan Zodi dan Miko terbuka selayaknya ayah dan anak pada umumnya. Ternyata tidak seperti itu. malangnya nasib Zodi.
“Ya udah, Ko. Kami memang gak punya hak buat ikut campur urusan keluargamu. Kami juga bakalan hati-hati di depan Ocha perihal Zodi. Kamu tenang aja,” Ranu yang menjawab. Sementara Mia masih menatap Miko dengan tatapan tidak percaya.
“Makasih, Ranu, Mia. Dan sekali lagi, aku mau minta tolong. Beberapa malam ini, ijin menginap disini, ya? Nanti kalau Ocha udah pindah ke asrama, aku bakalan langsung pulang.”
Kali ini Mia hanya mengangguk dalam diam. Hatinya masih ngilu memikirkan kepedihan yang pasti di rasakan oleh Zodi. Gadis itu sangat kuat. Di timpa masalah seberat ini dan raut wajahnya masih biasa-biasa aja. Mungkin kalau Mia sudah entah, mengamuk, menangis, dan melampiaskan semuanya.
Ranu kemudian mengajak Miko untuk masuk ke dalam lewat pintu depan. Sementara Mia lewat pintu samping dapur.
*
TBC...