Uncomfortable Love

Uncomfortable Love
BAB 34. Tidak Ingin Melukai Siapapun.



Pukul 4 sore, Zodi dan yang lainnya baru kembali ke rumah. Mereka membawa banyak sekali ikan. Nek Siti girang bukan main. Bahkan hasil tangkapan itu di bagi-bagi ke tetangga yang lain juga.


Selesai membersihkan diri dan mengganti pakaian, Zodi merebahkan dirinya di kamar. Mungkin saking lelahnya, ia sampai tertidur dan melewatkan makan malamnya.


Zodi baru terbangun ketika hampir pukul 8 malam. Ketika perutnya terasa lapar, ia keluar dari kamar kemudian mencuci muka. Rumah dalam keadaan sepi. Hanya ada Ibra yang sedang duduk di kursi ruang tamu sambil mengutak-atik tabletnya.


Ia tidak bertanya kemana semua orang pergi. Ia kemudian mengirim pesan kepada Mbak Yani. wanita itu bilang kalau ia dan neneknya sedang keluar ke tempat tetangga karna ada acara syukuran. Awalnya mereka hendak mengajak Zodi, tapi karna melihat ia tidur dengan lelap, jadi tidak tega untuk membangunkan.


Dalam diam, Zodi menyantap makanannya di meja makan. Sepi sekali. Walaupun ada Ibra disana tapi seperti ia sedang sendirian di rumah itu. Sunyi.


Zodi memilih kembali ke kamar setelah mencuci piringnya. Ia duduk di ranjang sambil membuka-buka galery fotonya untuk melihat hasil ketika di sungai tadi. Sebuah foto menghentikan jemari Zodi untuk menggeser. Ia terbelalak demi melihat adegan yang ada di foto itu.


Entah, kok bisa momennya begitu pas ketika ia terjatuh di pangkuan Ibra, Mbak Yani memotretnya. Sepertinya itu tidak di sengaja.


Seharusnya, setelah melihat dan mendengar sikap Ibra kepadanya, itu sudah lebih dari cukup untuk membuatnya membenci pria itu. tapi tidak, bahkan kadar rasa sukanya hanya berkurang sedikit saja. Kurang ajar memang ketika ia sendiri bahkan tidak bisa menghentikan rasa suka itu. sepertinya ia harus segera pindah agar bisa menjauh dari Ibra. Agar perasaan itu perlahan hilang dengan sendirinya.


Memaki diri sendiri seolah tidak cukup untuk Zodi untuk bisa menghentikan perasaannya. Ia harus mencari cara lain. Sungguh, ia tidak ingin melukai siapapun. Rasa tidak nyaman yang ia rasakan sekarang ini sudah cukup membuatnya stres.


Zodi menghela nafas ketika ia sudah menghapus foto itu. Ia tidak ingin menyimpan kenangan buruk. Untuk apa di simpan? Itu hanya akan membuat hatinya menjadi sakit dan lemah.


Ia melemparkan pelan ponselnya ke kasur di sampingnya. Sudah kebiasaan ketika hendak tidur, ia harus ke kamar mandi terlebih dahulu.


Baru beberapa langkah dari tempat tidur, tiba-tiba, pet!!! Listrik padam. Membuat Zodi gelagapan. Dia tidak takut gelap. Ia mencoba kembali ke tempat tidur untuk mencari ponselnya. Meraba-raba sekitarnya. Tapi yang ada lututnya malah menubruk kursi plastik yang ada disana.


Bruk!


“Ah!!!” pekik Zodi. Terkejut plus sakit. Lututnya terasa sedikit linu. Karna ketika ia jatuh tadi, sepertinya ia mengenai pojokan tempat tidur.


Ibra sedang bersantai di dalam kamarnya ketika mendengar suara berisik seperti benda jatuh. Ia yang tadi mengira kalau Zodi sudah tidurpun langsung melompat dari tempat tidur ketika mendengar suara gadis itu berteriak.


“Zo?!” panik Ibra yang langsung membuka pintu kamar Zodi begitu saja. Untung tidak di kunci. Pria itu mengarahkan lampu senter di ponselnya dan mencari Zodi. “Kenapa?” nampak sekali kalau Ibra sedang panik luar biasa.


“Aduhhh. Jatuh, Kak,” Zodi merintih kesakitan. Ia mengangkat tangan untuk menghalangi cahaya senter mengenai matanya. Silau.


Ibra bergegas menghampiri Zodi. Di saat yang bersamaan, listrik kembali menyala. Ibra bisa melihat ada darah segar yang mengalir dari lutut Zodi. Lututnya terluka.


Zodi duduk di tepian ranjang dengan di bantu oleh Ibra. Lututnya terasa perih, pegal, dan sakit yang menjadi satu.


“Tunggu disini sebentar,” setelah mengatakan itu, Ibra bergegas keluar untuk mengambil kotak p3k dari mobilnya. Setelah itu ia kembali ke dalam kamar Zodi.


Zodi sedang membersihkan lukanya dengan tisu.


“Jangan di bersihin pakai itu. Pakai alkohol dulu.” Sentak Ibra yang kemudian berjongkok di lantai dan langsung membersihkan lukanya dengan alkohol.


Zodi meringis merasakan perih di kakinya. Ia sampai memejamkan mata demi menahannya.


“Biar aku aja, Kak. Aku bisa sendiri,” Zodi merampas obat luka dari tangan Ibra. Membuat pria itu hanya ternganga saja.


Dan benar, Zodi mengobati lukanya sendiri. Itu adalah bentuk perlawanannya terhadap hatinya sendiri. Rasanya sudah cukup ia menjadi gadis brengsek yang menyukai pria yang sudah memiliki kekasih. Ia tidak ingin harga dirinya jatuh lebih dalam lagi.


“Udah, Kakak balik aja ke kamar lagi. Makasih bantuannya,” usir Zodi terang-terangan.


Terdengar Ibra menghela nafas sebelum akhirnya ia menurut.


Sepeninggal Ibra dari kamarnya, Zodi naik ke tempat tidur. Menyelimuti dirinya sambil menahan rasa ngilu di lutut sampai ia terlelap pada akhirnya.


Pagi hari, Mbak Yani dan Nek Siti heboh ketika melihat Zodi yang berjalan dengan kaki pincang.


“Ya ampun, Mbak Zodi? Kenapa itu kakinya?” tanya Mbak Yani panik.


“Jatuh di kamar semalam, Mbak. pas mati lampu.”


“Kok bisa to, Nduk?” Nek Siti juga ikut bertanya.


“Pas gelap gak ngelihat pojokan tempat tidur, Nek. Jadi kesandung.”


“Owalah.... udah di obati?” tanya Nek Siti lagi.


Zodi mengangguk. “Udah, Nek.”


Dan sisa liburan di sana di habiskan Zodi dengan hanya di rumah saja. Bosan sebenarnya, tapi kakinya masih linu kalau di bawa untuk berjalan.


Seperti yang sudah di rencanakan, hari minggu pagi mereka bertolak kembali ke kota Jogja. Lutut Zodi juga sudah sembuh karna lukanya tidak terlalu parah. Nek Siti membawakan mereka banyak sekali sayuran dan buah-buahan dari kebun belakang rumahnya, untuk mia. Hal itu membuat Zodi terpaksa duduk di depan lagi.


Kali ini, sepanjang perjalanan Zodi benar-benar hanya diam saja. Ia sama sekali tidak berniat untuk memulai pembicaraan di waktu yang membosankan itu. Begitu juga Ibra. Pria itu hanya fokus menyetir tanpa membuka suaranya. Sepertinya dia sedang banyak sekali fikiran.


Di perjalanan kali ini, Zodi sempat tidur walau tidak lama. Tapi itu cukup membunuh kebosanannya.


Siang hari, mereka sudah sampai di rumah. Zodi segera menyalami Mia dan Ranu yang sedang asyik mengobrol santai di depan rumah mereka. Setelah itu ia buru-buru pamit untuk pergi ke kamarnya.


Zodi sudah bertekad, besok, ia harus sudah pindah dari rumah ini. Ia tidak bisa lebih lama lagi tinggal disini. Maka setelah masuk ke dalam kamarnya, ia segera menghubungi pemilik kos dan memberitahu kalau besok dia akan pindah.




*


TBC...