
Ke esokan harinya sekitar pukul 9 pagi, Mbak Yani sudah heboh mengajak Zodi untuk pergi ke sungai di belakang rumah. Bersama dengan dua remaja anak tetangganya, ia berniat untuk mencari ikan.
Bukan hanya Mbak Yani yang antusias, Zodi juga. Dia sangat menyukai kegiatan alam seperti ini. Membuat fikirannya lepas dan jiwanya bebas. Tapi yang tidak terduga adalah, bahwa ternyata Ibra juga ikut bersama mereka. Sungguh menyebalkan.
Ya ampun. Bagaimana caranya agar dia bisa menghindari Ibra? Sementara perasaan tidak nyaman dan sakit hati itu terus membumbung di dalam dadanya. Tapi apa yang bisa dia lakukan? Selain membiarkan pria itu ikut bersamanya.
Rasa kesalnya pada Ibra langsung sirna ketika melihat keindahan alam yang terbentang di hadapannya. Sungguh, lelahnya perjalanan yang
terjal menurun tadi terbayar lunas dengan apa yang ada di hadapannya saat ini.
Seketika senyuman Zodi mengembang dengan lebar.
“Wahhhh. Cantiknyaa. Ada air terjun juga.”
Gemericik suara air terjun yang mengalir di hulu sungai membuat suasana begitu nyaman. Zodi segera mengeluarkan ponselnya dan mengambil beberapa foto. Sementara Ibra dan dua bocah remaja tadi menyiapkan bubu untuk di pasang di beberapa tempat.
“Sementara nunggu bubu di pasang, Mbak Zodi bisa main air dulu. Mandi di air terjun itu, seger banget.”
Zodi mengangguk. Ia kemudian berjalan menuju ke air terjun yang tingginya hanya sekitar dua meter. Tidak tinggi, tapi airnya sangat jernih sekali, pun segar.
Zodi tidak lantas mandi. Ia menggulung celananya sampai lutut, kemudian mencemplungkannya ke dalam air. Segar, benar-benar segar. Ia mengedarkan pandangannya. Di sana hanya ada dirinya dan Mbak Yani. Sementara Ibra dan dua remaja tadi entah pergi kemana. Mungkin sedang memasang perangkap ikan, fikirnya.
Sambil bermain air, Zodi meminta bantuan Mbak Yani untuk mengabadikan momen epik itu dengan ponselnya. Tentu saja Mbak Yani dengan senang hati membantunya. Mereka berfoto dengan beberapa angle yang berbeda-beda.
Zodi naik ke atas batu besar yang ada di pinggir sungai. Ia berniat untuk berdiri di atasnya dan berfoto di sana. Ia ingin memamerkan itu semua kepada kedua sahabatnya. Mereka pasti heboh karna tidak di ajak.
“Hati-hati, Mbak, naiknya! Licin itu,” Mbak Yani memperingatkan.
“Oke!” jawab Zodi. Dengan hati-hati ia naik ke atas batu. Ia berhasil. Mbak Yani segera memfotonya.
Dirasa sudah cukup, Zodi berniat untuk turun. Namun ia salah memijak. Ia memijak bagian batu yang berlumut dan licin. Tubuh Zodi kehilangan keseimbangan. Ia oleng dan tubuhnya terhuyung ke samping. Siap untuk membentur kerikil yang ada di pinggiran sungai.
Bruk!
Zodi terjatuh juga. Tapi tidak di atas kerikil, melainkan ia jatuh terduduk di atas pangkuan Ibra.
Ibra? Ya, Ibra. Pria itu kebetulan lewat setelah selesai memasang perangkap ikan dan melihat Zodi yang hampir saja terjatuh. Ia segera menangkapnya namun ia juga terpeleset hingga jatuh terduduk. Dan Zodi jatuh tepat di atas pangkuannya.
“Ya ampun, Mbak Zodi!!” Mbak Yani berteriak panik dan segera berlari menghampiri mereka. Ia segera menolong dan membantu Zodi untuk berdiri.
Zodi melihat ke arah Ibra yang juga ikut berdiri setelahnya. Pria itu nampak mengusap bagian bo kongnya. Mengernyit merasakan sakit.
“Maaf, Kak. Gak sengaja,” tiba-tiba Zodi merasa sangat bersalah. Melihat raut wajah Ibra, sepertinya pria itu sangat kesakitan.
“Hati-hati,” ujar Ibra singkat. Dia lantas pergi meninggalkan Zodi dengan rasa bersalahnya.
“Mbak Zodi gak apa-apa?” tanya Mbak Yani panik.
Zodi menggeleng. “Enggak, Mbak. Gak apa-apa. Tapi Kak Ibra kayaknya kesakitan tuh pan tatnya. Jadi gak enak.”
“Alahhh. Mas Ibra itu kan cowok. Gak mungkin nangis gara-gara ini. Hehehehehehe.”
Zodi jadi ikut terkekeh dengan gurauan Mbak Yani.
Sambil menunggu ikan masuk perangkap, Zodi dan yang lainnya memilih bermain air. Mereka mandi dan berenang sepuasnya. Termasuk Ibra. Zodi bahkan sampai heran di buatnya. Ibra nampak bersenang-senang.
Tidak berapa lama kemudian, Ibra dan kedua bocah itu kembali. Mereka membawa banyak sekali ikan. Ada yang besar, ada yang kecil. Ada udang dan kepiting juga yang ikut terperangkap disana. Zodi girang bukan main.
Ibra segera membuat api. Sementara Mbak Yani di bantu Zodi membersihkan ikan di tepi sungai.
“Ternyata banyak banget ikannya disini ya, Mbak?” ujar Zodi.
“Banyak, Mbak. ini sekarang udah mulai berkurang karna sering di tangkap. Kalau dulu, perangkap yang itu, hampir penuh kalau di pasang.”
“Serius, Mbak?”
Mbak Yani mengangguk meng-iyakan.
Mereka hanya membersihkan ikan yang besar saja untuk di panggang. Juga beberapa ekor kepiting dan udang yang juga ukurannya besar. Sementara yang kecil akan di bawa pulang untuk di olah di rumah nanti.
Ibra masih sibuk menghidupkan api. Tidak nampak gugup atau bagaimana. Seperti ia sudah sering melakukannya. Sementara dua bocah tadi kembali memasang perangkap.
Sesekali Zodi melirik kepada Ibra. Ia bisa melihat kalau pria itu masih menahan sakit di bagian bo kongnya. Zodi semakin merasa bersalah saja.
Selesai membersihkan ikan, Zodi memberanikan diri mendekati Ibra. Pria itu mendongak ketika merasakan Zodi yang berdiri di sampingnya.
“Kenapa?” tanya Ibra melihat wajah murung Zodi.
“Maaf, Kak. Masih sakit banget ya?”
Ibra mengerti maksud Zodi.
“Udah gak seberapa,” jawab Ibra. Ia kembali memasukkan kayu bakar ke dalam api.
Jawaban Ibra itu membuat obrolan terputus. Zodi kembali duduk di dekat Mbak Yani yang sedang mempersiapkan alat panggang yang dibawanya tadi. Menaruh ikan, kepiting dan udang ke atasnya.
Beberapa saat kemudian, ikan bakar mereka sudah jadi. Zodi segera mengeluarkan rantang berisi nasi putih yang mereka bawa dari rumah tadi. Mereka juga membawa sambal kecap sebagai pelengkapnya.
Makan siang yang meriah dan menyenangkan. Zodi terus bercanda dengan dua bocah remaja yang humoris itu. mereka terlihat akrab dan se-frekuensi.
Sementara Ibra, sedang sibuk memisahkan daging kepiting dengan cangkangnya. Begitu juga dengan udangnya. Setelah selesai, ia mengumpulkannya di atas daun pisang kemudian menyodorkannya ke hadapan Zodi.
Hampir saja Zodi pingsan mendapat perhatian itu. kalau saja ia tidak ingat kalau itu adalah Ibra.
“Makasih, Kak,” hanya itu yang di ucapkan Zodi.
Sejujurnya ia sedang mengumpati hatinya yang terus saja berdebar bahkan setelah apa yang di ucapkan Ibra kemarin. Hatinya sakit, tapi berdebar di saat yang bersamaan. Kurang ajar sekali.
Makan siang itu terasa mewah walaupun dengan menu yang sederhana. Suasana alam membuat siapapun betah berlama-lama disini. Untuk sejenak, Zodi melupakan permasalahannya dengan Ibra. Ia berusaha untuk fokus menikmati alam yang menyejukkan dan menenangkan ini.
*
TBC...