
“Aku rada gimana gitu waktu temen-temenku tadi ngiranya kamu jemput Mbak Nilam di cafe. Mereka semua ngira kamu pacaran sama Mbak Nilam. Aku kesel, wajar gak sih?” akhirnya Zodi mengeluarkan apa yang mengganggu hatinya.
Mendengar keluhan gadis yang sangat di cintainya itu, membuat Ibra justru tersenyum simpul. Ia meraih tangan Zodi dan langsung menggenggamnya erat.
“Sayang, wajar kamu ngerasa kayak gitu. karna memang mereka gak tau kalau aku datang mau jemput kamu. Maaf ya, udah biarin rumor itu bertahan bahkan sampai kita udah tunangan. Kamu tenang aja. Gak usah terlalu di fikirin. Nanti aku yang bakalan umumin kalau tunangan aku itu kamu, bukan Nilam.” Ujar Ibra bersungguh-sungguh. Tatapannya menunjukkan akan kepastian yang sedang ia ucapkan.
“Tapi...”
“Udah, jangan di fikirin. Nanti malah kamu sendiri yang pusing.” Ibra masih berusaha menenangkan Zodi. Hingga pada akhirnya Zodi menganggukkan kepalanya kemudian tersenyum.
“Aku bakalan coba, Kak. Bener juga kata Kakak. Ngapain kita mikirin omongan orang? Gak ada gunanya. Hehehe.”
“Fokus aja sama diri kamu dan masa depan hubungan kita. Gak perlu dengarin kata orang. Kamu cukup lihat aku, dan dengerin aku. Ya?”
Zodi kembali menganggukkan kepalanya. Kali ini senyumnya lebih lebar dari sebelumnya.
“Besok ngampus jam berapa?” suasana kembali riang. Ibra lega karna wajah kekasihnya sudah kembali berseri.
“Jam 9.”
“Ya udah, besok aku jemput.”
“Emang Kakak gak ke rumah sakit?”
“Ke rumah sakit. Cuma masih sempet kalau cuma jemput kamu doang. Kan rumah sakitnya juga di dekat kampus.”
“Takut banget ngerepotin Kakak.”
“Tuh, kan. Udah di bilang jangan fikir yang macem-macem.”
“Ya maap.”
Walaupun menunya cuma mie instan saja, tapi terasa sangat enak dan istimewa. Apalagi itu buatan sang kekasih hati. Seolah dinginnya udara yang di antarkan oleh hujan tidak menjadi halangan yang berarti.
**
**
Seperti janjinya kemarin, pagi ini Ibra sudah datang untuk menjemput Zodi di kosnya. mengetahui kalau tunagannya itu sudah sampai, gadis itu buru-buru turun dan segera menemui sang kekasih.
“Sorry lama, KAK.”
“Gak lama, kok. Udah siap? Ayo.” Ajak Ibra membukakan pintu mobil untuk Zodi. “Nanti siang mau di jemput, gak” tanya Ibra kembali setelah mobil melaju meninggalkan kos.
“Gak usah. Aku ada janji sama Dea sama Mala buat makan siang bareng.” Nanti pulangnya juga sama Mereka.”
“Ow, ya udah. Kalau perlu apa-apa, kabarin aku ya?” pesan Ibra.
“Siap, pak dokter.”
Zodi melarang Ibra untuk ikut turun dan mengantarkannya ke dalam fakultas. Ia faham kalau Ibra tidka punya banyak waktu dan ia tidak mau membuat Ibra kesulitan. Untungnya Ibra sangat mengerti apa maksudnya.
Ketika istirahat makan siang di kantin, seseorang menghampirinya yang sedang makan siang bersama dengan Dea dan mala. Orang itu tak lain adalah Nilam.
Dengan kening berkerut Zodi menatap Nilam yang kini berdiri di hadapannya.
“Zo, bisa kita bicara sebentar? Ada yang mau aku tanyain sama kamu,” ujar Nilam dengan raut wajah serius. menandakan bahwa ia memang sedang tidak ingin bercanda saat ini.
“Kenapa, Mbak? ada apa?” tanya Zodi penasaran ketika mereka sudah sampai di belakang kantin.
“Aku cuma mau nanya aja, sih. Kamu beneran pacaran sama Ibra?” Nilam langsung saja bertanya pertanyaan yang sejak pagi ini menguasai fikirannya.
Sementara Zodi hanya terdiam. Tidak enak memberitahu ketika melihat raut wajah Nilam yang sepertinya berharap sebaliknya.
“Bener, Zo?” desak Nilam kembali.
Zodi sedang bimbang. Antara ingin memberitahu yang sebenarnya, namun tidak enak karna ia tau kalau Nilam punya perasaan khusus terhadap tunangannya. Tapi kalau ia berbohong, itu tidak baik. Berbohong justru akan memperkeruh keadaan kedepan.
“Mbak Nilam denger dari siapa?” tanya Zodi pada akhirnya.
“Jadi beneran kalian pacaran?” raut wajah nilan nampak jelas kecewa. Perlahan wajahnya menunduk dan mendung sudah bergelayut di kelopak matanya.
“Mbak,...” Zodi baru saja akan menjelaskan namun Nilam mengangkat wajahnya dan tersenyum kemudian.
“Kamu kok mau sih jadi selingkuhan Ibra? Kamu kan tau kalau Ibra itu pacaran sama aku. Kenapa malah di terima?” nada suara Nilam hanya pelan saja, namun entah kenapa itu terasa sangat menusuk di hati Zodi.
“Kata Kak Ibra kalian gak pacaran, kok.” Zodi terpancing. Ia merasa posisinya sebagai tunangan Ibra sedang terancam. Yang awalnya ia merasa kasihan kepada Nilam yang berwajah sedih, kini malah kesal karna Nilam malah menuduhnya menjadi selingkuhan.
“Terus kamu percaya? Kamu gak berfikir kalau dia bohongin kamu, gitu? Semua orang disini juga tau kalau Ibra itu pacarku, Zo. Bisa-bisanya kamu rebut dia dari aku?” airmata Nilam sudah tumpah ruah membasahi pipinya.
Zodi terbungkam. Sebenarnya banyak sekali yang ingin dia katakan untuk membela diri. Namun entah kenapa kalimat itu tidak bisa keluar dari mulutnya. Yang jelas hatinya seperti di tusuk ketika di tuduh sebagai perebut.
Saking syoknya, Zodi sampai tidak menyadari kalau Nilam sudah tidak bersamanya. Wanita itu telah pergi dengan airmata yang berderai di wajahnya.
Zodi terjongkok merasakan lututnya yang gemetar dan melemas.
“Zo? Kamu kenapa?” suara Dea yang baru saja muncul di belakangnya.
Dea dan Mala langsung menyusul Zodi ketika melihat Nilam keluar dari belakang kantin sambil mengusap wajah sembabnya.
Mala mengusap punggung Zodi untuk menenangkannya.
“Zo, Mbak Nilam bilang apa sama kamu? Kalian bertengkar? Kok dia nangis?”
Desakan pertanyaan itu membuat Zodi menceritakannya walaupun sambil terbata. Ia tidak menangis. Hanya rasa sesak saja yang semakin memenuhi dadanya. Rasa marah, kecewa, terkejut, berkumpul menjadi satu disana.
Beberapa kali Zodi menarik nafas dalam. Ada rasa membuncah untuk mempertahankan milknya. Ia lebih mempercayai Ibra ketimbang ucapan Nilam. Tapi ia tetap harus memastikan dulu kepada orang yang bersangkutan, yaitu Ibra.
“Zo, mau kemana?” tanya Dea heran ketika tiba-tiba Zodi bangun dan meninggalkan mereka dengan langkah yang lebar. Tidak peduli dengan panggilan kedua sahabatnya, ia terusa saja berjalan keluar dari kamtin lewat pintu samping.
Seiring langkah kakinya yang semakin mendekati rumah sakit, dada Zodi semakin bergejolak. Tiba-tiba sebuah keraguan menyerang hatinya. Ia terfikir dengan ucapan Nilam. Bagaimana jika memang Ibra benar membohonginya? Bagaimana jika tunangannya itu benar-benar menjalin kasih dengan Nilam dan berbohong terhadap dirinya?
Ada rasa sakit yang luar biasa yang sedang menyerang hatinya. Memikirkan jika yang ia fikirkan benar terjadi.
Zodi meyakinkan diri untuk tetap mempercayai Ibra. Biar bagaimanapun dia adalah tunangannya. Ia tidak boleh gegabah mempercayai ucapan Nilam. Tapi demi apapun, hatinya menjadi ragu dan takut.
TBC...