Uncomfortable Love

Uncomfortable Love
BAB 15. Untuk Pembeda.



Mobil Igo sudah memasuki kawasan kota. Setelah mengantar Mala dan Dea pulang ke kosnya, kini tinggallah Igo dan Zodi berdua di dalam mobil.


“Mau jalan-jalan dulu, gak?”


“Kemana, Kak?”


“Malioboro, mau?”


“Boleh,” jawab Zodi. Walaupun sudah bisa di bilang sering ke sana semenjak ia di Jogja, tapi tidak ada salahnya jalan-jalan lagi. Apalagi dengan Igo.


Kini, keduanya tengah menyantap bakwan kawi di salah satu kawasan Malioboro. Di temani dengan segelas es teh membuat tenggorokan menjadi lebih segar.


Setelah itu, mereka berjalan menyusuri malioboro. Melihat-lihat barang yang di jual sepanjang jalan. Sampai Zodi berhenti pada seorang penjual pernak-pernik berupa gelang.


“Bisa custom nama gak, Mas?” tanya Zodi.


“Bisa, Mbak. pilih aja dulu mau gelang yang mana. Nanti kita buatkan namanya,” jawab si penjual.


“Kamu mau beli gelang?” tanya Igo penasaran.


Zodi hanya mengangguk saja. Ia fokus memilih dua buah gelang. Setelah mendapatkan yang menurutnya bagus, ia segera memberikannya kepada penjual untuk di buatkan namanya.


“Yang ini, namanya Igo. Dan yang ini namanya Ibra,” ujar Zodi kepada penjual. Warna kuning untuk Igo, dan warna biru untuk Ibra.


“Kenapa beli gelang buat kita?” tanya Igo penasaran.


“Biar enak bedainnya, Kak. Susah banget bedain kalian tuh. Sampai sekarang aja aku masih bingung buat bedain. Kalian harus punya pembeda soalnya aku sama sekali gak bisa bedain kalian. Bukan cuma aku, Kak. Semua orang begitu. Kalau udah ada gelang ini kan enak. Kalau kira-kira ada orang bingung, kasih tunjuk aja gelangnya sama mereka. Kan gampang,” jelas Zodi panjang lebar.


Igo hanya menganganggukkan kepala saja. Benar juga. Kenapa ia tidak berfikir begini sejak dulu?


Setelah menunggu 10 menit, akhirnya gelang pesanan Zodi selesai di buatkan namanya. Ia segera memberikan yang kuning untuk di pakai Igo. Dan ia akan memberikan milik Ibra nanti ketika bertemu di rumah.


“Kuning sama biru. Kayak Upin Ipin kami ini. Untung gak botak juga ya?”


Mendangar selorohan Ibra itu membuat Zodi langsung tergelak tertawa. Ia tidak memikirkan hal itu tadi.


“Gimana? Bagus, gak?” tanya Igo ketika gelang itu sudah terpasang di pergelangan tangannya. Ia mengangkat dan menunjukkannya kepada Zodi.


“Bagus. Cocok sama Kak Igo yang kepribadiannya tuh cerah.”


“Waduh. Hehehehehehe”


“Udah jam 2 nih, Kak. Pulang yuk. Aku mau belajar naik motor lagi. Mau nyoba turun ke jalan raya. Biar nanti pas masuk kuliah aku udah bisa bawa motor ke kampus,” ajak Zodi.


“Boleh. Ayo. Nanti Kakak ajarin. Mumpung hari ini Kakak gak ada kegiatan.”


“Hehehe. Makasih Kak Igo.”


Segera setelah itu keduanya langsung meluncur pulang ke rumah.


Seperti biasa, rumah dalam keadaan sepi. Hanya ada Mbak YANI dan Ibra yang sepertinya sedang bersantai di ruang tamu.


Setelah membereskan barang-barangnya ke dalam kamar, Zodi menghampiri Ibra yang masih sibuk dengan ponselnya di ruang tamu. Ia duduk di depan pria itu.


“Udah pulang dari tadi kok baru nyampe rumah?” Ibra bertanya walaupun fokusnya tidak teralihkan dari ponsel.


“Iya, tadi jalan-jalan dulu sama Kak Igo. Kak Ibra udah dari tadi sampe rumah?” Zodi mulai berbasa-basi.


Dan Ibra hanya mengangguk.


“Kak, Ini buat Kakak,” Zodi menyodorkan gelang berwarna biru itu kepada Ibra.


Sejenak Ibra menghentikan permainannya. Kemudian menatap kepada gelang yang di berikan oleh Zodi.


“Buat apa gelang?”


“Buat bedain antara Kak Ibra sama Kak Igo. Aku juga beli buat Kak Igo. Susah banget bedain kalian. Kalau udah punya ini kan enak. Aku tinggal lihat gelangnya dan tau kalau itu Kak Igo, apa Kak Ibra. Dipake ya Kak,” pinta Zodi setelah Ibra menerima gelang itu. Setelah itu ia kembali pergi entah kemana.


Tidak di pungkiri, memang ini sangat berguna agar orang-orang tidak salah lagi mengenali mereka.


Zodi sedang rebahan di kamarnya ketika ada suara ketukan di pintu terdengar.


“Zo? Kamu di dalam?” itu seperti suara Igo.


“Iya, Kak. Sebentar!” Zodi segera membuka pintu. “Kenapa, Kak?”


“Aduh, sorry banget nih. Kayaknya Kakak gak bisa nemenin kamu belajar motor. Soalnya Kakak harus bimbingan. Mumpung dosen pembimbingnya ada waktu,” ada rasa menyesal dari anda bicara Igo.


“Ya ampun. Kirain kenapa. Yaudah, gak apa-apa, Kak. Kak Igo aja. aku bisa kok belajar sendiri.”


“Jangan jauh-jauh tapinya. Yang deket-deket aja. Atau kalau enggak gak usah ke jalan dulu. Soalnya bahaya.”


“Kak Igo gak usah khawatir gitu. Aku gak apa-apa. Beneran.” Zodi meyakinkan Igo yang nampak sangat menyesal karna harus membatalkan janjinya dengan Zodi.


“Beneran, ya? Pokoknya hati-hati,” pesan Igo kembali.


“Iya.”


Igo hanya mengembangkan senyuman dan mengelus kepala Zodi lembut. Zodi tidak terkejut karna Igo sudah beberapa kali mengelusnya seperti itu. Ia suka di perlakukan seperti anak kecil begitu oleh Igo. Rasanya seperti ia punya seorang kakak yang siap melindunginya.


Pukul 4 sore, Zodi bersiap-siap untuk berlatih mengendarai motor. Ia mulai mengeluarkan motor dari garasi rumah. Ia sudah bertekad untuk terjun ke jalan raya walaupun tanpa Igo. Ia yakin ia bisa melakukannya sendiri. ia hanya perlu berhati-hati saja. Berjalan di pinggir sepertinya tidak akan membahayakan.


“Mau kemana?”


Zodi sontak menoleh dan sudah ada Ibra di belakangnya. Kenapa ia tau itu Ibra? Karna ia melihat gelang biru itu sudah bertengger manis di lengan Ibra.


“Oh, mau belajar motor, Kak. Mau nyoba turun ke jalan raya. Biar cepet pinter bawa motornya.”


“Gak pake helm?”


Seketika Zodi memegangi kepalanya. “Oh iya. Lupa,” ia kembali turun kemudian mengambil helm dari rak di garasi.


Tapi yang anehnya, Ibra juga iktu mengambil helm dan langsung mengenakannya. Kemudian pria itu siap di sebelah motor Zodi.


“Kak Ibra mau pergi juga?”


“Buruan naik,” pertanyaan Zodi sama sekali tidak di gubrisnya.


Zodi yang bingung kemudian naik ke atas motor. Ia terkejut ketika Ibra justru ikut naik di belakangnya.


“Lho? Kok Kakak......” Zodi tidak sempat menyelesaikan kalimatnya.


“Cepet jalan,” perintah Ibra kemudian.


Ini maksudnya apa? apa Ibra ingin mengajari Zodi atau bagaimana?


Dalam kebingungan Zodi langsung menarik gas motornya dan benda itupun melaju. Hampir saja Ibra terjungkang ke belakang. Untung saja ia langsung sigap berpegangan di belakang.


“Pelan-pelan, Zo.” Ibra melayangkan protesnya.


“Maaf, Kak.”


Zodi menggigit bibir bawahnya untuk menghilangkan kegugupan.Entah kenapa rasanya berbeda ketika ia membonceng Igo. Aura Ibra benar-benar membuatnya canggung luar biasa.


“Pelan-pelan aja. hidupin lampu sennya kalau mau belok.” Ibra terus memandu Zodi. “Berhenti dulu. Lihat kanan kiri sebelum belok,” lanjutnya ketika mereka sudah sampai di ujung jalan yang mengarah ke jalan raya.




*


TBC...