
Pukul 2 dinihari, Zodi, Mala dan juga Dea memutuskan untuk beristirahat saja di tenda mereka. Sementara masih banyak tema-teman mereka yang memilih meneruskan keseruan di api unggun sambil menunggu matahari terbit. Mata ketiga gadis itu tidak bisa di ajak kompromi.
Padahal, sesampainya di tenda, ketiganya bukan langsung tidur, Malah kembali melanjutkan obrolan mereka.
“Ngomong-ngomong, Zo, tadi aku perhatiin kamu itu terus aja merhatiin Kak Ibra,” celetukan Dea itu langsung membuat mata Zodi yang sudah terpejam langsung terbuka lebar. Begitu juga dengan Mala. Gadis itu bahkan sampai bangun dan menatap penuh selidik kepada Zodi.
“Iya, aku juga merhatiin.”
“Apa sih. Kalian ini. Gak usah ngada-ngada deh.” Zodi berkilah dan berusaha menutup matanya kembali.
“Zodi?” tegas Dea.
“Kamu naksir sama Kak Ibra?” tebak Mala.
“Gila kamu? Mana mungkin aku naksir sama kak Ibra. Aku gak cuma ngelihat dia aja, kok. Aku juga ngelihat ke yang lain juga. Namanya juga orang gugup.” Zodi masih berusaha membela diri.
“Jangan sampai ya Zo. Kita gak mau kamu jadi pelakor antara Kak Ibra dan Mbak Nilam. Bukan apa, kita gak mau ngelihat kamu sakit hati,” ujar Dea kemudian.
“Kalian ini apaan sih. Pada ngaco. Udah ih. Buruan tidur. Katanya mau lihat sunrise?” Zodi memakai sunrise untuk mengalihkan topik pembicaraan.
“Oh, iya. Hehehehehehe.”
Mala dan Dea kemudian kembali memejamkan mata. Berusaha untuk tidur. Sementara Zodi, walaupun matanya terpejam dan terlihat ia sudah terlelap, sesungguhnya Zodi belum tidur. Fikirannya sedang melayang tidak karuan. Memikirkan ucapan kedua temannya.
Tidak, tidak. Dia sangat tahu apa itu rasa suka terhadap lawan jenis. Tapi perasaan yang ia miliki ini hanya sebatas rasa canggung karna Ibra belum menerimanya tinggal di rumahnya. Hanya sebatas itu.
Tapi, bagaimana dengan rasa bahagia ketika sikap Ibra menghangat padanya?
Tidak, bukan. Itu hanya bentuk dari kelegaan Zodi karna merasa Ibra sudah mulai menerimanya. Karna biar bagaimanapun, tinggal dengan orang asing itu bukanlah perkara yang mudah. Apalagi ada banyak orang yang terlibat di dalamnya. Jadi wajar ia senang ketika Ibra mengajaknya mengobrol.
**
**
Keriuhan yang terjadi di luar tenda membuat Zodi, Mala dan Dea terbangun. Mereka terkejut bukan main.
“Ya ampun! Sunrise-nya?!!” pekik Mala.
Seketika Dea langsung membuka tenda mereka. Dan apa yang mereka lihat? Bukan sunrise lagi. Tapi matahari sudah meninggi di ujung lautan sana.
“Yaaaah. Ketinggalan deh kita.” Zodi juga sama kecewanya dengan kedua temannya.
“Kita ini terlalu nyenyak tidurnya,” ujar Dea.
“Hiks, padahal aku udah pasang alarm, lho. Kok bisa kita gak kebangun ya?”
“Hahahahahahahaha,” ketiganya lantas tertawa bersama ketika menyadari wajah konyol mereka masing-masing.
Ketiga gadis itu lantas keluar dari tenda kemudian menuju ke kamar mandi untuk mandi dan bersiap-siap untuk pulang.
Kondisi kamar mandi sedang mengantri. Karna hanya ada beberapa kamar mandi sementara ada begitu banyak orang disana.
“Hai, Zo?” suara Nilam yang menghampiri Zodi dan teman-temannya.
“Mbak Nilam? Mandi juga, Mbak?” tanya Zodi ramah.
“Iya. Tapinya ngantri lama. Ngomong-ngomong, semalam kamu keren.” Nilam tulus memuji Zodi.
“Makasih, Mbak.”
“Kapan-kapan dateng ke cafeku ya. Disana ada life musik. Kamu bisa nyumbangin lagu kalau mau,” tawar Nilam.
“Makasih lagi, Mbak. kapan-kapan kalau ada kesempatan kita mampir kesana.”
“Nanti minta di anterin sama Ibra aja. Dia tau kok lokasinya.”
“Udah cantik, baik, ramah. Perfect banget deh mbak Nilam itu. serasi banget kalau bersanding sama Kak Ibra,” gumaman Dea itu langsung mendapat perhatian dari kedua temannya.
“Setuju.” Zodi ikut menimpali.
Memang tidak bisa di pungkiri, sifat Nilam yang ramah membuat semua orang menyukainya. Dia juga cantik, dan baik. Secara fisik sangat cocok dengan Ibra yang tampan walaupun punya sifat pendiam.
Setelah lama mengantri akhirnya mereka dapat giliran juga.
Pukul 11 siang, semua telah bersiap untuk pulang. Zodi sedang mengobrol bersama Mala dan Dea sambil menunggu teman-teman yang lain yang sedang bersiap.
“Eh, itu ada Kak Ibra. Kayaknya mau kesini deh,” celetukan Mala itu membuat Zodi dan Dea sontak mengikuti arah pandangnya.
Di sana, di jarak yang tidak jauh dari mereka, seseorang sedang melambaikan tangan dan tersenyum ke arah mereka. Lebih tepatnya, ke arah Zodi. Dan saat itulah Zodi tau, kalau itu bukanlah Ibra.
“Itu bukan Kak Ibra. Itu Kak Igo,” terang Zodi. Hampir saja ia tidak bisa membedakan mereka. Karna tidak mungkin Ibra akan tersenyum sambil melambaikan tangan seperti itu.
“Zo?” sapa Igo begitu sampai di depan Zodi dan teman-temannya.
“Kak Igo kok bisa ada disini?” tanya Zodi setelah yakin kalau itu adalah Igo.
“Sengaja. Mau jemput kamu. Tadi aku telfon Ibra katanya siang ini pulang.”
“Jadi ini Kak Igo? Ya ampun. Gimana sih cara bedainnya antara Kak Igo sama Kak Ibra? Pusing kami, Kak.” Mala melayangkan protesnya.
Igo hanya menanggapinya dengan kekehan. Ya, hal seperti ini hampir terjadi setiap hari dalam hidupnya. Banyak yang salah mengenali mereka. Kadang orang memaggilnya Ibra. Dan begitu juga sebaliknya. Ibra di panggil Igo.
“Ya mau gimana? Perhatiin baik-baik, kalau udah sering ketemu pasti kalian bisa bedain kami.”
“Masalahnya kita kan jarang ketemu, Kak,” kali ini Dea ikut menimpali.
Igo kembali terkekeh. “Ya udah. Nanti lama-lama juga kalian faham, kok.”
“Kak Igo ngapain jemput aku segala? Kan ada bis,” tanya Zodi.
“Pengen aja.”
“Cieeeee. Pakek acara di jemput segala,” selorohan dari Mala dan Dea.
“Bukan cuma Zodi. Kalau kalian mau, kalian juga boleh ikut pulang sama kami.” Igo menawari.
Mala dan Dea sontak sumringah mendapat tawaran itu. keduanya mengangguk kompak.
Mendapat tumpangan dari Igo, Zodi dan kedua temannya langsung menurunkan barang-barang mereka yang tadi sudah di masukkan ke dalam bis. Mereka memindahkannya ke dalam mobil Igo.
Igo mulai melajukan mobilnya begitu semua penumpang sudah naik. Namun baru saja melajukan mobil, mereka berpapasan dengan Ibra yang sedang berjalan bersama dengan Nilam. Igo kemudian menghentikan mobilnya.
“Aku duluan. Zodi pulang sama aku,” pamit Igo pada Ibra.
Ibra nampak melemparkan pandangannya ke arah samping kemudi dimana Zodi duduk. lalu ia mengangguk santai kemudian pergi lebih dulu.
“Wahhhh. Kayaknya suara Kak Ibra itu mahal banget ya?” celetuk Zodi.
“Dia itu harus ngirit suara. Soalnya stok suaranya gak banyak. Pas lahir suaranya ketinggalan separo di kandungan.”
Selorohan Igo itu langsung di sambut gelak tawa oleh ketiga penumpangnya. Inilah yang membuat Zodi menyukai ketika sedang bersama dengan Igo. Pria itu ramah dan punya banyak banyolan. Dia pintar menghidupkan suasana. Sangat berbeda dengan saudara kembarnya itu.
*
TBC...