Uncomfortable Love

Uncomfortable Love
BAB 60. Sibuk Dengan Prasangka Sendiri.



Mobil Ibra sudah melaju membelah jalanan kota Jogja menuju ke rumahnya. Zodi terus mere mas jemari yang bertengger di pangkuannya. Entah kenapa sekarang rasanya berbeda. Jantungnya terus berdegup kencang tak terkendali. Ia gugup luar biasa. Sesekali Zodi menggigit bibir bawahnya untuk menetralkan kegugupannya.


Kegelisahan Zodi itu di rasakan oleh Ibra. Pria itu hanya tersenyum saja melihat kekasihnya yang sedang gugup itu. Wajah meronanya lucu sekali bila di lihat dari dekat.


“Tenang aja. Kamu kan udah kenal sama Mama. Kenapa mesti gugup?” ujar Ibra. Ia menggenggam tangan kekasihnya itu dengan erat untuk membantu memperbaiki suasana hati sang kekasih.


“Tapi kan beda, Kak. Sekarang statusnya aku tunangan kamu. Kalau dulu kan kita gak ada apa-apa.”


“Gak usah gugup gitu. Kamu gak bakalan di marahin sama Mama. Pas aku kasih tau kalau kamu nerima lamaranku aja, Mama seneng luar biasa. Malah nanyain terus kamu kapan pulang kesini. Gak sabar ketemu calon mantu, katanya.”


“Iih. Apa sih, Kak. Kan aku malah makin deg-deg-an.” Kesal Zodi. Ia mere mas tangan Ibra yang sedang menggenggam tangannya sampai pria itu meringis menahan sakit.


“Hehehehhe. Sory, sory. Lagian muka kamu itu lucu banget kalau lagi gugup gitu. Gemesin. Pengen makan.”


“Kanibal.” Dengus Zodi. Sudah gugup Malah di bikin semakin gugup.


Mobil Ibra sudah mulai memasuki halaman rumah besar yang sudah sangat familiar bagi Zodi. Namun entah mengapa kali ini rasanya sangat berbeda. Tidak seperti biasanya.


“Tarik nafas dalam. Buang fikiran yang aneh-aneh biar gak gugup. Kayak baru ketemu sama Mama aja kamu ini.” Seloroh Ibra.


“Kakak diem, deh. Daripada nambah semakin gugup aja.”


“Tarik nafas dulu, biar tenang.”


Zodi melakukan perintah Ibra. Setelah beberapa kali menarik nafas, kini ia merasa sedikit lebih baik.


“Udah.” Lirih Zodi kemudian ia bersiap untuk keluar dari moobil.


Ibra hanya tersenyum saja melihat kekasihnya itu. iapun lantas mengikuti Zodi dan mereka segera masuk ke dalam rumah bersama.


“Assalamu’alaikum,” ucap Ibra.


“Wa’alaikum salam!” pekik Mia yang langsung berjalan cepat menyambut tamu yang sudah ia tunggu-tunggu sejak tadi. “Waaaahhhh. Calon mantu udah datang.” Ucap Mia kembali. Wanita paruh baya itu segera menghambur memeluk Zodi dengan erat. Senyuman kebahagiaan tak pernah lepas dari bibirnya.


Mia masih menatapi wajah Zodi lekat-lekat bahkan setelah pelukan mereka terlepas.


“Apa kabar, Tan?” sapa Zodi gugup.


“Kabarnya Tante, kangen banget sama kamu. Setelah punya pacar, makin cantik aja ya, Zo.” Seloroh Mia. membuat wajah Zodi semakin merona.


“Tante apaan, sih. Aku malu...” lirih Zodi sambil menundukkan kepalanya.


Mia terkekeh melihat wajah sipu Zodi. “Tante seneng banget. Makasih ya, Zo, udah mau nerima lamaran Ibra. Maaf kalau cuma Ibra aja yang kesana. Rada kurang gimana gitu karna gak sama papanya tapi gak apa-apa. yang penting sekarang kamu udah sah jadi calon mantunya Tante.” Mia berkata sambil menggenggam erat tangan Zodi.


Zodi tersenyum dan mengangguk. “Oh iya, Tan. Ini ada oleh-oleh kue dari Mamak buat Tante.” Zodi menyodorkan kotak berisi kue buatan lasmi kepada Mia.


“Waahhhh. Wanginya aja udah menggoda banget. Makasih ya, sayang. ayo, langsung ke meja makan aja. Tante udah masak banyak buat kamu.” Mia benar-benar antusias Dengan kedatangan Zodi.


Zodi menoleh kepada Ibra sebentar. Pria itu mengangguk dan tersenyum. “kamu duluan aja. aku mandi dulu.” Pamit Ibra yang kemudian naik dan masuk ke dalam kamarnya.


Sambil menunggu Ibra selesai mandi, juga menunggu kedatangan Ranu yang sedang dalam perjalanan pulang dari kantor, Mia dan Zodi menghabiskan waktu dengan mengobrol di dapur. Bersama dengan Mbak Yani juga.


“Mbak Yani, apa kabar? Lama gak jumpa ya, Mbak.” sapa Zodi ramah.


Zodi hanya tersenyum malu-malu. “Gak nyangka ya, Mbak?”


“Nyangka sih. Gelagat Mas Ibra kalau suka sama Mbak Zodi tuh udah lama kelihatan. Jadi saya gak kaget. Ya kan, Buk.”


Mia mengangguki ucapan Mbak yani. Ternyata Mia juga sudah menyadarinya sejak lama.


Zodi ternganga. Benarkah mereka menyadarinya? Kenapa Zodi tidak bisa melihatnya? Itu karna dia sibuk dengan prasangkanya sendiri.


“Lama banget ini Ibra mandinya. Zo, panggilin sana ke kamarnya. Itu Om udah pulang. Biar kita bisa langsung makan malam.”


Mia dan Zodi menyambut kedatangan Ranu. Gadis itu menyalami Ranu dengan khidmat. Setelah itu barulah ia naik ke lantai atas untuk memanggil Ibra.


“Kak?!” panggil Zodi sambil mengetuk pintu kamar Ibra.


Tak berapa lama kemudian pintu kamar Ibra terbuka. Pria itu sudah mandi, sudah ganti pakaian, sudah wangi, dan sudah tampan. Zodi sampai tidak berkedip melihat calon suaminya itu.


“Kenapa lihatinnya gitu banget? Ada yang aneh di mukaku?” tanya Ibra yang sedikit risih.


“Iya, aneh. Kok bisa sih Kakak makin ganteng gini?” goda Zodi tanpa malu-malu lagi. Sepertinya ia sudah terbiasa sekarang.


Ibra tersenyum lucu. “Siapa dulu dong, pacarnya Zodi, gitu.”


“Heheh. Ayo, turun. Udah di tungguin sama Om sama Tante.” Ajak Zodi kemudian.


Ibra mengangguk. Lantas keduanya turun ke bawah dan bergabung bersama yang lain.


Makan malam itu berlangsung hangat dan menyenangkan. Mia dan Ranu benar-benar bahagia atas status baru Zodi yang akan menjadi menantu mereka. Mia bahkan sempat bercerita betapa kalutnya Ibra ketika di tinggal mudik oleh Zodi.


“Berapa malam itu dia gak bisa tidur. Kangen sama kamu.”


Zodi merona. Ia mengulum senyum sambil melirik kepada tersangka yang menjadi bahan pembicaraan.


“Ma, apa, sih. Gak usah di ceritain juga lah.” Protes Ibra.


“Om aja sampai kaget banget pas dia bilang mau lamar kamu di depan Miko, Zo. Om kira dia bercanda. Rupanya serius.”


“Papa kaget gak, Om?” Zodi memberanikan diri bertanya. Di fikir-fikir kok dia penasaran dengan reaksi sang ayah.


“Ya kaget lah. Miko sempet mikir kalau yang di lamar Ibra itu, Ocha, soalnya pas ada Ocha juga. Untung  gak jadi salah faham. Ibra langsung jelasin kalau yang mau dia lamar itu kamu, bukan Ocha.”


Zodi tertawa kecil membayangkan raut wajah ayahnya. Sekali lagi ia melirik pria yang duduk di sampingnya. Ibra hanya bisa tersenyum ketika ayah dan ibunya mengumbar kelakuannya itu.


Mereka melanjutkan mengobrolkan banyak sekali hal. Zodi lebih banyak bercerita tentang kepulangannya yang di dengarkan dengan antusias oleh Mia dan juga Ranu. Sesekali Ibra ikut menimpali obrolan Zodi dengan pengalamannya sendiri.


Tidak ada yang membicarakan tentang pernikahan karna Ibra sudah memberitahu kedua orangtuanya agar jangan mendesak Zodi. Ia juga sudah menjelaskan situasi Zodi yang masih ingin fokus kuliah terlebih dahulu.




TBC...