Uncomfortable Love

Uncomfortable Love
BAB 11. Kesan Pertama, Cantik.



Selasa pagi.


Sudah sejak subuh Zodi sibuk bersiap-siap di kamarnya. Perintah dari panitia bahwa seluruh mahasiswa baru di haruskan berkumpul di kampus pukul 7 pagi. Jika ada yang telat, maka tidak akan mendapat setifikat ospek.


Zodi menjangkat tas di punggungnya yang berisi perlengkapan untuk makrab. Ia menuruni tangga dan langsung menghampiri Mia di dapur.


“Udah siap, Zo?” tanya Mia.


“Iya, Tan. Soalnya jam 7 udah harus kumpul semua.”


“Sarapan dulu, lah. Biar gak sakit perut.”


“Gak sempet, Tan. Nanti aja sarapan di jalan. Aku bawa roti, kok.”


Mia tidak bisa menghalangi. Ia hanya mengangguk mengerti saja. Walaupun dalam hati ia ingin sekali memaksa Zodi untuk sarapan, namun ia mengurungkan niatnya. Ia tidak ingin membuat Zodi merasa lebih sungkan kepadanya.


“Berangkat sama siapa, Zo?” tanya Mia.


“Naik ojek, Tan.”


“Kenapa gak sama Ibra aja?”


Tidak tau harus menjawab apa, Zodi hanya tersenyum kaku.


“Kalau gak sama Igo? Biar tante suruh dia nganterin kamu.”


“Gak usah, Tan. Kayaknya Kak Igo masih tidur. Gak enak kalau ganggu. Gak apa-apa, aku naik ojek aja.”


“Ya udah kalau gitu. Hati-hati di jalan, ya?”


“Makasih, tante.” Zodi mencium tangan Mia dengan khidmat.


Di saat yang bersamaan dengan Zodi keluar rumah, muncul juga Ibra yang juga sedang keluar dan menuju ke mobilnya.


“Berangkat sama aku aja,” tawar Ibra. Pria itu baru saja menaruh barang-barangnya di kursi belakang mobilnya.


“Beneran boleh, Kak?”


“Gak mau ya udah.” Ibra kemudian berjalan ke arah kemudi.


“Mau.” Mendapat tawaran yang tidak akan datang untuk ke dua kali itu, membuat Zodi langsung masuk dan duduk di samping Ibra. Ia mendekap erat tasnya di pangkuan. Menoleh kepada pria itu dan tersenyum penuh rasa terimakasih.


Entahlah, kenapa Zodi senang sekali di baiki oleh Ibra. Itu membuatnya merasa di terima oleh pria itu. padahal ketika Igo bersikap ramah dan manis padanya, ia merasa biasa saja.


“Makasih, Kak.” ujar Zodi ketika Ibra sudah melajukan mobilnya menuju kampus.


“Kenapa sedikit sekali bawa barang?”


“Kan cuma nginep semalam aja. jadi gak perlu bawa banyak barang.”


Dan setelah itu, keheningan kembali terjadi. Saat bersama Ibra, fikrian Zodi benar-benar buntu untuk menemukan topik pembicaraan. Berbeda ketika ia sedang bersama dengan Igo, kepalanya lancar jaya dalam menemukan pembahasan yang seru.


Pukul 06.45, mereka sudah sampai di kampus. Sudah banyak juga mahasiswa baru yang berkumpul di lapangan. Ibra segera memarkirkan mobilnya. Ia keluar begitu juga dengan Zodi.


“Ibra!” panggil suara seorang wanita cantik yang berlari mendekat ke arah mobil Ibra.


Zodi hanya memperhatikan saja. Gadis itu benar-benar sangat cantik dengan lesung pipi di kedua pipiya. Kulitnya putih bersih, mulus. Tubuhnya ramping bak model. Senyumnya juga manis. Di tambah dengan gaya rambut di kepang kuda yang ikut bergelombang ketika ia berlari.


“Udah datang?” tanya gadis itu terus mengembangkan senyumannya kepada Ibra. Zodi melihat Ibra juga membalas senyumannya.


Baru kali ini Zodi melihat seorang Ibra tersenyum seperti itu. Walaupun tidak lebar, yaa, tapi itu adalah senyuman lebar menurut versi Zodi.


“Kamu juga udah datang?”


“Em.” Gadis itu mengangguk.


Mungkinkah dia yang bernama Nilam? Kekasih Ibra? Karna siapapun bisa melihat tatapan lembut Nilam untuk Ibra.


“Ini siapa?” tanya gadis itu melihat kepada Zodi.


“Oh, ini...”


“Halo, Kak. Aku Zodi, adik sepupunya Kak Ibra.” Ujar Zodi meramahkan diri. Ia mengulurkan tangan meminta berkenalan.


“Ooh. Adik sepupu? Aku Nilam.”


Benar ternyata. Gadis cantik ini adalah kekasih Ibra.


“Salam kenal mbak Nilam.”


“Salam kenal juga.”


Nilam adalah tipe gadis yang ramah. Wajahnya saja sudah mencerminkan kalau gadis itu pasti gadis yang baik. Dan ketika berdiri di samping Ibra, sungguh pasangan yang serasi sekali.


“Ayo kesana. Udah di tungguin sama temen-temen,” Nilam langsung menggandeng lengan Ibra mesra. “Zodi, kami kesana dulu, ya?” pamit Nilam yang hanya di angguki oleh Zodi saja.


Pandangan Zodi tidak lepas dari dua sejoli itu. ekor matanya terus mengikuti kemana mereka pergi sampai menghilang dari padangannya.


“Zo!” teriakan dari Dea membuyarkan lamunan Zodi. Temannya itu nampak berlari menghampirinya. Sepertinya Dea juga baru saja sampai.


Kening Zodi mengerut ketika melihat Dea menenteng sebuah koper kecil. “Serius kamu bawa koper? Apa aja yang di bawa sampai sebanyak itu?” Zodi sungguh heran.


“Ya perlengkapan selama disana, lah. Apalagi,” Jawab Dea tanpa merasa bersalah.


“Mala mana?”


“Katanya udah di dalam. Sebentar aku telfon dulu,” Dea segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Mala.


Setelah mengetahui lokasi Mala, Zodi dan Dea bergegas untuk menemui teman mereka.


Sebelum berangkat, panitia melakukan ###briefing sebelum berangkat. Setelah itu membagi para mahasiswa baru dan mengaturnya untuk masing-masing bis yang akan membawa mereka.


Dea dan Mala berada di bis yang sama. Sementara Zodi terpisah sendiri. Hal itu membuat ketiganya sedikit bersedih.


“Zodi?!”


Zodi langsung menoleh ketika seseorang memanggil namanya.


“Mbak Nilam?” Zodi sedikit terkejut melihat Nilam yang sudah ada di samping mobil Ibra yang berhenti di sebelah bis yang akan di naikinya. Nampak zilam yang duduk di samping kemudi melongokkan kepalanya keluar jendela.


“Bareng sama kami aja. Itu bisnya penuh sesak gitu,” tawar Nilam.


Zodi melhat ke arah Ibra yang ternyata juga sedang melihatnya.


“Ehm, gak usah, Mbak. Aku naik bis aja. Gak enak nanti sama temen-temen yang lain.”


“Oh, gitu? Ya udah deh. Kami duluan yaa,” Nilam melambaikan tangannya seiring mobil Ibra yang kembali melaju.


Zodi berbalik dan segera masuk ke dalam bis. Karna ia terlambat masuk, jadi ia kebagian kursi paling belakang bersama dengan beberapa panitia juga.


Rombongan bis mulai melaju. Di perjalanan, sambil mengurai bosan, para panitia yang ikut di bis yang sama dengan Zodi memainkan gitar mereka. Seketika suasana mencair dan riuh dengan nyanyian. Termasuk Zodi.


Zodi terlarut dalam suasana itu. Ia juga ikut bernyanyi sesekali.


Iringan musik dari band kotak yang berjudul pelan-pelan saja, membuat suasana bertambah semangat saja. Dan Zodi, semakin larut di dalamnya. Hingga tanpa sadar, suaranya telah mendominasi. Apalagi ketika nada tinggi, suara Zodi melengking dengan merdunya membuat semua orang yang ada di bis diam seketika. Namun setelah itu semua orang bertepuk tangan untuknya.


Baru menyadari kelakuannya, seketika wajah Zodi berubah memerah.


“Nama kamu siapa?” tanya salah seorang kakak kelas pria.


“Zodi, Mas.”


“Zodi, aku Kiswoyo. Kamu bisa panggil aku Mas Kis. Salam kenal ya, Zodi.” Kis mengulurkan tangan dan segera di sambut oleh Zodi.


“Salam kenal juga, Mas.”




*


TBC...