Uncomfortable Love

Uncomfortable Love
BAB 13. Sepercik Api.



Malam hari, keadaan semakin seru dengan di adakannya berbagai permainan yang membuat panitia dan para mahasiswa baru lebih akrab.


Pukul 10 Malam, acara api unggun sudah di mulai. Mereka duduk memutar mengerumuni api itu. termasuk Zodi, Mala dan juga Dea. Ketiganya duduk berdekatan. Menggoyangkan badan ke kiri dan ke kanan mengikuti alunan petikan gitar yang di mainkan oleh salah satu kakak kelas mereka.


“Sst, lihat tuh, mesra banget. Nempel terus dari tadi,” bisik Mala menyenggol lengan kedua temannya. Menunjuk dengan dagu ke arah Ibra dan Nilam yang tak jauh dari mereka.


“Gak usah sirik deh, ya,” protes Dea. Ucapan Mala membuyarkan konsentrasinya dalam bernyanyi.


“Aku gak sirik. Tapi ya, masak mesra-mesraan terus sih. Gak kasihan apa sama jiwa-jiwa jomblo kayak kita?”


“Jiah. Ngelihat yang mesra jiwa jomblonya meronta-ronta rupanya.” Zodi juga ikut mengomentari.


“Emangnya jiwa jomblomu gak meronta, Zo? Secara kan dia serumah sama kamu?” Mala masih ingin membahas perihal kejombloan itu rupanya.


“Ngapain juga harus meronta. Tinggal serumah bukan berarti aku berhak ikut campur urusan mereka, kan? Gak ngerugiin aku ini,” ujar Zodi membela diri.


Padahal, ada sepercik api yang muncul di dalam dirinya melihat kemesraan antara Ibra dan Nilam.


Iri, bukan berarti cemburu, kan? Dia tidak punya jalur untuk sebuah kecemburuan kepada Ibra dan Nilam.


“Hai, Zo. Boleh gabung?” suara Kis membuat ketiga gadis itu menoleh ke belakang. Tanpa di persilahkan, Kis langsung duduk di antara Zodi dan Dea.


“Gimana? Udah baikan? Denger-denger tadi kamu sakit?” Kis berusaha membuka obrolan antara mereka.


“Udah baikan, Mas. Cuman sakit perut aja, kok. Gak parah.” Zodi menjelaskan.


“Perhatian banget, Mas? Naksir ya sama Zodi?” mulut Mala memang asal ngejeplak saja.


“Kalau suka memangnya kenapa?  Gak boleh? Udah ada yang punya, ta?” Kis menanggapi dengan bercanda juga.


“Belum ada yang punya, Mas. Kalau mau di taksir, silahkan. Hahahahahaha.” Dea juga tak mau tinggal diam.


Sementara Zodi hanya melirik kedua temannya itu dengan tatapan tajamnya.


“Hahahahahaha. Enggak, kok. Bukan itu. Cuma mau diskusi aja sama Zodi. Itu kan tiap kelompok di suruh tampil tuh. Dari kelompok 3, kamu aja ya Zo yang maju? Suara kamu kan bagus. Sayang kalau di simpen terus. Mereka harus tau kalau kamu punya suara emas.” Kis sedang merayu.


“Aku, mas? Gak berani, Mas. Malu.”


“Kenapa malu? Mau ya? Maju mewakili kelompok 3?” Kis tetap merayu.


Zodi terdiam sejenak. Ia sedang berfikir. Ia tidak punya keberanian sebesar itu sampai harus tampil di depan orang banyak.


“Udah, maju aja, Zo. Cuma nyanyi ini.” Mala ikut mendukung.


“Iya. Tunjukin sama semua orang kalau kamu punya suara yang bagus,” Dea juga ikut menimpali.


Mendapat dukungan dari kedua sahabatnya, akhirnya Zodi menganggukkan kepalanya walaupun dengan setengah hati. Entahlah, ia malu untuk tampil di depan orang banyak seperti ini.


“Yesss. Oke. Tunggu di panggil, ya? Aku mau bilang dulu sama MC,” kemudian Kis berlalu meninggalkan mereka.


Sepeninggalnya kis, jantung Zodi berdegup luar biasa kencang. Ia berusaha mengumpulkan keberanian untuk maju.


“Sumpah. Aku grogi,” desis Zodi kepada kedua temannya.


“Santai aja. anggap kami semua ini cuman pasir pantai. Hahahahahhaa,” usaha Mala itu sama sekali tidak membantu.


Dan tibalah ketika nama Zodi di panggil sebagai perwakilan dari kelompok 3. Mendengar namanya di panggil, jantung Zodi benar-benar sudah mau melompat dari tempatnya. Gugup bukan main.


Dengan kegugupan yang mengguasai dirinya, Zodi tetap bangkit dan berjalan menuju ke MC.


“Halo, cantik. Silahkan perkenalkan diri. Nama dan jurusan.” Ujar MC pria itu kemudian memberikan mic kepada Zodi.


Zodi menarik nafas beberapa kali sebelum ia berani bersuara. Suaranya masih tedengar gemetar karna gugup. Terlebih ketika tanpa sengaja pandangan matanya bertumbuk dengan netra Ibra. Seketika ia membodoh-bodohkan dirinya. Kenapa harus melihat ke arah Ibra segala? Membuatnya semakin gugup saja.


“Hai semuanya. Perkenalkan, nama saya, Zodi Akira. Mahasiswa baru dari jurusan Kesehatan Masyarakat. Disini saya akan mewakili dari kelompok 3.”


Riuh tepuk tangan seketika di persembahkan kepada Zodi. Terlebiih dari kelompok 3.


“Ayo, Zo!” teriak Kis dan Adrian heboh.


Zodi berbicara kepada gitaris yang akan mengiringi lagunya. Dan sebuah nyanyian dari Dewa 19 dengan judul risalah hati, Zodi persembahkan untuk semua yang ada disana. Dengan di iringi petikan akustik dari gitaris, Zodi mulai bernyanyi.


Hidupku tanpa cintamu


Bagai Malam tanpa bintang


Jiwaku tanpa senyummu


Bagai panas tanpa hujan


Jiwaku berbisik lirih


Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku


Meski kau tak cinta kepadaku


Beri sedikit waktu


Biar cinta datang karna telah terbiasa


Simpan mawar yang ku beri


Mungkin wanginya mengilhami


Sudikah dirimu untuk


Kenali aku dulu


Sebelum kau ludahi aku


Sebelum kau robek hatiku


Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku


Meski kau tak cinta kepadaku


Beri sedikit waktu


Biar cinta datang karna telah terbiasa, huuuu


Sebelum kau ludahi aku


Sebelum kau robek hatiku


Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku


Meski kau tak cinta kepadaku


Beri sedikit waktu


Biar cinta datang karna telah terbiasa, huuuu


Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku


Meski kau tak cinta kepadaku


Beri sedikit waktu


Biar cinta datang karna telah terbiasa, ooh


Hidupku tanpa cintamu


Bagai Malam tanpa bintang


Lantunan suara merdu Zodi membuat semua yang mendengarnya


terlarut. Mereka juga ikut bernyanyi bersama dengan Zodi. Tiba-tiba suasana berubah menjadi romantis.


Dan, sepasang mata milik Ibra tak pernah lepas dari memperhatikan Zodi. Dia tidak ikut bernyanyi, tidak juga bergoyang seperti yang lain. Dia hanya duduk diam, dan terus menatap Zodi. Entah apa yang di fikirkan oleh Ibra. Andai saja ada yang memperhatikan, tatapan dari Ibra itu sangat dalam dan memiliki arti tersendiri.


Tapi tidak ada yang menyadari itu. termasuk Nilam yang duduk di sebelahnya. Yang dengan asyiknya ikut bernyanyi dan menggoyangkan badannya ke kiri dan kekanan mengikuti alunan lagi.


Setelah selesai melakukan bagiannya, Zodi segera mengembalikan mic dan bergegas kembali ke tempat duduknya semula.


Sekembalinya dia, tak luput dari tepuk tangan dan pujian. Bahkan ada beberapa yang meminta Zodi untuk bernyanyi lagi. Tapi Zodi merasa sudah tidak mampu menahan kegugupannya.


“Kamu keren, Zo,” puji Mala sambil memeluk temannya itu.


“Iya. Semua sampai terhanyut sama suaramu,” Dea juga ikut memujinya.


“Ehehehe. Iya, kah?” Zodi tidak tau harus merespon pujian itu seperti apa.


Jujur, ia senang ternyata sambutan yang ia terima melebihi ekspektasinya. Padahal tadinya ia takut jika salah dan membuat orang tidak menyukai penampilannya. Dan yang lebih ia khawatirkan adalah, kalau sampai ia mempermalukan nama kelompok 3. Tapi untungnya itu tidak terjadi.




*


TBC...