Uncomfortable Love

Uncomfortable Love
BAB 56. Ada Sebuah Trauma.



“Nak Ibra ini, serius mau melamar Zodi?” Lasmi masih melanjutkan pembicaraan. Karna menurutnya ini adalah hal yang sangat serius.


“Saya serius, Buk. Bahkan sebelum datang kesini saya juga udah bilang sama ayahnya Zodi.”


“Hah? Papaku?” Zodi ikut terkejut. “Kok bisa, Kak?”


“Kemarin Om Miko datang ke rumah. Jadi sekalian aja aku tembung kamu,” jawab Ibra.


Zodi memang tau kalau ayahnya akan datang ke Jogja. Hanya saja ia benar-benar tidak menduga kalau Ibra benar-benar akan melamarnya.


“Zo, aku butuh jawaban kamu. Jangan tolak lamaran aku, ya?”


‘kok maksa?’ bathin Zodi gemas.


“Aku jawab besok ya, Kak. Sekarang udah malem. Mending Kakak tidur. Perjalanan jauh pasti capek.”


Ibra ingin menolak tapi tidak berani. Ia tidak ingin di cap sebagai orang yang tidak sabaran. Akhirnya iapun menganggukkan kepalanya patuh.


Zodi menunjukkan kamarnya kepada Ibra dan temannya. Setelah itu iapun ikut bergabung bersama dengan ibu dan Neneknya di kamar belakang.


Dalam dekapan Lasmi, Zodi menenggelamkan wajahnya. Merasakan kehangatan yang tidak pernah membosankan itu.


“Nak Ibra, kayaknya orang yang baik.” Lasmi belum mengantuk. Ia membelai kepala putrinya dengan lembut.


Setelah kesalah fahaman antara ia dan Ibra, kini Zodi merasakan perbedaan ketika memandang Ibra. Tidak ada lagi marah. Tidak ada lagi kesal. Tidak ada lagi hati yang sakit. Semua hilang menguap pergi.


“Kamu gak suka sama Ibra?” tanya Lasmi lagi.


Zodi masih terdiam. Ia bingung. Perasaan yang masih utuh itu kini langsung mencuat tanpa bisa di bendung setelah Ibra menceritakan semuanya.


“Aku suka. Tapi......”


“Tapi kenapa?”


“Aku masih belum tau, Mak. Apa sebaiknya aku terima lamaran Kak Ibra, apa nolak dia. Kalau menurut Mamak sama Nenek gimana?”


“Kamu yang bakalan menjalaninya, Zo. Nenek sama Mamakmu bahkan gak kenal seperti apa sifat dan karakter nak Ibra. Kamu yang udah lama kenal sama dia, kamu yang paling tau. Semua keputusan ada di tanganmu,” ujar Nenek.


Jujur, Zodi seperti tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang datang. Mungkin ini adalah jawaban dari ketulusannya kepada Ibra. Dari lubuk hatinya yang terdalam, ia ingin menerima lamaran Ibra.


“Kak Ibra orang baik, Nek,” jelas Zodi kembali. Ia juga menceritakan kesalah fahaman yang telah terjadi antara dirinya dan juga Ibra. Lasmi malah terkekeh mendengarnya.


“Kalian ini lucu banget sih. Kamu juga kenapa gak minta penjelasan dulu dari Ibra malah main marah-marah gak jelas.” Seloroh Lasmi.


“Salah siapa. Kak Ibra yang gak pernah mau jelasin semuanya, Mak. Ya aku keburu kesal sama dia.” Zodi membela diri.


“Kalau perasaanmu masih sama, sama dia, terima aja. Kan kamu udah yakin kalau dia orang yang baik.”


“Tapi aku masih kuliah, Mak. Perjalananku masih lama.” Zodi masih mencari alasan untuk menolak Ibra. Dalam hati kecilnya masih ada secuil keraguan.


“Mamak fikir tunangan dulu gak masalah. Sebagai pengikat aja. Masalah pernikahan nanti kita bahas setelah kamu wisuda. Gimana?” Lasmi memberi solusi.


Mengaca dari kedua orang tua kandungnya yaitu Lasmi dan Miko. Ia tidak ingin mengulangi dan terjebak kesalahan seperti ibunya. Ia tidak akan sanggup menjalaninya jika seperti itu. Ia memang sangat mencintai Ibra namun ia tidak ingin menjadi buta ketika ini menyangkut dengan masa depan kehidupan pernikahannya. Ia tidak ingin mempertaruhkannya.


Sepanjang malam Zodi tidak bisa tidur karna memikirkan hal ini. Sebagian besar hatinya meyakinkan secuil keraguan itu. Menimbang panjang tentang jawabannya nanti.


Sarapan pagi sudah terhidang di dapur. Ibra juga sudah bangun sejak subuh tadi dan sekarang pria itu sedang berjalan-jalan di pekarangan rumah untuk menikmati kesejukan udara pagi yang dingin. Jantungnya terasa mau melompat dari dadanya menunggu kepastian dari Zodi. Sungguh ia berharap kalau Zodi akan menerima lamarannya. Karna kali ini, ia tidak mau lagi terlambat dan kehilangan gadis itu.


Sudah lama ia menyadari perasaannya. Ia hanya menunggu waktu yang tepat. Tapi ternyata itu justru malah menimbulkan kesalah fahaman antara dirinya dengan Zodi.


Tapi sekarang, Ibra tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang datang. Dia akan mengejar Zodi bagaimanapun caranya. Termasuk dengan melamar dan langsung menjadikan gadis itu istrinya jika perlu.


Sama halnya dengan Ibra, Zodi juga tidak kalah kalutnya. Mau tidak mau, pagi ini ia harus menjawab lamaran Ibra. Ia sudah memikirkannya semalaman.


“Kak, ngapain?” sapa Zodi yang menghampiri Ibra yang sedang sibuk memperhatikan sesuatu di pohon bunga kertas. Pria itu langsung menoleh ketika mendengar suara Zodi.


“Oh. Gak ada. Lagi lihat-lihat aja,” jawab Ibra. Sesaat kemudian ia memetik setangkai bunga kertas itu kemudian memberikannya kepada Zodi. “Nah, buat kamu. Sama cantiknya.” Gombal Ibra. Masih pagi sudah menggombal.


Zodi mengernyitkan keningnya namun tetap menerima bunga itu dari Ibra. Wajahnya perlahan merona malu dengan menahan senyuman.


“Kalau mau senyum, senyum aja. Gak usah di tahan-tahan gitu,” goda Ibra. Menambah rona pada wajah Zodi.


“Apa sih,” dengus Zodi yang semakin tersipu. “Di suruh sarapan sama Mamak.” Zodi segera membalikkan tubuhnya dan langsung melarikan diri dari Ibra. Sementara pria itu malah terkekeh lucu melihat Zodi.


Sarapan pagi itu suasananya canggung luar biasa. Zodi yang biasanya banyak bicara sekarang hanya menundukkan wajah dan terus terdiam. Sementara Haris asyik mengobrol dengan Lasmi dan juga Nenek.


Ibra?


Ah, pria itu tak mau melepaskan netranya dari gadis yang sudah membuatnya jatuh cinta itu. Gadis yang duduk di depannya itu selalu membuat hatinya berdesir ketika melihatnya.


Selesai sarapan dan mencuci piring, Zodi duduk bersantai di belakang rumah. Ia sedang memantapkan hati untuk menjawab lamaran Ibra. Ia sedikit terkejut ketika pria itu tiba-tiba duduk begitu saja di sebelahnya.


“Jadi gimana?”


Zodi tau, apa maksud dari pertanyaan Ibra itu. Hatinya semakin tidak karuan saja. Rasanya jantungnya sudah mau melompat saja dari tempatnya.


Melihat gadis di sebelahnya hanya terdiam tanpa menyahut, Ibra menggeser posisi duduknya hingga berhadapan dengan Zodi.


“Aku minta maaf kalau selama ini banyak nyakitin kamu. Aku tau kamu sakit karna sikapku. Tapi percayalah. Aku juga ngerasain sakit demi nahan diri buat gak jatuh cinta sama kamu. Apalagi waktu aku tau kalau Igo juga suka sama kamu. Tapi susah, Zo. Kemarin mungkin aku lemah tapi gak buat sekarang. Aku gak bakalan ngelepasin kamu gimanapun caranya. Jadi, tolong terima lamaranku ya, Zo.”


Zodi mere mas ujung bajunya demi mengalihkan rasa gugup. Ia terus menguatkan hatinya. Perlahan menoleh kepada Ibra dan menatap pria itu dalam. Sesaat kemudian, terlihat anggukan kecil dari gadis itu yang langsung membuat Ibra jingkrak-jingkrak tidak karuan.




*


TBC...