
Makanan telah tersaji dan mereka segera menyantapnya. Fokus dan diam.
"Kalian," Suara Mia membuat kedua putranya langsung menatapnya.
Begitu juga dengan Zodi. Setelah yakin kalau ia tidak termasuk di panggilan Mia, iapun kembali melanjutkan makannya.
"Gak ada niatan gitu buat jadikan Zodi menantu Mama?"
Hening.
Yang ada hanya tatapan aneh serta mulut yang ternganga dari kedua putranya.
Zodi tak kalah terkejut. Mulutnya ternganga dengan kepala menoleh ke samping. Menatap wanita paruh baya yang duduk disampingnya itu. Matanya berkedip dua kali pertanda ia sedang bingung dengan maksud kalimat Mia.
"Kok malah pada bengong?"
"Maksud Mama apa, sih?" Ibra nampak kesal.
"Maksud Mama ya, Mama pengen Zodi jadi menantu Mama. Gitu." Mia dengan terang-terangan mengumumkan keinginannya. Entah dia melakukannya agar Zodi mendengarnya, atau bagaimana.
Ibra mengalihkan pandangannya dari ibunya ke Zodi. Pandangan yang Zodi sendiri tidak bisa mengartikannya.
"Zo, mau gak jadi menantunya Mama? Kamu pilih aku, apa Ibra?" Igo jadi bersemangat menggoda.
"Hah? Apa?" Zodi seketika jadi heng. Bingung dengan keadaan.
Ibra menatap kesal kepada Igo.
Ya, Zodi bisa mengerti kenapa Ibra nampak sekesal itu. Kan pria itu sudah punya Nilam. Apa itu berarti dia akan menikah dengan Igo?
Ya ampun, Zodi. Sampai manalah fikiranmu itu?
"Aku....." Zodi tak tau harus menjawab apa.
"Tenang aja, Zo. Tante cuma asal bicara aja kok. Kalaupun bener ya, alhamdulilah. Kalau enggak ya, mau gimana lagi."
Mendengar itu membuat Zodi menghela nafas lega.
"Mama udah ngebet banget apa pengen punya menantu?" Ibra yang bertanya. Kali ini Ibra lebih banyak bicara daripada biasanya.
"Gak ngebet-ngebet banget sih. Persiapan. Nilam udah lama gak main ke rumah..."
Mendengar nama Nilam di sebut, membuat Zodi langsung menatap kepada Ibra. Ia ingin tau reaksi pria itu.
"Lagi sibuk dia."
Dari pembicaraan itu Zodi bisa menyimpulkan kalau keluarga Ibra sudah mengenal Nilam. Dan sepertinya mereka juga sudah tau hubungan Nilam dengan Ibra.
Jadi, apa maksud pertanyaan Mia tadi? Yang tidak menyebutkan secara spesifik untuk Igo, tapi untuk keduanya dengan menggunakan kata 'kalian'.
"Tan, udah maghrib." Zodi memberitahu.
Mia langsung melihat jam tangannya. Segera menghabiskan makanan mereka dan segera menuju ke mushola untuk melaksanakan kewajiban.
Setengah jam kemudian, mereka sudah selesai dan langsung menuju ke bioskop.
Tidak ada yang berani membantah keinginan Mia untuk menonton film horor. Kedua putranya diam saja. Menuruti semua keinginan wanita yang telah melahirkan mereka.
"Zodi, kamu gak takut kan sayang kalau kita nonton film horor?" Tanya Mia kepada Zodi.
Zodi menggeleng sambil tersenyum. "Belum pernah sih, Tan. Di coba aja. Kalau serem kan tinggal tutup mata."
"Tenang aja, kalau takut, kamu bisa sembunyi di belakang Kakak." Igo menawarkan. Ia mendapat cibiran kecil dari Ibra.
Setelah membeli tiket dan beberapa cup camilan dan minuman, mereka masuk setelah pintu teater telah di buka.
Mia meminta untuk duduk di pinggir. Sementata Zodi duduk di antara Ibra dan Igo. Siapa lagi yang mengaturnya kalau bukan Mia? Wanita itu bilang ia ingin duduk di sebelah Ibra. Dan mengatur supaya Zodi duduk di antara mereka.
Lampu teater sudah di matikan. Dan pemutaran film sudah akan dimulai. Suara yang memancing adrenalin juga sudah menggelegar.
Jantung Zodi sudah berdenyut tak karuan. Takut kalau tiba-tiba ada #####jump scare. Jujur, ia sedikit takut dengah hal-hal horor seperti ini.
Ternyata kedua pria yang duduk di sampingnya memperhatikan ketakutan Zodi. Sampai ketika film menayangkan kejadian seram dan kedua pria itu kompak menutup mata Zodi.
Gadis itu sudah memejamkan mata lebih dulu sebelumnya. Dia baru sadar ketika membuka mata dan ada yang menghalangi pandangannya.
Ibra lebih dulu menarik tangannya. Sehingga menyisakan tangan Igo yang masih setia menutupi.
Tangan Igo menutupi mata Zodi, tapi pandangannya fokus pada layar kaca. Sementata kini mata Zodi sudah fokus menoleh kepada Ibra. Pandangan mereka bertemu. Ibra tak kunjung mengalihkan wajahnya. Sampai membuat Zodi mati kutu dan memutus pandangan lebih dulu.
"Kak, udah." Zodi menurunkan tangan Igo dengan lembut. Ia mendapat senyuman manis dari pria itu.
Tidak ada yang menyadari kalau kejadian itu tak luput dari pengamatan Mia. Wanita paruh baya itu tersenyum simpul. Dari sini ia bisa memastikan hal yang ingin ia pastikan sejak tadi. Ia sudah memenuhi tujuannya.
Perasaan seorang ibu tidak pernah salah.
Selama film di putar, Zodi lebih banyak memejamkan matanya. Sebenarnya bukan filmnya yang menyeramkan, tapi suara horor yang menggelegar itulah yang membuat Zodi merinding disko di buatnya.
"Gimana, Zo? Serem banget ya filmnya?" Tanya Mia ketika mereka sudah keluar dari teater.
"Lumayan, Tan. Banyak meremnya. Hehehehehe."
"Tapi seru kan?"
Zodi hanya mengangguk saja. "Tan, bentar ya, aku mau ke kamar mandi dulu," Pamit Zodi.
Mia hanya menganggukkan kepalanya saja. Tak lama berselang ponsel Mia berbunyi dan ia segera mengangkatnya.
"Igo, kita pulang sekarang yuk, Nak. barusan Papa telfon katanya udah pulang. Ibra tungguin Zodi dulu. Nanti kamu pulang sama dia."
"Kenapa gak bareng aja sih, Ma?" Ibra nampak keberatan dengan titah sang ibu.
"Nanti kelamaan. Papa udah nunggu di rumah soalnya. Ayo." Mia segera menarik lengan Igo dan pergi dari sana.
Tidak lama berselang, Zodi keluar dari kamar mandi. Ia hanya mendapati Ibra yang sedang menunggunga sambil bermain ponsel.
"Tante mana, Kak?" Tanya Zodi. Ia mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok Mia dan Igo tapi tidak menemukannya.
"Udah duluan sama Igo." Ibra memasukkan ponselnya ke dalam saku.
"Oooo."
"Kalau udah selesai ayo pulang," Ajak Ibra kemudian.
Zodi hanya mengangguk dan mengikuti Ibra pergi. Lama kelamaan langkah mereka menjadi sejajar. Entah Zodi yang mempercepat langkahnya, atau Ibra yang sengaja memperlambat.
Ibra mulai melajukan mobilnya meninggalkan kawasan Ambarrukmo Plaza. Malam sudah cukup larut.
"Mau beli sesuatu gak?" Tawar Ibra memecah keheningan.
"Ehm, gak usah, Kak. Udah malem juga. Kak Ibra kan pasti juga udah capek." Zodi menolaknya dengan halus.
Selebihnya Ibra kembali diam. Keadaan di dalam mobil benar-benar mencekam. Sudahlah baru selesai menonton film horor, sekarang malah di dalam mobil sepinya bukan main.
Ibra menepikan mobilnya di depan tenda warung penjual bubur kacang hijau. Ia segera melepaskan sabuk pengamannya dan bersiap turun. Satu tangannya sudah membuka pintu sedikit. Kemudian ia menoleh kepada Zodi.
"Aku mau makan dulu. Kamu ikut gak? Atau mau nunggu di sini?"
Tawaran macam apa itu?
Zodi hendak menggelengkan kepalanya tapi teringat tentang adegan horor di dalam mobil tadi. Dengan segera ia membuka sabuk pengamannya dan ikut turun. Sementata Ibra sudah lebih dulu turun dan masuk ke dalam warung.
*
TBC