
Sebenarnya semua merumitan yang terjadi ini hanya dari fikiran Zodi saja. Entah rasa malu atau apa yang membuat perubahan dalam dirinya. Malu yang membuat cara pandang dan berfikirnya seketika berubah. Rasa malu itu juga membuatnya melihat kebencian Ibra padanya. Padahal mungkin tidak begitu.
Memang sudah begitu cara kerja otak kita. Ketika kita membuat kesalahan ataupun hal yang memalukan, secara otomatis otak akan bekerja untuk mencari pembelaan atas diri sendiri. seperti halnya Zodi.
Ketika ia merasa bersalah dan malu karna sudah mengutarakan perasaannya, di tambah dengan rasa bersalah karna menyukai pria yang sudah punya kekasih, di tambah rasa tidak nyaman karna ternyata Igo menyukainya, semua itu membentuk pola fikir Zodi jadi semakin kacau. Ia secara tidak sadar sedang membuat membelaan atas dirinya sendiri agar setidaknya ia masih bisa menyelamatkan harga dirinya yang masih tersisa.
Semakin mempertegas alasan kalau Ibra membencinya, adalah salah satu cara agar ia bisa bebas dari permasalahan ini. Setidaknya ia butuh alasan untuk menjauh dari pria itu. Dan salah satunya adalah dengan pergi dari rumah itu. Walaupun itu semua berawal dari dirinya sendiri.
Rasa sukanya yang membuatnya tidak nyaman. Tapi dia menyalahkan keadaan yang menjadi rumit karna hal itu.
Sekitar pukul 8 malam, Zodi keluar dari kamarnya. Ia ingin pamit kepada Mia yang sekarang sedang ada di ruang kerjanya. Dengan hati-hati ia mengetuk pintu ruang kerja Mia.
“Ya? Masuk,” Mia mempersilahkan.
Zodi melongokkan kepalanya terlebih dahulu. Mengembangkan senyuman kepada wanita yang nampak sedang fokus di depan berkas-berkas.
“Oh, Zo. Kenapa? Tante fikir kamu tidur. Soalnya tadi kelihatan capek banget mukanya. Udah makan?” Mia langsung memberondong Zodi dengan pertanyaa.
“Maaf ganggu Tante lagi kerja. Aku udah makan kok, Tan. Baru aja,” jelas saja ia berbohong. Ia belum makan dan ia tidak merasa lapar sama sekali. Ia mendudukkan diri di sofa di ikuti oleh Mia yang duduk di sofa juga.
“Ooh... kenapa? Kayaknya mau ada yang di omongin?” tebak Mia.
Zodi membenarkan duduknya. Menarik nafas dalam kemudian menghembuskannya pelan. Ia menatap Mia dengan tatapan serius.
“Ehm, Tan, aku minta maaf sebelumnya. Bukan maksud gimana-gimana. aku mau minta ijin sekalian pamit sama Tante.”
“Pamit? Emangnya kamu mau kemana, Zo?” Mia nampak sangat terkejut mendengarnya.
“Aku mau ngekos aja, Tan. Deket kampus. Karna udah banyak juga kegiatan jadi biar gak jauh. Aku pengen belajar mandiri, Tan,” astaga, apakah Mia akan percaya dengan alasan klasik itu?
Beberapa saat, Mia hanya terdiam. Menatap lekat kepada Zodi. Kemudian ia menghela nafas perlahan.
“Udah bilang sama Papa kamu?”
Zodi mengangguk. Udah, Tan. Udah di kirim uangnya juga buat cari kosnya.”
“Udah dapet kosnya?”
Zodi kembali mengangguk. “Udah, Tan. Rencana besok mau langsung pindah.”
Hening lagi.
“Maaf ya kalau kamu kurang nyaman tinggal disini...”
“Oh, enggak, Tan. Enggak,” Zodi segera memotong ucapan Mia. “Aku sama sekali gak ngerasa begitu. Aku cuman, pengen mandiri aja, Tan. Ngelihat temen-temen kayaknya kok enak, gitu. Jadi pengen nyoba.”
Mia tau, sangat tau. Itu bukan alasan yang sebenarnya kenapa gadis itu memilih untuk pergi. Ia yakin ada alasan yang lebih daripada itu.
“Ya udah, gak apa-apa. Belajar mandiri itu juga bagus.”
“Makasih banyak, Tan, atas selama ini. Tante udah banik banget sama aku. Udah nampung aku tinggal di rumah ini. Maaf kalau selama ini aku banyak salah sama Tante,” air mata Zodi sudah menggenang. Suaranyapun terdengar bergetar.
“Kamu gak ada salah kok, sayang. Justru selama ini Tante seneng banget ada kamu disini. Rumah ini jadi gak kerasa sepi. Kalaupun kamu ngekos nanti, sering-sering main kesini ya? Rumah ini bakalan selalu terbuka buat kamu.”
“Iya, Tan. Makasih banyak, Tan. Aku janji bakalan sering main kesini kalau pas senggang.”
Zodi menggeleng. “Belum, Tan. Besok aja pas mau pergi. Lagian kayaknya Kak Igo sama Kak Ibra udah tidur. Gak enak mau ganggu,” tentu saja itu hanya bagian dari alasannya.
“Igo pasti kaget banget tau kamu mau pindah. Bakal kangen tuh anak sama kamu.”
Zodi mengerutkan keningnya. Menatap penuh tanya kepada Mia.
“Hehehe. Tante tau kok, Zo, kalau Igo pernah nembak kamu, kan? Dia udah cerita sama kami semua.”
“Kami semua?” tanya Zodi tidak mengerti. Maksud semua itu, apakah Ibra juga termasuk?
“Iya, Om sama Ibra juga tau.”
Hah?
‘Jadi selama ini Kak Ibra tau kalau Kak Igo nembak aku?’ bathin Zodi tidak percaya.
“Hehehehhee,” Zodi jadi gugup. Ia tidak berfikir kalau Igo akan seterbuka ini dengan keluarganya.
“Udah beberes? Mau Tante bantu?”
“Gak usah, Tan. Barangku gak banyak, kok.”
“Oh, ya udah kalau gitu.”
“Aku ke kamar dulu, Tan. Mau beres-beres.”
Mia mengangguk. Mengantarkan kepergian Zodi dengan tatapan piasnya. Ia sedih karna Zodi pergi dari rumah ini. Padahal mereka sudah sangat dekat.
Zodi duduk di tepi ranjang dengan jantung yang berdegub dengan sangat kencang. Memikirkan jika seluruh keluarga tau kalau Igo menyukainya. Terlebih Ibra.
Astaga, pantas saja Ibra semakin membencinya. Pria itu pasti mengira dia gadis jahat setelah menolak kakaknya dan malah menyatakan cinta padanya. Ibra pasti merasa kalau ia hanyalah pengganggu di rumah ini. Pantas saja Ibra tidak menyukai ia tinggal di rumah ini.
Zodi menutup wajahnya kuat. Lengkap sudah alasannya untuk menjauh dari pria itu. ia tidak akan lagi menjadi pengganggu. Baik di rumah ini, maupun ketika di kampus. Lagipula Ibra sudah tamat jadi kemungkinannya kecil untuk mereka bertemu di kampus.
Ketika teringat betapa Ibra sangat tidak menyukainya, hati Zodi menjadi sakit seperti di tusuk jarum. Sudah berkali-kali ia menghela nafas untuk menenangkan hatinya.
Zodi meraih koper dan tas ransel miliknya yang di simpan di atas lemari. Mulai mengeluarkan
pakaiannya dari dalam. Melipat dan menggulungnya kemudian menyusunnya. Ia membereskan semua barang barangnya tanpa ada yang tertinggal sedikitpun. Ia tidak ingin meninggalkan jejaknya hanya agar Ibra teringat dengan kebenciannya.
Sambil beberes, ia menyempatkan diri untuk berkirim pesan dengan teman-temannya. Mereka nampak antusias mendengar kalau besok Zodi sudah mulai kos. Karna itu berarti, waktu kebersamaan mereka jauh lebih banyak.
Selama ini, Dea dan Mala tidak berani datang ke rumah Mia karna segan. Apalagi sampai menginap. Kalau mereka mengantarkan Zodi pulang, mereka hanya sampai di depan rumah saja. Tidak pernah mau kalau di ajak masuk.
Hampir dua jam juga ia membereskan barang-barangnya. Setelah selesai, ia menenggelamkan diri ke dalam selimut. Menyiapkan mental untuk berpamitan kepada Igo dan Ranu besok pagi.
*
TBC...