Uncomfortable Love

Uncomfortable Love
BAB 51. Hanya Khawatir.



Fikiran Zodi benar-benar kalut setelah mendengar semuanya dari Kis. Ia terus berfikir alasan kenapa Ibra sampai berbuat sejauh itu untuk dirinya? Seberapapun ia berfikir, hanya satu alasan yang muncul di benaknya, bahwa Ibra begitu peduli dengannya.


Tapi kenapa?


Seperti yang ia tau selama ini kalau Ibra tidak terlalu suka dengan dirinya. Mungkin beberapa waktu belakangan ini memang sikap Ibra sedikit berubah kepadanya menjadi lebih hangat dan ramah. Dia harus bertemu dengan Ibra dan bertanya langsung dengan pria itu.


Pertanyaan-pertanyaan serta fikiran kalut Zodi membuatnya tidak fokus melihat jalan di depannya. Hingga tanpa sengaja dia menabrak trotoar dan membuat motornya terguling. Zodi terkapar di pinggir jalan raya.


“Mbak gak apa-apa?” tanya seorang pria yang menolongnya. Pria itu membantu Zodi untuk berdiri.


“Gak apa-apa, mas. Makasih udah bantuin, Mas,”


“Ayo saya antar ke rumah sakit, Mbak,” tawar pria itu kembali.


“Gak usah, Mas. Saya gak apa-apa, kok.” Tolak Zodi.


“Gak apa-apa gimana, mbak? itu tangan Mbak berdarah gitu.”


Setelah mendengar itu Zodi baru melihat ke telapak tangan kanannya yang tergores dan berdarah. pergelangan tangan kanannya juga terasa sakit sekali. Sepertinya ia memang harus ke rumah sakit.


Banyak yang membantu Zodi. Ada yang memboncengnya ke rumah sakit, ada juga yang membawakan sepeda motornya. Tidak butuh waktu lama sampai mereka sampai di IGD Rumah Sakit Sardjito karna memang Zodi jatuhnya tidak jauh dari sana.


Sesampainya di rumah sakit, tidak lupa Zodi mengucapkan terimakasih kepada orang-orang yang telah menolongnya. Mereka kemudian pergi setelah memastikan keadaan Zodi dan yakin kalau tidak apa-apa meninggalkan Zodi sendirian di sini. Karna mereka juga sedang buru-buru.


Zodi memejamkan matanya ketika perawat membersihkan lukanya. Ia mengeluh sakit di pergelangan tangannya dan segera di lakukan rongent.


“Pergelangan tangan kamu geser sedikit ini. Kita gips ya biar cepet sembuh,” ujar dokter yang menangani Zodi.


Zodi pasrah saja apapun yang akan di lakukan dokter pada dirinya. Dia sedang tidak dalam keadaan menolak untuk sembuh. Untungnya dia tidak perlu menginap di rumah sakit.


“Lho, kamu Zodi, kan?” tanya seseorang ketika Zodi bepapasan dengan seorang dokter pria. Wajahnya familiar di ingatan Zodi tapi ia tidak tau siapa itu.


“Iya, Dok,” jawab Zodi canggung.


“Kamu lupa sama aku, ya? Aku temennya Ibra. Padahal kita sering ketemu dulu.” Jelas dokter yang entah siapa itu Zodi bahkan tidak mengingat namanya. Ia hanya ingat pernah bertemu dengannya saja.


“Oh, iya, Dok.” Zodi berusaha untuk tersenyum agar dikira mengingat dokter itu.


“Kamu kenapa itu tangannya?”


“Ehm, abis jatuh dari motor, Dok. Pergelangannya terkilir sedikit,” jelas Zodi lagi.


“Ya ampun. Ya udah, langsung pulang aja terus istirahat yang cukup, ya. Ada yang nganterin kamu, gak? Kalau gak ada biar aku yang  nganterin kamu.”


“Gak usah, dok. Aku udah nelfon temenku tadi. Sebentar lagi mereka datang, kok.”


“Oh. Oke kalau gitu.”


Mereka kemudian mengakhiri obrolan itu dan berpisah. Zodi segera menuju ke apotek untuk mengambil obat. Cukup lama juga dia mengantri, setengah jam lebih. Setelah mendapatkan obatnya ia segera pergi dari sana. Menunggu Dea dan Mala yang akan menjemputnya.


Di ruang istirahat dokter koas, seorang pria tampan baru saja masuk dengan wajah lelahnya. Ia langsung merebahkan diri di sofa panjang yang ada di sana. Wajahnya nampak lelah sekali.


“Kenapa mukamu itu, Ib?” tanya teman Ibra.


“Capek, lah...” jawab Ibra.


“Udah nemuin Zodi, Ib?” tanya Derry.


Mendengar nama Zodi di sebut membuat Ibra menoleh kepada temannya itu. Wajahnya bingung penuh tanda tanya.


Dan Ibra segera melesat pergi keluar dari ruang istirahat mereka itu bahkan sebelum Derry menyelesaikan kalimatnya. Meninggalkan tatapan teman-temannya yang terheran-heran kecuali Derry.


“Zodi siapa?” tanya yang lain.


“Sepupu Ibra,” jawab Derry.


“Oooh.”


Sambil berjalan cepat, Ibra sambil menelfon Zodi. Sudah dua kali panggilan namun gadis itu masih tidak menjawab telfonnya.


Sementara Zodi yang sudah di depan loby hanya melihat layar ponselnya yang berkedip-kedip dengan nama Ibra yang tertera di sana. Ia sama sekali tidak berniat untuk mengangkatnya. Sama sekali. Ia justru malah mematikan ponselnya dan memasukkannya ke dalam tasnya.


Langkah Zodi seketika berhenti ketika ada seseorang yang memeluknya dengan tiba-tiba. Erat sekali. Ia bahkan tidak sempat melihat siapa itu. Yang jelas, itu adalah seorang pria.


“Kamu gak apa-apa? mana yang luka?” suara Ibra. Zodi tau betul itu.


Seketika Zodi menolak tubuh Ibra untuk lepas dari dirinya. Pria itu menatap khawatir kepada Zodi.


“Kak Ibra apa-apaan sih? Jangan kayak gini Kak. Main peluk-peluk seenaknya. Nanti kalau Mbak Nilam lihat, gimana?” dengus Zodi menatap Ibra kesal berampur marah. Wajahnya merona entah itu karna marah atau karna pelukan Ibra barusan.


“Zo, kamu gak apa-apa, kan?” Ibra tidak peduli kalau Zodi sedang marah atau apapun itu. ia hanya khawatir.


“Aku gak apa-apa, Kak. Cuma lecet sama keseleo dikit,” jawab Zodi sambil menyembunyikan tangan kanannya yang di balut gips ke belakang.


“Kamu tau gak aku tuh khawatir banget sama kamu. Syukurlah kalau kamu gak apa-apa. Apa ada yang lain yang luka? Mama sini aku lihat.” Ibra berusaha meraih tangan kanan Zodi namun Zodi menggeser tubuhnya dan semakin menyembunyikan tangannya.


“Kenapa?” tanya Zodi tiba-tiba. Tatapannya aneh menatap kepada Ibra.


“Kenapa apanya?”


“Kenapa Kakak khawatir sama aku? Memangnya Kakak siapa?”


Ibra ternganga mendengarnya. Ya, memangnya dia siapanya Zodi?


“Pertama Kakak benci sama aku, terus baik sama aku. Terus Kakak berantem sama Zayn buat ngebelain aku. Memangnya Kakak siapa berhak ngelakuin semua itu sama aku?!” intonasi Zodi bertambah tinggi. Menatap marah kepada Ibra.


“Zo?”


“Kakak bukan siapa-siapaku. Jadi gak perlu ikut campur urusan pribadiku. Apalagi sampai berantem sama orang yang deket sama aku segala.”


“Tapi dia cuman niat mainin kamu aja, Zo. Gak lebih.”


“Ya terus kenapa memangnya kalau dia memang niat mainin aku? Memangnya Kakak siapa main ikut campur urusan pribadiku sampai segitunya? Memangnya Kakak siapa?”


Air mata Zodi meleleh tanpa ijinnya. Kali ini ia benar-benar sudah meledak. Emosinya membuncah dan meluber kemana-mana. perasaan marahnya kepada Ibra tidak karuan. Bahkan dadanya naik turun seirama deru nafasnya yang memburu karna emosi.


Ibra terdiam seribu bahasa. Lidahnya tercekat di tenggorokan dan tidak mampu membela diri. Seketika dia merasa berlebihan terhadap Zodi. Ada rasa sakit di dadanya ketika melihat kemarahan Zodi padanya saat ini.




*


TBC...