
Zodi menghela nafas menghirup udara pedesaan yang asri. Udara sejuk pagi hari langsung menelusup masuk ke dalam hidungnya. Zodi mengeratkan jaket yang ia kenakan untuk mengahalau udara dingin.
Sudah hampir satu bulan Zodi berada di rumah. Setelah selesai ujian bulan lalu, ia langsung pulang ke kampung halamannya. Kepulangan yang di sambut oleh ibu dan n eneknya serta beberapa saudara dan tetangganya.
Kini, Zodi sudah berada di rumah. Rumah yang selalu menjadi tempatnya melabuhkan rindu kepada keluarganya.
“Udah sarapan, Zo?” tanya Lasmi yang baru pulang dari warung.
“Udah, Mak. Mamak beli apa?” tanya Zodi.
“Beli telur buat nanti siang,” jawab Lasmi.
“Ooh.” Zodi segera menggandeng erat lengan sang ibu dan mereka masuk ke dalam rumah bersama.
Zodi benar-benar senang bisa pulang ke kampung halaman. Melepas rindu kepada orang-orang yang di sayangi dan menyayanginya.
Disini, ia bisa melupakan sejenak kekalutannya. Melupakan tentang Ibra. Tentang ayahnya dan juga Ocha. Tentang perasaannya. Tentang rasa malunya. Dan semua hal yang sudah membuatnya sakit selama ini. Disini, hatinya perlahan sembuh. Rindunya yang terobati membantu hatinya pulih dari rasa sakit akibat cinta sepihak. Disini, banyak hal yang ia lakukan untuk membunuh waktu. Sehingga rasa sakit itu tidak punya celah lagi untuk singgah.
Sambil menimati waktu sore, Zodi, ibunya, neneknya dan beberapa tetangga juga saudaranya tengah asyik mengobrol di teras depan rumah. Beginilah kehidupan di kampung. Kalau sudah selesai mengurusi dapur, mereka akan berkumpul untuk sekedar mengobrol ringan. Mengobrolkan apa saja. Apalagi kini ada Zodi. Mereka seperti masih melepas rindu dengan gadis itu.
Sebuah mobil SUV berwarna putih berhenti tepat di depan rumah mereka. Mobil itu begitu menarik perhatian orang-orang itu. seorang pria muda yang mengenakan masker nampak turun dari dalam mobil dan menghampiri mereka. Pemuda itu melepas maskernya dan tersenyum ramah.
“Maaf, Buk. Saya mau tanya. Rumahnya Zodi, yang mana, ya?” tanya pemuda itu.
“Ini rumahnya Zodi. Itu anaknya lagi di dalam. Sebentar tak panggilkan dulu.” Jawab Lasmi yang langsung berdiri hendak memanggil Zodi.
Belum sempat Lasmi masuk untuk memanggil anaknya, Zodi sudah keluar lebih dulu dengan memeluk sebuah toples berisi keripik singkong yang baru tadi pagi ia buat bersama dengan sang ibu.
“Nah ini dia anaknya,” ujar Lasmi.
Zodi mematung ketika melihat siapa yang ada di depan rumahnya. Ia seperti mimpi melihat Ibra di sana.
“Kak Ibra?” desis Zodi dengan tatapan tidak percaya. Toples yang di peluknya sudah melorot. Untung saja tidak jatuh.
“Siapa Zo? Guanteng polll.” Entah selorohan siapa itu. Zodi tidak memperhatikan. Tatapannya hanya fokus kepada Ibra yang sedang tersenyum lebar padanya.
“Hufh. Akhirnya ketemu juga,” ujar Ibra. Wajah pria itu nampak sangat lega.
“Kok bisa ada di sini?” Zodi masih terkejut bukan main.
“Ya memang mau ke sini.” Santai sekali jawaban Ibra itu. dengan masih tersenyum lebar pula.
“Siapa, Zo?” Lasmi yang sejak tadi memperhatikan kini bertanya.
“Oh, ehm. Ini, Mak. Kak Ibra. Anaknya Tante Mia sama Om Ranu,” terang Zodi. Kesadarannya sudah terkumpul. Ia meletakkan toples ke atas meja.
“Tante Mia yang kamu tinggal di rumahnya?” pekik Lasmi.
Zodi mengangguk. “Iya, Mak.”
“Ya ampun. Maaf ya. Tadi Mamak gak perhatikan.” Lasmi segera menyambut ramah tangan Ibra.
Ibra tidak sendiri. Ia bersama dengan seorang sopir yang di minta untuk mengantarkannya.
“Ayo, masuk dulu.” Lasmi menarik tangan Ibra untuk masuk. Pria itu langsung masuk mengikuti Lasmi. Begitu juga dengan temannya.
Zodi?
Dia masih mematung. Masih menganggap kalau ia pasti sedang bermimpi. Rasanya tidak mungkin kalau Ibra ada di rumahnya saat ini.
“Zo?! Kok malah ngelamun. Itu tamumu udah masuk itu.” salah satu sepupu Zodi membuyarkan lamunannya.
“Oh? Eh, iya.” Zodi gugup dan segera masuk ke dalam rumah.
Dengan terpaksa Zodi menyeret kakinya untuk ikut duduk di kursi, di dekat neneknya. Menatap penuh selidik kepada Ibra yang masih tetap tersenyum padanya.
Ya tuhan. Ini bukan mimpi.
“Oh iya, ini neneknya Zodi.” Lasmi memperkenalkan wanita tua yang duduk di sebelah Zodi.
Ibra kemudian menyalami Nenek dengan ramah.
“Jadi ini anaknya Bu Mia? katanya kembar, ya?” tanya Nenek.
“Iya, Nek. Tapi Abang saya lagi kuliah di luar negeri,” terang Ibra.
“Ooh. Zo, bikinin minum, dong.” Titah Lasmi kepada putrinya yang sejak tadi hanya terbengong saja.
Zodi hanya mengangguk pelan kemudian berdiri dari duduknya. Ia pergi ke dapur untuk membuatkan minuman. Sungguh, ia masih tidak percaya kalau Ibra benar-benar datang kemari. Kenapa? Kenapa pria itu datang kesini? Ada perlu apa?
Tidak berapa lama kemudian, Zodi kembali ke ruang tamu dan menghidangkan minuman untuk tamu mereka.
“Gimana kabarnya, Zo? Lama gak ketemu makin cantik aja.”
Hah? Apa? apa tadi itu benar keluar dari mulut Ibra? Apa Ibra barusan bilang kalau dia cantik?
‘Kesurupan apa orang ini?’ batin Zodi.
“Jadi kok Nak Ibra bisa sampai sini?” tanya Nenek.
“Memang sengaja mau kemari, Nek. Maaf kalau kedatangan kami mengejutkan Ibu dan Nenek. Tapi bolehkan kalau kami menginap disini?” ujar Ibra.
“Walah, ya boleh banget dong. Tapi ya ini, tempatnya sederhana. Semoga Nak Ibra betah ya?” Lasmi menimpali.
“Insha allah, Buk.”
Kepala Zodi masih abu-abu. Fikirannya buyar kemana-mana. bagaimana ia bisa fokus di tengah kedatangan Ibra yang tiba-tiba seperti ini? Tanpa pemberitahuan tiba-tiba mucul begitu saja. Apa tujuannya?
“Kok Kak Ibra bisa tau rumahku?” Zodi masih menyelidik. Curiga dengan kedatangan Ibra.
Yang sebenarnya Zodi rasakan adalah kesal setengah mati. Baru saja hatinya bisa di bilang sembuh dari luka tentang Ibra. Pria itu malah tiba-tiba muncul di hadapannya seperti ini. Tentu saja hal ini membuat hatinya berantakan.
“Gampang. Tanya alamat sama Pakde.” Jawab Ibra santai.
Wah, tidak habis fikir. Ibra sampai bertanya ke Pakde Ito dimana alamat mereka. Sepertinya niat kedatangan Ibra tidak main-main.
Zodi masih tidak tau harus bagaimana menanggapi kedatangan Ibra. Ia terkejut, itu sudah pasti. Bahkan lidahnya sampai kelu di buatnya.
Sementara Lasmi dan Nenek sedang asyik mengajak Ibra dan rekannya mengobrol kesana kemari, Zodi tetap diam saja. Masih menebak-nebak maksud kedatangan Ibra jauh-jauh kemari.
“Jadi Nak Ibra ini dokter? Keren sekali.” Puji Nenek berbinar.
“Iya, Nek. Lagi koas di rumah sakit.”
Obrolan itu terus berlanjut hingga makan malam. Dan setelah makan malam, mereka kembali mengobrol ringan. Sepertinya banyak sekali bahan obrolan Ibra kali ini. Tidak seperti biasanya yang lebih suka diam. Kali ini Ibra benar-benar sudah menjelma seperti Igo. Bawel.
*
TBC...