Uncomfortable Love

Uncomfortable Love
BAB 32. Rencana Tinggal Rencana.



Baru satu jam perjalanan, Mbak Yani yang duduk sendirian di belakang sudah terdengar mendengkur halus. Dasarnya dia mabuk perjalanan, jadi semalam dia minum obat tidur supaya tidak mabuk di jalan.


Menyisakan dua orang yang kini terasa asing dan canggung satu sama lain. Zodi sengaja tidak mau membuka pembicaraan karna tidak mau Ibra semakin membencinya. Ia tidak mau jadi gadis bawel. Jadi dia hanya diam saja.


“Mau beli apa gitu?” suara Ibra memecah keheningan setelah beberapa waktu terdiam. Membuat Zodi menoleh. Menatap pria itu seolah bertanya, ‘nanyain aku?’.


“Ehm, enggak usah, Kak.”


Kembali hening.


Ini sungguh berbeda dengan waktu yang sudah-sudah. Kalau kemarin-kemarin Zodi akan sedikit bawel mengajak Ibra bicara walaupun yang di ajak bicara hanya menjawab seadanya. Kali ini, Zodi juga jadi pendiam. Niat ingin menghindari Ibra, malah mereka pergi bersama sekarang. Kini ia malah terjebak dengan pria yang membencinya.


Ternyata Ibra tidak mengindahkan penolakan Zodi. Ia tetap berhenti di sebuah minimarket. Memarkirkan mobilnya di sana kemudian turun dan masuk kedalam minimarket tersebut.


Zodi tidak ikut. Gengsi karna tadi sempat menolak tawaran Ibra. Padahal ia ingin membeli minuman dingin dan beberapa camilan.


Sambil menunggu Ibra, Zodi berusaha mengusir bosan dengan memejamkan matanya. Berharap ia bisa terlelap seperti Mbak Yani di belakang. Tapi tidak, bahkan ketika Ibra kembali dari minimarket, ia masih tidak bisa tidur.


“Nah.” Ibra menyodorkan seplastik makanan untuk Zodi. Sementara ia hanya mengambil sebotol minuman isotonik untuk dirinya.


“Makasih, Kak...”


Ingin menolak tapi tidak enak, akhirnya Zodi menerimanya saja. Ia mengintip plastik itu. ada minuman teh dingin dan beberapa camilan yang sering ia makan. Ia mengambil satu botol minuman dan sebungkus keripik tempe kesukaannya. Kemudian menaruh sebagian di atas kardus di belakang. Untuk Mbak Yani nanti kalau wanita itu sudah bangun.


Ibra menenggak minumannya hingga setengah. Mengancingkan sabuk pengaman, kemudian kembali melajukan mobilnya.


Sampai sekarang, Zodi mengira kalau Ibra tidak tau Igo menyukainya. Itu membuatnya sedikit lega. Padahal, Ibra tau semuanya.


Perjalanan ke kota bawang membutuhkan waktu sekitar kurang lebih 4 jam-an. Pukul 1 siang, mereka sudah tiba di kediaman keluarga Mbak Yani. Seorang wanita renta datang tergopoh-gopoh menyambut kedatangan mereka.


“Nek, kami datang,” ujar Mbak Yani. Ia memeluk erat wanita itu dengan kerinduannya.


“Gimana kabarmu, Nduk?” tanya Nenek.


“Baik, Nek. Ini, aku bawa teman. Namanya Zodi. Saudaranya Buk Mia. Mbak Zodi, ini nenek saya. Nek Siti.” Mbak Yani memperkenalkan Zodi kepada neneknya.


“Oh, iya. Salam kenal, Nek. Saya Zodi.”


Zodi menyalami dan mencium tangan keriput itu. Senyuman hangat Nek Siti mengingatkannya pada neneknya di kampung. Nek Siti juga mengelus punggung Zodi pelan.


“Apa kabar, Nek?” tanya Ibra  yang juga menyalami Nek Siti.


“Nak Ibra.Kabarnya sehat, to?”


“Alhamdulillah sehat, Nek. Nenek sendiri gimana? Kayaknya makin tambah muda aja.”


Sumpah, selorohan Ibra itu membuat Zodi ternganga. Sikapnya berubah hangat ketika berhadapan dengan Nek Siti. Ibra seperti sangat menghormati wanita tua itu.


“Ayo, ayo, masuk,” ajak Nek Siti kemudian.


“Tasnya nanti aja di ambilnya, Mbak Zodi. Kita masuk dulu,” Mbak Yani juga ikut mengajaknya.


Sementara Ibra mengangkat kardus besar dari dalam mobilnya. Membawanya masuk dan meletakkannya di atas meja ruang makan. Zodi hanya memperhatikan saja. Sepertinya Ibra sudah hafal betul seluk belum rumah ini.


“Kalian belum makan siang, kan? Nenek udah nyiapin makan siang buat kalian.”


“Wah, kangen banget masakan Nenek.” Mbak Yani sudah tidak sabar. Ia beranjak pergi ke dapur untuk menyiapkan makan siang untuk mereka. Tidak tinggal diam, Zodi juga ikut membantu.


“Aku bantu, Mbak,” tawar Zodi.


“Waduh. Mbak Zodi duduk aja di depan. Abisin minumannya dulu. Gak usah bantu juga gak apa-apa. Mbaknya juga pasti capek di jalan.”


Akhirnya Mbak Yani membiarkan Zodi membantunya. Menyiapkan makan siang untuk mereka. Setelah semuanya siap, Mbak Yani memanggil neneknya dan juga Ibra untuk segera makan siang bersama.


“Mas Ibra nanti tidurnya di kamar depan ya,” ujar Mbak Yani.


Lha? Maksudnya?


Zodi hampir saja tersedak makanannya sendiri. ia menatap Ibra yang duduk di hadapannya dengan tatapan penuh tanya. Nampak pria itu mengangguk santai sambil memakan makanannya.


“Kak Ibra nginep sini?” Zodi tidak tahan untuk tidak bertanya. Sungguh, dia penasaran sekali. Takut kalau rencana liburannya berantakan karna keberadaan Ibra.


Tapi, jantungnya serasa melorot ketika melihat pria itu mengangguk. Sepertinya Ibra benar-benar akan menginap juga.


“Kakak beneran gak pulang?” Zodi masih berharap kalau Ibra akan meralat anggukannya.


“Kenapa? Gak boleh?” tanya Ibra.


“Bukan gitu... Cuma nanya kok.”


Sial, kenapa Ibra harus ikut menginap? Sempurna sudah liburannya pasti akan berantakan. Untuk beberapa hari ke depan ia akan terus bersama dengan Ibra yang notabenenya sangat tidak menyukainya. Memikirkannya saja membuat Zodi lemas. Percuma ia pergi kalau seperti ini.


Zodi jadi tidak berselera untuk menghabiskan makanannya. Berhubung ia tidak tega dengan Nek Siti yang sudah susah payah memasak untuk mereka, ia memaksa makanan itu masuk ke dalam mulutnya.


Selesai makan, Zodi membantu Mbak Yani mencuci piring. Setelah itu mereka duduk di depan rumah, di bawah pohon rambutan. Di sana ada kursi bambu yang sengaja di taruh untuk bersantai.


“Nenek cuman tinggal sendirian, Mbak?” pertanyaan yang sudah sejak tadi di simpan akhirnya keluar juga.


“Enggak. Ada Tante yang nemenin. Tapi kemarin Tante sama suaminya lagi mudik ke Palembang ada acara keluarga. Minggu depan baru pulang.”


“Oohh... enak banget udaranya disini. Masih asri. Masih banyak pohon.”


“Nanti sore mau jalan-jalan? Keliling daerah sini, biar gak bosen.”


“Boleh banget. Heheheheheee.”


“Ayo masuk Mbak, saya tunjukin kamarnya Mbak Zodi. Sekalian biar saya ambilin barangnya Mbak dari mobil.”


Zodi menurut. Ia kembali mengikuti Mbak Yani masuk ke dalam rumah.


“Nanti Mbak Zodi bisa tidur di sini, ini kamar saya bisa Mbak Zodi pakai,” terang Mbak Yani menunjukkan kamar nomor dua dari pintu utama. “Berani kan tidur sendiri?”


“Lho Mbak Yani tidur dimana?”


“Saya tidur sama Nenek. Udah biasa kalau pulang tidurnya sama Nenek. Biar melepas kangen.”


“Ooh, gitu.”


“Kalau Mas Ibra tidur di kamar sebelah. Kalau liburan kesini memang biasanya Mas Ibra sama Mas Igo tidurnya di kamar depan.”


Zodi hanya mengangguk menanggapi. Itu berarti kamar mereka bersebalahan.


Sore itu, Mbak Yani mengajak Zodi berkeliling di sekitar rumah. Banyak sekali pemuda-pemuda di kampung itu yang meminta berkenalan dengan Zodi. Tentu saja tidak di tanggapi oleh Mbak Yani maupun Zodi.




*


TBC...